ISPU Inhil Tembus 215, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Selasa, 15 September 2026

BUALBUAL.com - Kualitas udara di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data pemantauan Stasiun Air Quality Monitoring (AQM) Kabupaten Inhil, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 215 yang masuk dalam kategori Sangat tidak sehat.

Data tersebut terpantau pada Selasa (15/9/2026) melalui laman resmi pemantauan kualitas udara Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Dalam pemantauan tersebut, PM2.5 menjadi parameter kritis. PM2.5 merupakan partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat terhirup hingga ke bagian dalam paru-paru.

Kondisi kualitas udara ini menjadi perhatian di tengah potensi maupun aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Riau. Asap dari pembakaran vegetasi diketahui dapat menjadi salah satu sumber partikel halus yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.

Namun, tingginya ISPU di Inhil tidak serta-merta dapat dikaitkan hanya dengan karhutla. Untuk memastikan sumber pencemar, diperlukan data serta analisis lebih lanjut dari instansi yang berwenang.

PM2.5 Jadi Perhatian

ISPU pada angka 198 menunjukkan kualitas udara berada pada level yang tidak sehat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama kelompok yang lebih sensitif terhadap pencemaran udara.

Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang sensitif terhadap gangguan pernapasan disarankan lebih waspada ketika kualitas udara mengalami penurunan.

Kondisi kualitas udara juga dapat berubah dari waktu ke waktu. Arah dan kecepatan angin, kondisi cuaca, serta konsentrasi sumber pencemar dapat memengaruhi hasil pemantauan.

Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah dan mengambil langkah perlindungan diri sesuai kondisi yang terjadi.

Karhutla Tetap Perlu Diwaspadai

Tingginya angka ISPU juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Apabila terjadi kebakaran lahan, asap yang dihasilkan dapat membawa partikulat halus ke wilayah permukiman. Sebaran asap sangat bergantung pada kondisi atmosfer, arah dan kecepatan angin.

Karena itu, pemerintah dan instansi terkait perlu terus memperkuat pemantauan titik panas, potensi karhutla, serta kualitas udara. Informasi yang cepat dan akurat penting agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan ketika terjadi peningkatan pencemaran udara.

ISPU 198 bukan sekadar angka pada layar pemantauan. Ketika PM2.5 menjadi parameter kritis, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kualitas udara yang dihirup masyarakat perlu mendapat perhatian serius.

Sumber data: Stasiun AQM Kabupaten Indragiri Hilir, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.