Bukan Sekadar Lomba, Lari di Atas Tual Sagu Jadi Cara Merawat Budaya Meranti

Senin, 28 September 2026

MERANTI, BUALBUAL.com – Batang-batang sagu tampak tersusun berjejer di tepian Kampung Suak, Desa Banglas, Kabupaten Kepulauan Meranti, Sabtu (26/9/2026). Batang sagu tersebut menjadi lintasan dalam Festival Lari di Atas Tual Sagu.

Di sekeliling arena, warga terlihat antusias menyaksikan peserta berusaha menjaga keseimbangan sembari melompat dari satu tual sagu ke tual lainnya. Lintasan yang berada di atas air itu membuat peserta harus memiliki ketangkasan dan keseimbangan untuk dapat melewatinya.

Tradisi yang dikenal masyarakat Melayu sebagai berlari di atas tual sagu tersebut merupakan permainan lama yang kembali dihidupkan melalui festival budaya.

Festival Lari di Atas Tual Sagu 2026 digelar bersamaan dengan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya masyarakat untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang tumbuh dari lingkungan dan keseharian masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Kepulauan Meranti, sagu bukan sekadar tanaman. Sagu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik sebagai bahan pangan maupun sumber pendapatan. Dari kebun sagu, sebagian masyarakat menggantungkan penghasilan, sementara batang dan hasil olahannya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Karena itu, ketika batang sagu dijadikan arena perlombaan, kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan ketangkasan peserta. Lebih dari itu, festival ini menghadirkan kembali hubungan antara masyarakat, kebun sagu, dan lingkungan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Meranti.

Festival tersebut dibuka oleh Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar. Ia menilai permainan lari di atas tual sagu memiliki nilai budaya yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda.

“Tradisi seperti inilah yang harus kita jaga. Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal budaya daerah dari buku atau cerita, tetapi tidak pernah melihat, merasakan, dan mempraktikkannya secara langsung,” kata Asmar.

Menurutnya, permainan tersebut mengandung nilai keterampilan, keberanian, keseimbangan, dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda di tengah perkembangan permainan modern yang banyak berlangsung di ruang digital.

Asmar juga mengatakan, sagu bagi masyarakat Meranti bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi berkaitan erat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat pesisir.

“Mari kita jadikan kegiatan ini bukan hanya sebagai perlombaan, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan dan memperkenalkan Kepulauan Meranti sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya yang unik, hidup, dan bernilai,” ujarnya.

Selain lomba lari di atas tual sagu, festival juga diisi dengan lomba memasak makanan berbahan dasar sagu. Berbagai olahan sagu disajikan warga, menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional tersebut dapat dikembangkan menjadi beragam makanan.

Usai membuka kegiatan, Asmar bersama Ketua DWP Kepulauan Meranti Hj. Ismiatun Asmar meninjau stan peserta. Keduanya mengapresiasi kreativitas masyarakat dalam mengolah sagu menjadi berbagai jenis makanan.

Bagi masyarakat setempat, kemampuan mengolah sagu merupakan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga. Pengetahuan tersebut mencakup proses memilih bahan, mengolah hingga menyajikannya menjadi makanan yang sesuai dengan selera zaman.

Melalui festival tersebut, tradisi lari di atas tual sagu tidak hanya kembali dipertontonkan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi berikutnya.