
BUALBUAL.com - Musim panen raya kelapa kembali berlangsung di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Namun di tengah melimpahnya hasil perkebunan masyarakat, harga kelapa di tingkat petani justru mengalami penurunan.
Fenomena ini disebut kerap terjadi setiap memasuki masa panen raya. Melonjaknya produksi dalam waktu bersamaan menyebabkan pasokan kelapa di pasar meningkat, sementara permintaan relatif stabil sehingga harga ikut menyesuaikan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Inhil, Surya Syurgana SST, mengatakan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir menghadapi kondisi tersebut. Menurutnya, fluktuasi harga kelapa dipengaruhi berbagai faktor, baik dari sisi lokal maupun kondisi pasar global.
“Ketika produksi meningkat secara bersamaan, harga biasanya ikut menurun karena stok di pasar melimpah. Selain itu, kondisi ekonomi global juga turut memengaruhi harga komoditas kelapa,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, selain faktor produksi, persoalan distribusi hasil panen juga menjadi tantangan bagi petani kelapa di Inhil. Kondisi geografis yang didominasi lahan gambut dan rawa membuat akses pengangkutan hasil perkebunan sangat bergantung pada kondisi jalan produksi dan jalur perairan.
“Pada musim hujan, jalan produksi sering rusak dan berlumpur. Sementara jalur air seperti parit dan kanal juga harus terus dipelihara agar distribusi hasil panen tetap lancar,” jelasnya.
Menurut Surya, pembangunan dan perawatan infrastruktur perkebunan seperti jalan produksi, jembatan, tanggul, hingga saluran air menjadi hal penting untuk membantu petani menekan biaya distribusi.
Di sisi lain, Dinas Pertanian bersama penyuluh lapangan juga terus melakukan pendampingan kepada kelompok tani terkait pola panen dan pengelolaan kebun yang lebih efektif. Petani dianjurkan melakukan panen secara bertahap sesuai tingkat kematangan buah agar pasokan tidak menumpuk dalam satu waktu.
“Selama ini masih banyak petani melakukan panen besar pada waktu tertentu. Akibatnya stok meningkat drastis di pasar dan harga menjadi turun,” katanya.
Pemerintah daerah juga mulai mendorong pengembangan hilirisasi produk kelapa agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan kelapa mentah. Berbagai produk turunan seperti kopra, minyak kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), arang tempurung, hingga olahan sabut kelapa dinilai memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
“Yang terpenting saat ini petani tetap menjaga kualitas kebun dan memperkuat pengelolaan usaha tani agar sektor perkebunan kelapa tetap berkelanjutan,” tutupnya.