
BUALBUAL.com - Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan resmi membuka Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Khusus Berkemampuan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Tahun Anggaran 2026 di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Senin (20/7/2026). Sebanyak 119 calon Bintara SPKT mengikuti pendidikan yang akan berlangsung selama lima bulan.
Pembukaan pendidikan ini merupakan bagian dari dimulainya Pendidikan Pembentukan Bintara Polri TA 2026 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia dengan total 4.709 peserta didik.
Dalam amanatnya, Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa pendidikan pembentukan tidak hanya bertujuan mencetak anggota Polri yang tangguh secara fisik, tetapi juga membangun karakter, integritas, serta kemampuan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
"Pendidikan ini bukan sekadar mengubah status seseorang menjadi anggota Polri, tetapi merupakan proses transformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, mental, dan budaya kerja agar menjadi personel yang benar-benar mahir dan profesional," ujar Kapolda.
Menurutnya, selama lima bulan ke depan para siswa akan ditempa menjadi personel Polri yang siap menghadapi berbagai tantangan tugas kepolisian sekaligus mampu menjawab harapan masyarakat terhadap pelayanan publik yang profesional, cepat, dan humanis.
Kapolda menjelaskan, Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Tahun Anggaran 2026 diikuti 4.709 peserta didik, terdiri atas 709 polisi wanita yang menjalani pendidikan di Sepolwan Lemdiklat Polri dan 4.000 polisi laki-laki yang mengikuti pendidikan di 31 SPN Polda di seluruh Indonesia.
Tahun ini, pendidikan mengusung tema “Membangun Keutamaan Pendidikan Polri Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, serta Ekonomi yang Produktif dan Inklusif.”
Tema tersebut menjadi landasan dalam membentuk personel Polri yang memiliki moralitas, integritas, wawasan, serta kemampuan berpikir adaptif dalam menghadapi dinamika zaman.
Garda Terdepan Pelayanan Masyarakat
Kapolda menekankan bahwa lulusan Bintara SPKT nantinya akan menjadi garda terdepan pelayanan kepolisian sekaligus wajah pertama Polri saat masyarakat datang mencari perlindungan, pengayoman, maupun keadilan.
"Masyarakat datang ke kantor polisi dengan berbagai persoalan, ketakutan, dan harapan. Karena itu, kalian harus mampu menerima laporan dengan cepat, berkomunikasi secara santun, memberikan kepastian hukum, pelayanan prima, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi," tegasnya.
Ia juga memotivasi seluruh peserta didik agar tetap bersemangat dan tangguh selama menjalani pendidikan.
"Apabila kalian lelah, ingat kembali tujuan kalian datang ke tempat ini. Apabila ingin menyerah, ingatlah doa dan harapan orang tua yang mengiringi langkah kalian. Keringat yang kalian keluarkan hari ini akan menjadi kebanggaan di masa depan," pesannya.
Tegas Larang Kekerasan dan Perundungan
Kepada para tenaga pendidik dan instruktur SPN, Kapolda Riau menegaskan agar seluruh proses pendidikan dilaksanakan secara profesional, tegas, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Ia mengingatkan tidak boleh ada praktik kekerasan, perundungan (bullying), penghinaan, maupun tindakan yang merendahkan martabat peserta didik.
"Pendidikan yang keras tidak harus kasar. Latihan yang berat tidak boleh menghilangkan martabat. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan menumbuhkan dendam. Jadilah teladan dalam sikap, kedisiplinan, dan integritas karena peserta didik belajar bukan hanya dari materi, tetapi juga dari perilaku para pendidiknya," tutup Irjen Pol Herry Heryawan.
Pendidikan ini diharapkan mampu melahirkan personel SPKT yang profesional, berintegritas, serta mengedepankan pelayanan yang humanis sebagai wajah Polri di tengah masyarakat.