
BUALBUAL.com - Rintik gerimis yang membasahi kawasan Komplek Trans Jasa Industri, Jalan Cipta Karya, Pekanbaru malam itu tidak menyurutkan semangat belasan anak muda. Di dalam sebuah kandang yang hangat, riuh suara unggas bersahut-shutan menyambut kedatangan 12 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri).
Menggenggam erat tray atau papan telur di tangan, jemari mereka dengan perlahan dan hati-hati memunguti butir-butir telur puyuh yang berserak di rak kandang. Bagi para mahasiswa semester 4 Program Studi Ilmu Komunikasi ini, berada langsung di pusat peternakan DeKings Farm dan Kelompok Ternak Pemuda Trans Bersatu memberikan sensasi yang jauh berbeda ketimbang sekadar membeli telur di pasar tradisional.
Aroma khas pakan konsentrat yang bercampur serbuk sekam menjadi latar belakang dari sebuah pengalaman sensorik yang baru. Bunyi klek... klek... klek... saat telur-telur puyuh bertotol unik itu saling bersentuhan di atas tray, seolah menjadi melodi penanda bahwa komoditas yang mereka panen benar-benar segar dan padat.
“Ihh... Telurnya masih anget, kadang masih ada hangat badan si puyuh. Cangkangnya totol-totol, telurnya glowing,” celetuk salah seorang mahasiswi sembari tersenyum takjub memandangi hasil panen di tangannya.

Rasa penasaran khas anak muda pun beralih menjadi ketertarikan mendalam akan dunia peternakan. Sahut-sahutan pertanyaan mulai mengalir dari para mahasiswa yang malam itu didampingi langsung oleh petugas Bidang Mutu, Wahidun, serta petugas Bidang Kemitraan dan Niaga, Rian Hidayat.
“Pak, boleh tiap hari panen telurnya? Boleh pegang burung puyuhnya? Ini bertelur tiap hari ya, Pak?” tanya mahasiswa lainnya dengan antusias.
Namun, turunnya tim KKN yang mengusung nama "FISIP Berdampak Membangun Negeri" ini bukan sekadar untuk rekreasi memanen telur. Mereka datang membawa misi observasi yang lebih dalam, utamanya mengenai strategi ketahanan pangan dan peluang bisnis rumahan di tingkat tapak.
Di bawah temaram lampu kandang, diskusi interaktif pun bergulir hangat bersama Ketua Kelompok Ternak, Raja Adil Siregar, serta Ketua RT setempat, Soleman, yang membina langsung kelompok peternak tersebut.
Mahasiswa mulai memetakan berbagai tantangan nyata yang dihadapi peternak lokal, mulai dari fluktuasi harga pakan, risiko harga jual telur yang anjlok, hingga siasat menjaga daya beli masyarakat yang terkadang lesu di pasaran.

"Kondisi pasar dan penjualan bagaimana Pak? Apakah langsung dilempar ke agen atau seperti apa ya?" tanya M. Favian Abdullah, Ketua Kelompok KKN FISIP Unri tersebut, membuka ruang dialog mengenai rantai pasok niaga puyuh.
Menjawab pertanyaan kritis tersebut, Raja Adil Siregar memaparkan bahwa kunci keberlanjutan bisnis mereka terletak pada kedekatan hubungan dengan konsumen dan penguatan ekonomi sirkular di lingkungan sekitar.
"Pasar kita langsung ke konsumen atau warung-warung sekitar. Tentunya harga dapat bersaing karena telur yang dijual dalam kondisi fresh. Kami juga melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat sekitar untuk penjualannya," jelas Raja dengan lugas di hadapan para mahasiswa.
Lebih jauh, Raja menguraikan bahwa potensi ekonomi dari budidaya puyuh petelur ini tidak hanya berhenti pada butiran telurnya saja. Ketika masa produktif burung puyuh telah habis, mereka dapat dijual sebagai puyuh afkir untuk kebutuhan daging olahan.
Bahkan, kotoran hewan (kohe) dari puyuh tidak dibuang percuma, melainkan diolah menjadi pupuk organik bermutu tinggi yang langsung disalurkan untuk menyokong program ketahanan pangan skala rumah tangga yang digerakkan oleh kaum perempuan di lingkungan tersebut.
"Manfaatnya banyak, telurnya bisa dijual. Lalu kalau sudah afkir bisa jadi pedaging, dan kotorannya kita jadikan pupuk untuk tanaman program ibu PKK. Sekarang ini sudah ada beberapa kita uji coba, salah satunya penanaman cabai dan sayuran dalam beberapa bulan terakhir, rencana akan dikembangkan lebih banyak," tambah Raja.
Tak hanya itu, jika ada pesanan telur olahan untuk acara-acara tertentu, ibu-ibu di lingkungan RW setempat juga diberdayakan untuk mengelolanya, menciptakan ekosistem bisnis rumahan yang inklusif.
Kehadiran dan kepedulian para mahasiswa ini mendapat apresiasi mendalam dari Ketua RT setempat, Soleman. Bagi Soleman, kunjungan lapangan ini merupakan momentum penting untuk mempertemukan dunia akademik dengan realitas sosiologis di masyarakat, sekaligus membuka peluang kolaborasi jangka panjang untuk melahirkan pendapatan alternatif bagi warga sekitar yang minim risiko.
"Ini adalah momentum penting. Kami yang berkecimpung di peternakan ini tentunya menyambut baik kehadiran adik-adik KKN. Bisa bertukar pikiran dan berkolaborasi ya," tutur Soleman penuh harap.
Soleman berharap, rangkuman data lapangan, dinamika harga, hingga proses hulu-hilir yang dipelajari langsung oleh 12 mahasiswa FISIP Unri ini dapat menjadi modal berharga. Melalui bekal pengalaman empiris ini, para mahasiswa diharapkan mampu merumuskan program kerja pemberdayaan masyarakat yang lebih solutif, adaptif, dan tepat sasaran selama masa pengabdian mereka di tengah masyarakat.
Daftar Mahasiswa KKN FISIP Berdampak Membangun Negeri Universitas Riau:
M Favian Abdullah (Ketua)
Angga Syahputra
Anggun Syafitri
Annisa Zahra
Avril Ebriyan Hadi
Bima Aulia
Irfan Fadhly
Indri Asmarani
Rifkiansyah Zaidan
Naurah Nazhiraah
Rakha Muhammad
Yudhistira Wicaksono