
BUALBUAL.com - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau Syahrial Abdi mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan di zona inti kawasan Candi Muara Takus yang menyimpan sejumlah bangunan candi utama. Bahkan, berdasarkan informasi terbaru, ditemukan pula situs baru yang berada tidak jauh dari kompleks utama.
“Hari ini kita sedang berada di zona inti kawasan Candi Muara Takus. Di sini terdapat empat bangunan candi utama dan berdasarkan informasi terbaru, telah ditemukan situs baru yang berjarak sekitar 100 meter dari candi ini,” kata Sekda Syahrial Abdi.
Dijelaskan, ketertarikan Menteri Kebudayaan terhadap Candi Muara Takus tidak terlepas dari nilai sejarah kawasan tersebut yang memiliki keterhubungan dengan perjalanan sejarah Nusantara dan kerajaan-kerajaan Melayu tua. Historis itu juga menjadi salah satu alasan penting untuk melihat Candi Muara Takus dalam konteks sejarah yang lebih luas.
“Kehadiran Menteri Kebudayaan Bapak Fadli Zon di Candi Muara Takus ini didasari oleh ketertarikan beliau terhadap sejarah besar kawasan ini, yang memiliki keterhubungan erat dengan sejarah Nusantara serta kerajaan-kerajaan Melayu tua,” jelasnya.
Diungkapkan, pihak Kemenbud RI sebelumnya juga telah melakukan pemugaran dan penataan di Kawasan Muaro Jambi yang secara historis memiliki keterkaitan erat dengan Candi Muara Takus. Karena itu, kunjungan Menteri Kebudayaan menjadi momentum untuk melihat langsung kondisi salah satu peninggalan sejarah di Riau.
Tidak hanya mengamati bangunan candi, peninjauan juga diisi dengan pembahasan mengenai sejarah, kawasan, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan keberadaan Candi Muara Takus.
“Oleh karena itu, Bapak Menteri meluangkan waktu secara khusus untuk meninjau langsung Candi Muara Takus. Dalam kunjungan tadi, kami telah membedah sejarah kawasan ini,” ungkapnya.
Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami Candi Muara Takus secara lebih menyeluruh, baik dari sisi sejarah maupun pengelolaan kawasan cagar budaya. Ia menerangkan, sejumlah aspek teknis turut menjadi bahan pembahasan dalam kunjungan tersebut. Di antaranya menyangkut luas kawasan, status lahan, hingga perjalanan pemugaran yang pernah dilakukan terhadap kompleks Candi Muara Takus.
“Mulai dari mendiskusikan luas wilayah, status lahan, hingga sejarah pemugaran terakhir yang dilakukan pada tahun 1978 hingga 1987, artinya memakan waktu kurang lebih sembilan tahun,” terangnya.
Rentang pemugaran itu menunjukkan bahwa upaya menjaga keberadaan situs bersejarah membutuhkan proses panjang dan penanganan yang berkelanjutan. Selain berdiskusi mengenai sejarah dan pengelolaan kawasan, Menteri Kebudayaan juga melihat secara langsung kondisi fisik bangunan Candi Muara Takus.
Peninjauan tersebut mencakup perhatian terhadap material penyusun candi, termasuk jenis batuan yang digunakan dalam konstruksi bangunan bersejarah itu.
“Bapak Menteri juga secara langsung meninjau fisik bangunan hingga jenis batuan yang digunakan. Hal ini menunjukkan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam memperhatikan pemeliharaan serta penataan Candi Muara Takus ke depan,” tambah Sekda Syahrial Abdi.
Menurutnya, perhatian tersebut penting untuk memastikan keberadaan situs tetap terjaga sekaligus dapat dikembangkan secara tepat.
Pemerintah Provinsi Riau menyambut baik perhatian pemerintah pusat terhadap Candi Muara Takus. Selain sebagai warisan sejarah dan cagar budaya, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata berbasis sejarah dan kebudayaan.
“Melalui peninjauan langsung oleh Pak Menteri, kita berharap Candi Muara Takus dapat dikembangkan tidak hanya sebagai situs cagar budaya yang terawat, tetapi juga menjadi ikon pariwisata utama di Provinsi Riau." pungkasnya.