Ilustrasi/Ai Masjid Baitul Atiq Desa Bolak Raya
BUALBUAL.com - Di balik gemuruh modernisasi yang melaju ke segala penjuru, masih ada desa-desa yang setia menjaga denyut nadi tradisi. Salah satunya adalah Desa Bolak Raya, sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Desa ini mungkin belum banyak terdengar namanya di telinga khalayak luas, namun siapa sangka, desa yang dikelilingi hamparan sungai dan hutan sagu ini menyimpan cerita panjang tentang keteguhan masyarakat pesisir, warisan religi yang megah, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam.
Dari Kampung Kecil Menjadi Desa Mandiri
Sejarah lisan masyarakat Bolak Raya menyebutkan, dulunya kawasan ini hanyalah sebuah pemukiman kecil yang dihuni oleh keluarga-keluarga nelayan dan petani sagu. Kehidupan mereka sangat bergantung pada sungai dan hutan, dengan perahu kayu sebagai alat transportasi utama dan sagu sebagai bahan pangan pokok. Waktu demi waktu, penduduknya bertambah seiring kedatangan perantau dari berbagai daerah di Indragiri. Mereka bermukim, membuka lahan, dan membangun rumah-rumah panggung sederhana.
“Dulu kami hidup sangat sederhana. Jalan masih jalan tanah, listrik belum masuk, air minum ambil dari sumur tadah hujan. Tapi kami selalu gotong royong. Kalau ada yang bangun rumah, semua turun tangan,”
Kini, meski perkembangan zaman mulai merambah, nilai-nilai kebersamaan itu tetap hidup di tengah masyarakat Bolak Raya.
Masjid Baitul Atiq: Simbol Keimanan dan Warisan Wakaf
Yang paling mencuri perhatian di desa ini adalah Masjid Baitul Atiq, sebuah bangunan megah yang berdiri anggun di jantung desa. Masjid ini bukan sekadar rumah ibadah, tapi juga simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat Bolak Raya.
Dibangun atas wakaf dari H. M. Rusli Zainal, S.E., M.P., masjid ini mulai dibangun pada 2007 dan diresmikan dua tahun kemudian. Desainnya terinspirasi dari kemegahan Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah di Brunei Darussalam. Dengan 9 kubah yang berjajar dan satu menara setinggi 18 meter, masjid ini mampu menampung hingga 250 jamaah. Arsitekturnya unik, menggabungkan nuansa Islam klasik dengan sentuhan lokal, sehingga menjadi destinasi wisata religi yang tak pernah sepi dari kunjungan, khususnya saat Ramadan dan hari-hari besar Islam.
“Kalau malam Ramadan, suasana masjid penuh. Jamaah dari kampung sekitar datang tarawih di sini. Ada yang sengaja menginap di rumah-rumah warga karena besoknya ikut tadarus bareng,”
Sagu, Sungai, dan Kehidupan yang Bersahaja
Potensi alam di Bolak Raya didominasi oleh sagu. Hampir setiap keluarga memiliki lahan sagu yang mereka kelola secara turun-temurun. Proses pengolahannya masih mempertahankan cara tradisional, mulai dari penebangan pohon, pemarutan batang, perendaman, hingga penyaringan pati.
Tepung sagu hasil olahan warga Bolak Raya dikenal berkualitas, bahkan sering dipasarkan ke kecamatan-kecamatan lain. Selain sagu, hasil perikanan air tawar seperti ikan baung, patin, dan udang juga menjadi sumber penghidupan.
Di sela-sela kesibukan mengolah hasil alam, masyarakat Bolak Raya juga aktif melestarikan tradisi adat seperti gotong royong bersih kampung, acara syukuran panen, hingga zikir akbar di masjid desa setiap malam Jumat Kliwon.
Transformasi Digital di Desa Pinggiran
Meski berlokasi di daerah terpencil, Pemerintah Desa Bolak Raya tak ketinggalan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Pada 2024, perangkat desa mengikuti pelatihan input data website dan aplikasi layanan desa berbasis digital. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan publik dan memperluas promosi potensi desa.
“Sekarang masyarakat bisa lihat info desa lewat internet. Pengurusan surat pun sudah mulai bisa didaftarkan secara online,” kata Kepala Desa Imran Mus, S.Pd.I.
Inovasi ini menjadi bukti bahwa desa di ujung Indragiri pun mampu bergerak maju tanpa harus meninggalkan akar budayanya.
Di bawah kepemimpinan Imran Mus, Bolak Raya memiliki visi besar: mewujudkan desa yang sejahtera dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, berlandaskan iman dan takwa. Setiap program desa selalu melibatkan partisipasi aktif masyarakat, baik dalam musyawarah maupun pelaksanaannya.
Pemerintah desa juga berfokus pada peningkatan sarana ibadah, pendidikan anak, perbaikan infrastruktur jalan desa, serta pemberdayaan ekonomi berbasis hasil alam dan budaya lokal.
Desa Bolak Raya mungkin hanya sebuah nama kecil di peta Provinsi Riau. Namun dari desa ini, kita belajar bahwa kekuatan masyarakat terletak pada kebersamaan, semangat saling bantu, dan keteguhan menjaga warisan leluhur. Sebuah kisah tentang desa yang tak hanya bertahan di tengah arus zaman, tapi juga tumbuh dengan jati diri yang kokoh.
Bolak Raya, sebuah kampung yang membuktikan bahwa di balik kemegahan masjidnya, keteduhan sungainya, dan kearifan sagu-nya, tersimpan kisah tentang harapan, ketulusan, dan cinta akan tanah kelahiran.