Ada Apa dengan Bakar Tongkang 2026? Lautan Manusia Tahun Lalu Kini Tak Terlihat

Minggu, 05 Juli 2026

BUALBUAL.com - Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), untuk menyaksikan puncak Festival Bakar Tongkang 2026, Rabu (1/7/2026). Tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang telah berusia ratusan tahun itu kembali berlangsung meriah dan khidmat, meski jumlah pengunjung dinilai tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Perbedaan suasana terlihat jelas dibanding Festival Bakar Tongkang 2025 yang dipadati lautan manusia. Tahun ini, arus pengunjung masih ramai, namun tidak sampai menyebabkan kepadatan seperti yang terjadi pada tahun lalu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Rohil, H Fauzi Efrizal, mengakui antusiasme masyarakat pada penyelenggaraan tahun ini mengalami penurunan.

“Kalau animo masyarakat sepertinya berkurang. Kalau tahun lalu luar biasa padatnya lautan manusia, tapi kali ini tidak. Kita jalan pun santai, tidak berdesakan,” ujar Fauzi usai mengikuti prosesi puncak Bakar Tongkang.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan festival yang berjalan aman, tertib, dan lancar. Menurutnya, Bakar Tongkang bukan sekadar tradisi budaya, melainkan juga motor penggerak ekonomi masyarakat yang mampu menghadirkan perputaran uang cukup besar setiap tahunnya.

Selama festival berlangsung, aktivitas ekonomi masyarakat terlihat meningkat. Pelaku UMKM, pedagang kaki lima, penyedia jasa transportasi, hingga sektor perhotelan dan penginapan turut merasakan dampak positif dari kedatangan wisatawan yang memadati Bagansiapiapi.

“Ini tidak terlepas karena event ini juga merupakan bagian dari kalender nasional,” katanya.

Fauzi berharap penyelenggaraan Festival Bakar Tongkang pada tahun-tahun mendatang dapat kembali menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga suasana kemeriahan yang pernah tercipta dapat terulang.

“Kami harap ke depan bisa lebih semarak lagi,” tambahnya.

Prosesi puncak festival diawali dengan arak-arakan replika kapal tongkang yang menjadi simbol perjalanan leluhur masyarakat Tionghoa. Kapal yang telah dirakit sejak beberapa waktu sebelumnya dibawa keluar dari area Klenteng Ing Hok King dan diarak melewati ruas-ruas jalan utama Kota Bagansiapiapi.

Sepanjang perjalanan, ribuan pasang mata menyaksikan dengan penuh antusias. Warga berdesakan di sepanjang jalan untuk mengabadikan momen yang hanya berlangsung sekali dalam setahun tersebut.

Setelah tiba di lokasi pembakaran, replika tongkang dipasang menggunakan pancang penyangga agar tetap kokoh selama prosesi ritual berlangsung. Sejumlah peserta kemudian naik ke atas tongkang untuk memasang perlengkapan terakhir, termasuk dua tiang utama yang menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.

Ketika seluruh rangkaian persiapan selesai, sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa dan pejabat daerah turut menaiki replika tongkang sebelum api mulai dinyalakan.

Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan melahap seluruh bagian tongkang yang terbuat dari kayu, papan, serta lapisan kertas. Asap tebal membumbung tinggi ke langit, menciptakan pemandangan spektakuler yang disambut sorak-sorai pengunjung.

Momen paling ditunggu akhirnya tiba saat tiang utama tongkang mulai bergoyang sebelum roboh. Tahun ini, arah jatuh tiang utama mengarah ke barat. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, arah tersebut diyakini sebagai pertanda baik bagi sektor usaha kelautan karena menghadap langsung ke perairan Bagansiapiapi.

Terlepas dari berkurangnya jumlah pengunjung dibanding tahun lalu, Festival Bakar Tongkang 2026 tetap menjadi magnet budaya yang berhasil menyatukan tradisi, pariwisata, dan perputaran ekonomi masyarakat dalam satu perhelatan akbar yang sarat makna.