Celoteh Bang Bual : Dulu Teriak Petani Sejahtera, Kini Petani Kelapa Merana

Sabtu, 28 Februari 2026

BUALBUAL.com - Waktu kampanye, Bang Bual masih ingat betul. Panggung berdiri megah, pengeras suara meraung-raung, dan sang calon kepala daerah dengan suara lantang berjanji,

“Kalau saya terpilih, harga kelapa petani akan stabil!”

Kata stabil itu meluncur mulus. Disambut tepuk tangan, sorak sorai, dan harapan yang tumbuh setinggi pohon kelapa. Petani pulang dengan dada lapang. Mereka percaya, kali ini mungkin nasib berubah.

Tapi politik memang sering pandai bersandiwara.

Begitu kursi empuk diduduki, baliho diturunkan, dan euforia kemenangan usai, pelan-pelan realitas menunjukkan wajah aslinya. Harga kelapa mulai goyah. Lalu turun. Lalu makin turun.

Di kebun, buah tetap berjatuhan. Tapi nilainya tak lagi cukup untuk menutup kebutuhan rumah.

Sementara itu, harga sembako justru naik seperti tak kenal rem. Beras merangkak naik. Minyak goreng makin mahal. Gula pun ikut-ikutan.

Petani terjepit dari dua arah, Hasil panen murah, Kebutuhan hidup mahal.

Dan kepala daerah?

Diam.

Tak ada gebrakan. Tak ada langkah nyata yang terasa sampai ke desa. Janji stabilitas harga seolah hanya bahan bakar kampanye—dipakai untuk menyalakan semangat, lalu padam setelah kemenangan.

Bang Bual cuma tersenyum pahit.
Katanya mau menyejahterakan petani. Katanya ingin ekonomi rakyat kuat. Tapi ketika harga kelapa jatuh, yang jatuh bukan cuma angka di pasar. Yang ikut runtuh adalah kepercayaan.

Petani kelapa bukan minta hidup mewah. Mereka hanya ingin kepastian. Ingin pemerintah hadir saat pasar tak bersahabat. Ingin kebijakan yang berpihak, bukan sekadar retorika yang indah didengar.

Celoteh Bang Bual hari ini sederhana tapi pedas, Kalau tak mampu menahan harga agar tak jatuh, jangan terlalu tinggi mengangkat janji. Sebab yang paling mahal di negeri ini bukan kelapa, melainkan kepercayaan rakyat yang sudah berkali-kali dikhianati.