
BUALBUAL.com - Kunjungan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, ke Provinsi Riau dalam rangka peringatan Hari Kebudayaan Nasional (HKN) 2026 membawa sejumlah gagasan strategis untuk pengembangan kebudayaan dan sejarah di Bumi Lancang Kuning. Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) yang menyatakan siap berkolaborasi mewujudkannya.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR, Datuk Seri Haji Taufik Ikram Jamil, mengatakan berbagai ide yang disampaikan Menteri Kebudayaan perlu segera ditindaklanjuti karena tidak hanya berkaitan dengan pelestarian warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi penggerak pembangunan daerah.
"Kami siap bekerja sama mewujudkan berbagai gagasan besar yang disampaikan Menteri Kebudayaan. Ini bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, tetapi menjadikan sejarah dan kebudayaan sebagai kekuatan pembangunan Riau," ujar Taufik, Senin (19/10/2026).
Gagasan tersebut disampaikan Fadli Zon saat menghadiri puncak HKN melalui Arak-arakan Keberagaman di Balai Adat LAMR serta ketika mengunjungi Kompleks Percandian Muara Takus di Kabupaten Kampar.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan Kompleks Percandian Muara Takus. Menurut Fadli, kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk mengungkap jejak peradaban masa lampau di Riau. Ia juga mengusulkan pembebasan atau pengadaan lahan di sekitar kawasan candi guna mendukung penelitian arkeologi dan pengembangan situs-situs bersejarah yang diperkirakan masih tersimpan.
Selain itu, Menteri Kebudayaan juga menggagas pembangunan museum di kawasan Muara Takus sebagai pusat edukasi sejarah dan peradaban Melayu tua.
Taufik menilai Muara Takus harus dikembangkan dengan visi yang lebih luas, tidak hanya sebagai kawasan cagar budaya, tetapi juga sebagai pusat sejarah, pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.
Menurutnya, perjalanan menuju Muara Takus melalui jalan tol juga menawarkan panorama alam yang menarik sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi pengembangan wisata sejarah di Riau.
LAMR juga menyambut baik dukungan Menteri Kebudayaan untuk membuka komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk PLN, terkait pengelolaan lahan di sekitar kawasan Muara Takus yang bersinggungan dengan kepentingan pembangunan PLTA.
Selain pengembangan Muara Takus, Fadli Zon juga mendorong hadirnya museum perminyakan dan museum perjuangan di Riau sebagai upaya mendokumentasikan sejarah panjang daerah, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyarankan agar pengembangan museum di Riau mengacu pada pengelolaan Museum Nasional di Jakarta, serta menjadikan Kompleks Percandian Muara Jambi sebagai referensi dalam pengembangan Muara Takus.
Dalam kesempatan itu, Menteri Kebudayaan juga merespons positif usulan LAMR untuk menyusun buku sejarah Riau yang lebih komprehensif dan selaras dengan program penulisan ulang sejarah nasional yang sedang dijalankan Kementerian Kebudayaan.
Tak hanya itu, Fadli Zon membuka peluang bagi komunitas dan pelaku budaya di Riau untuk memanfaatkan Dana Indonesiana guna mendukung penulisan sejarah, pengembangan program kebudayaan, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya.
Taufik berharap perhatian pemerintah pusat terhadap kebudayaan Melayu tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diwujudkan dalam program nyata yang mampu memperkuat posisi Riau sebagai salah satu pusat peradaban Melayu di Nusantara.
Momentum Hari Kebudayaan Nasional 2026, menurutnya, menjadi kesempatan penting mempererat kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, akademisi, budayawan, dan masyarakat dalam menjaga serta mengembangkan warisan budaya Riau.