
BUALBUAL.com - Aksi demonstrasi yang digelar Cipayung Plus Kota Pekanbaru di depan Kantor DPRD Provinsi Riau pada Senin (22/6/2026) berujung ricuh. Dalam insiden tersebut, seorang peserta aksi dilaporkan mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Awal Bros Sudirman setelah diduga menjadi korban pemukulan oleh oknum yang belum diketahui identitasnya.
Menanggapi kejadian itu, Anggota DPRD Riau dari Fraksi PDI Perjuangan, Andi Darma Taufik, mengaku telah menerima laporan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pekanbaru terkait dugaan tindakan kekerasan yang terjadi saat aksi berlangsung.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, dugaan pemukulan dilakukan oleh oknum tak dikenal yang memiliki ciri-ciri menyerupai anggota kepolisian. Namun demikian, kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah,” ujar Andi Darma.
Ia meminta Kepolisian Daerah (Polda) Riau segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh agar peristiwa tersebut dapat diungkap secara transparan. Menurutnya, selama ini berbagai aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Riau berlangsung aman dan kondusif tanpa adanya kekerasan fisik terhadap peserta aksi.
“Selama ini demonstrasi di depan kantor DPRD berjalan damai. Tidak pernah ada insiden pemukulan hingga menyebabkan peserta aksi harus dirawat di rumah sakit. Karena itu, kami meminta Kapolda Riau mengusut tuntas kasus ini agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian tidak terganggu akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Cabang IMM Kota Pekanbaru, Rahmatul Aufa, menjelaskan bahwa kericuhan bermula ketika salah seorang kader IMM hendak membakar spanduk sebagai bentuk ekspresi simbolik dalam aksi demonstrasi.
Menurut Rahmatul, pada saat itu aparat keamanan yang berjaga di lokasi bergerak masuk ke belakang barisan massa dengan cara yang dinilai tidak proporsional dan tidak sesuai prosedur pengamanan aksi unjuk rasa.
“Pergerakan aparat secara tiba-tiba memicu kepanikan dan kekacauan di tengah massa. Dalam situasi tersebut, botol yang dipegang kader kami terlepas dan terlempar ke badan jalan. Kami menegaskan bahwa hal itu bukan tindakan yang disengaja, melainkan akibat tekanan fisik yang muncul karena pergerakan aparat ke dalam kerumunan,” jelasnya.
Di tengah situasi yang memanas itu, dugaan aksi pemukulan terhadap salah seorang peserta demonstrasi pun terjadi. Korban disebut mengalami pukulan di bagian wajah, tepatnya di sekitar mata dan pelipis, hingga terjatuh ke aspal dan hampir kehilangan kesadaran.
“Berdasarkan keterangan sejumlah saksi dari massa aksi, termasuk kader GMNI dan PMII, pelaku kekerasan merupakan seorang pria bertubuh besar dengan tinggi sekitar 178 sentimeter. Ia mengenakan pakaian serba hitam, berambut sebahu, dan memakai ikat kepala,” ungkap Rahmatul.
Ia menambahkan, setelah kejadian tersebut, orang yang diduga melakukan pemukulan terlihat berlindung di area pagar Gedung DPRD Provinsi Riau.
“Beberapa saksi mata menyebut individu itu bergerak dari arah yang sama dengan posisi aparat berpakaian preman atau intelijen. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai identitasnya, tetapi kami mendesak pihak berwenang untuk segera mengidentifikasi dan mempertanggungjawabkan tindakan tersebut,” pungkasnya.