
BUALBUAL.com - Pertama-tama, saya menyampaikan permohonan maaf kepada TVRI. Sebelumnya saya mengira pihak TVRI bertanggung jawab atas penampilan pembawa acara (MC) pada pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-44 Provinsi Riau di Kuantan Singingi yang dinilai kurang mencerminkan budaya Melayu maupun nuansa keislaman. Setelah mendapat informasi lebih lanjut, ternyata MC tersebut merupakan bagian dari panitia bersama melalui Event Organizer (EO) yang ditunjuk oleh Pemerintah Provinsi Riau dan panitia lokal.
Dengan demikian, persoalan ini bukan berada pada TVRI sebagai lembaga penyiaran, melainkan lebih kepada kurangnya koordinasi dan komunikasi dalam bidang acara, sehingga penampilan MC tanpa peci maupun tanjak luput dari perhatian penyelenggara.
Pembukaan MTQ ke-44 Provinsi Riau seharusnya menjadi panggung yang menampilkan kemegahan Islam sekaligus kemuliaan budaya Melayu. Namun di balik kemeriahan acara tersebut, muncul satu hal yang mengundang perhatian masyarakat, yakni penampilan pembawa acara yang tidak mengenakan peci maupun tanjak.
Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terlihat sepele. Namun dalam dunia komunikasi publik, simbol memiliki makna yang sangat penting. Cara berpakaian seorang MC bukan sekadar urusan estetika, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap nilai budaya dan karakter acara yang sedang dipandu.
MTQ bukan konser musik dan bukan pula seremoni pemerintahan biasa. MTQ merupakan perhelatan keagamaan terbesar umat Islam yang sekaligus menjadi etalase budaya Melayu di Riau. Karena itu, wajar apabila masyarakat berharap setiap unsur acara, termasuk penampilan pembawa acara, mampu mencerminkan identitas daerah serta nuansa religius yang kuat.
Jika MC tersebut seorang Muslim, penggunaan peci tentu menjadi pilihan yang sangat pantas. Sementara jika ingin lebih menonjolkan identitas daerah, tanjak Melayu merupakan pilihan yang lebih tepat. Tanjak bukan sekadar penutup kepala, tetapi simbol marwah Melayu yang diwariskan secara turun-temurun.
Kalaupun pembawa acara tersebut bukan beragama Islam, penggunaan peci tetap bukan sesuatu yang keliru. Dalam tradisi berpakaian nasional Indonesia, peci telah lama menjadi simbol kebangsaan yang dikenakan lintas agama dan lintas suku. Tidak sedikit pejabat maupun tokoh non-Muslim yang mengenakan peci dalam acara resmi sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan protokol yang berlaku.
Karena itu, persoalan ini bukan tentang agama seseorang, melainkan mengenai sensitivitas budaya dan profesionalisme penyelenggaraan acara.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana hal ini bisa luput dari perhatian EO dan panitia bersama yang menangani acara berskala provinsi dan disiarkan secara langsung. Bukankah penyelenggara memiliki pengalaman dalam mengelola acara resmi yang sarat dengan nilai budaya dan keagamaan? Bukankah standar penampilan pembawa acara seharusnya menjadi bagian penting dalam perencanaan sebuah acara besar?
Dalam dunia penyiaran profesional, urusan busana bukan semata keputusan pribadi MC. Penampilan presenter merupakan hasil koordinasi antara tim produksi, produser, dan penanggung jawab acara. Karena itu, apabila terjadi ketidaksesuaian dengan karakter kegiatan, evaluasi tidak cukup hanya ditujukan kepada pembawa acara, tetapi juga kepada sistem produksi dan penyelenggaraan secara keseluruhan.
Riau dikenal sebagai Bumi Melayu yang menjunjung tinggi falsafah adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Nilai tersebut semestinya tercermin dalam setiap detail penyelenggaraan acara resmi, terlebih lagi pada kegiatan MTQ yang sarat dengan nilai keislaman dan budaya Melayu.
Kritik ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan EO maupun panitia lokal. Sebaliknya, kritik ini merupakan bentuk kepedulian agar penyelenggara kegiatan semakin peka terhadap kearifan lokal. Jangan sampai sebuah acara yang disaksikan luas oleh masyarakat justru mengabaikan simbol-simbol budaya yang selama ini dijaga dan dihormati oleh masyarakat Melayu.
Ke depan, setiap penyelenggara kegiatan perlu memastikan bahwa busana pembawa acara disesuaikan dengan karakter acara yang dilaksanakan. Pada kegiatan adat Melayu, tanjak layak diprioritaskan. Pada kegiatan keagamaan Islam, peci merupakan pilihan yang tepat. Bahkan akan lebih baik jika keduanya dapat dipadukan secara proporsional sesuai konsep acara.
Sering kali marwah sebuah daerah tidak berkurang karena kesalahan besar, melainkan karena kelalaian terhadap hal-hal kecil yang dianggap sepele. Padahal, dari detail-detail semacam itulah masyarakat menilai sejauh mana sebuah lembaga menghormati budaya, adat, dan identitas daerah yang ditampilkan.
Semoga kritik ini menjadi bahan evaluasi yang konstruktif. MTQ di masa mendatang diharapkan tidak hanya megah dari sisi panggung dan tata cahaya, tetapi juga utuh dalam menampilkan jati diri Riau sebagai negeri Melayu yang berbudaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
Mardianto Manan adalah anggota Majelis Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR).