Dibuat Pakai AI, Film Rengat 1949 Bongkar Sejarah Kelam Riau yang Nyaris Dilupakan Generasi Muda

Minggu, 21 Juni 2026

BUALBUAL.com - Film sejarah berjudul “Rengat 1949” karya kreator muda asal Riau, Fitra Asrirama, mendapat sambutan positif dari generasi muda saat diputar di Anjungan Seni Idrus Tintin, kawasan Purna MTQ Pekanbaru, Sabtu (20/6/2026).

Film animasi yang diproduksi dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tersebut mengangkat peristiwa tragis sekaligus heroik yang terjadi di Rengat pada tahun 1949.

Karya ini menjadi upaya untuk mengingatkan generasi muda terhadap sejarah perjuangan masyarakat Riau dalam menghadapi penjajahan Belanda, sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Pemutaran film tersebut turut dihadiri sejumlah generasi muda yang sebagian besar merupakan kader muda Partai NasDem. Hal itu berkaitan dengan latar belakang Fitra yang juga merupakan kader NasDem Riau.

Ketua Bapilu DPW NasDem Riau, Dedi Harianto Lubis, mengapresiasi film tersebut sebagai karya yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai perjuangan bangsa melalui pendekatan yang dekat dengan generasi saat ini.

“Ini merupakan sebuah karya yang patut kita apresiasi. Sejarah di republik ini perlu terus diulang, terutama bagi generasi muda, agar mereka mengetahui dan memahami cerita perjuangan yang terjadi sebelum masa kita saat ini,” ujar Dedi.

Menurutnya, kegiatan nonton bareng dan bedah film menjadi cara efektif dalam menyampaikan edukasi kebangsaan dan politik kepada masyarakat dengan kemasan yang lebih menarik.

Dedi menjelaskan, film “Rengat 1949” tidak dibuat secara instan. Berdasarkan informasi dari sang kreator, proses riset hingga produksi film membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

“Partai NasDem sangat mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari peran politik dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kami berharap ke depan Kesbangpol Riau juga dapat terus mendukung kegiatan seperti ini,” katanya.

Ia menambahkan, film tersebut menjadi pengingat atas pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

“Kita diingatkan kembali bagaimana perjuangan para pahlawan yang membuat kita bisa menikmati kehidupan hari ini dengan nyaman,” tambahnya.

Sementara itu, Analis Kebijakan Kesbangpol Riau, Tengku Hardiyan, turut memberikan apresiasi terhadap pemutaran film tersebut. Ia menilai karya sejarah seperti “Rengat 1949” memiliki nilai edukasi penting di tengah derasnya arus informasi digital.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Film ini mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Dalam sesi bedah film, Fitra Asrirama menjelaskan bahwa ide pembuatan “Rengat 1949” berawal dari keprihatinannya melihat masih banyak generasi muda yang belum mengenal peristiwa sejarah besar yang pernah terjadi di Rengat.

“Ini adalah peristiwa besar yang terjadi di Riau, tetapi masih banyak anak muda yang belum mengetahuinya. Itu yang membuat saya tertarik untuk mengangkatnya agar generasi sekarang memahami bahwa sejarah kelam ini pernah terjadi, khususnya di Rengat,” ungkap Fitra.

Untuk menghadirkan kisah yang mendekati fakta sejarah, Fitra melakukan riset dari berbagai sumber, mulai dari buku sejarah perjuangan daerah, arsip pemberitaan lama, hingga wawancara dengan veteran dan keluarga korban.

Salah satu narasumber yang dilibatkan adalah Panca, anak dari pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.

Menurut Fitra, film ini bukan hanya karya visual, tetapi juga menjadi upaya mendokumentasikan kontribusi besar masyarakat Riau dalam perjuangan bangsa yang telah menelan banyak korban jiwa.

“Ini adalah bagian dari sejarah yang harus kita ketahui bersama. Masyarakat Riau memiliki kontribusi besar untuk Indonesia, bahkan harus mengorbankan nyawa dalam jumlah yang tidak sedikit,” jelasnya.

Ia mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam produksi film ini adalah minimnya saksi hidup yang menyaksikan langsung peristiwa Rengat 1949. Karena itu, tim produksi lebih banyak mengandalkan data dari keluarga korban, veteran, serta literatur sejarah.

Selain keterbatasan sumber informasi, persoalan anggaran juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, tim memanfaatkan teknologi AI dalam proses pembuatan animasi.

“Penggunaan AI sangat membantu dari sisi biaya, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Kadang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan sehingga harus diulang berkali-kali,” jelas Fitra.

Ia menyebut, untuk menghasilkan satu adegan berdurasi 20 hingga 30 detik, proses pengerjaan bisa memakan waktu hingga lima jam agar visual yang ditampilkan mendekati gambaran peristiwa sebenarnya.

Melalui film “Rengat 1949”, Fitra berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal sejarah daerahnya sendiri serta menghargai perjuangan para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.