Ada Masalah di Rantai Pasok? Bupati Afni Turun Langsung Atasi Harga Ayam di Siak

Kamis, 20 Agustus 2026

BUALBUAL.com - Harga ayam ras di Kabupaten Siak mengalami kenaikan sejak pekan pertama Agustus 2026. Kondisi ini mulai dikeluhkan masyarakat, khususnya para pedagang rumah makan yang bergantung pada pasokan ayam sebagai bahan baku menu sehari-hari.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Siak menelusuri persoalan pasokan ayam dari tingkat peternak hingga distribusi ke pasar.

Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si mengatakan, kenaikan harga ayam diduga berkaitan dengan terbatasnya pasokan di pasaran. Berdasarkan data yang diterima Pemkab Siak, produksi ayam ras di daerah tersebut hanya sekitar 370 ton, sementara kebutuhan pasar mencapai sekitar 630 ton.

“Sekitar 370 ton ini ada pun di peternak di Siak itu tidak bisa dilepas ke pasar, karena kebutuhan di pasar ada sekitar 630 ton, maka pasti akan terjadi inflasi,” kata Afni saat memimpin rapat koordinasi inflasi di Zamrud Room, Kamis (20/8/2026).

Menurut Afni, persoalan pasokan tersebut mulai berdampak langsung kepada masyarakat. Keluhan terutama datang dari para pelaku usaha rumah makan yang membutuhkan ayam dalam jumlah cukup untuk operasional sehari-hari.

“Masyarakat sudah teriak, terutama pedagang-pedagang rumah makan. Kami meminta keseriusan seluruh pihak untuk mencari tahu di mana persoalan rantai pasok ini,” ujarnya.

Afni menjelaskan, sebagian produksi ayam lokal telah diplot oleh perusahaan penyuplai. Akibatnya, tidak seluruh stok ayam yang tersedia dapat langsung masuk ke pasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Karena itu, Pemkab Siak akan menelusuri mata rantai distribusi guna mengetahui titik persoalan yang menyebabkan pasokan ayam menjadi terbatas.

Pemkab Siak juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau, perusahaan, serta para penyalur ayam agar sebagian stok dapat disalurkan ke pasar. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pasokan sekaligus menekan harga ayam di tingkat konsumen.

Bukan karena MBG

Bupati Afni juga menepis anggapan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab utama kenaikan harga ayam di Siak.

Berdasarkan data Pemkab Siak, kebutuhan ayam untuk program tersebut hanya sekitar 17 ton ketika menu ayam tersedia.

“Menurut saya, bukan karena faktor MBG. Faktor MBG ini hanya sekitar 17 ton ketika ada menu ayam,” ungkap Afni.

Meski Kabupaten Siak belum tercatat mengalami inflasi berdasarkan data BPS dan bahkan sempat mengalami deflasi pada bulan sebelumnya, pemerintah daerah tetap tidak ingin mengabaikan keluhan masyarakat terkait kenaikan harga ayam.

Pemkab Siak meminta organisasi perangkat daerah terkait menyiapkan data secara rinci mengenai produksi, distribusi, dan kebutuhan ayam. Data tersebut nantinya akan disinkronkan dengan Pemerintah Provinsi Riau sebelum disampaikan kepada Kementerian Pertanian dan lembaga terkait lainnya.

“Kemandirian pangan di kabupaten ini sudah kami minta agar seluruh dinas terkait menseriusi ini,” tegas Afni.