Jovi dan Diego Mati Beruntun, Penyakit Pencernaan Gajah PLG Minas Jadi Tanda Tanya

Jumat, 25 September 2026

BUALBUAL.com - Kabar duka menyelimuti upaya konservasi satwa dilindungi di Provinsi Riau. Dua ekor gajah Sumatera binaan Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, mati beruntun dalam rentang waktu tak sampai dua bulan. Kematian kedua mamalia raksasa ini menyisakan tanda tanya, terutama terkait gangguan saluran pencernaan yang mendahului kepergian mereka.

Gajah pertama yang mati bernama Jovi, satwa jantan yang telah berusia 46 tahun dan menjadi penghuni PLG Minas sejak 1998. Ia mengembuskan napas terakhir pada Senin (3/8/2026) malam, usai melewati masa perawatan intensif selama 34 hari. Hanya berselang enam pekan, Diego, gajah jantan muda berusia 17 tahun yang lahir di pusat pelatihan tersebut, ditemukan mati pada Rabu (16/9/2026) siang.

Keduanya sama-sama tumbang oleh penyakit yang menyerang sistem pencernaan. Jovi didiagnosis mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas, yang memicu kelemahan otot berat alias myopathy. Sementara itu, hasil nekropsi terhadap jasad Diego mengindikasikan adanya infeksi kronis pada area pencernaannya.

Sorotan Terhadap Pakan Pelepah Sawit

 

Tumbangnya dua gajah dalam waktu berdekatan dengan gejala serupa memicu perhatian publik. Sorotan kini mengarah pada rutinitas pemberian pakan tambahan di PLG Minas, dimana pelepah sawit menjadi salah satu asupan harian satwa bertubuh bongsor tersebut.

Kepala Bidang Teknis BKSDA Riau, Ujang Holisudin membenarkan bahwa pelepah kelapa sawit memang masuk dalam daftar pakan tambahan satwa binaan. Selain pelepah sawit, pengelola juga memberikan pelepah pisang, batang jagung, serta nutrisi pelengkap seperti gula, beras, dedak, hingga garam.

"Hasil nekropsi dijelaskan mengenai adanya infeksi saluran pencernaan. Kami hanya mengamati kondisi kotoran yang mati," terangnya pada Kamis (24/9/2026).

Desakan Evaluasi Menyeluruh

Merespons rentetan kejadian ini, aktivis pemerhati gajah sekaligus pendiri For Gajah, Rahman Fitriani Dwi Kurniasari mengingatkan agar pengelola mengkaji ulang pola pakan. Meskipun pelepah sawit tidak bisa serta-merta dituding sebagai penyebab tunggal kematian, kesamaan kasus dalam waktu berdekatan mutlak harus ditelusuri.

"Perlu dikaji ulang terkait pemberian pelepah sawit terhadap gajah-gajah binaan milik negara. Bagaimana pun, sangat perlu meminimalisir risiko kematian gajah binaan, apalagi breeding program gajah ini tidak pula sesuatu yang instan," urainya.

 

Kecurigaan ini beranjak dari adanya temuan perubahan perilaku makan pada gajah lain. Fitriani membeberkan, seekor gajah bernama Dayang sempat menolak makan saat disodorkan pelepah kelapa sawit pada Senin (10/8/2026). Dayang masih mau mengonsumsi nanas, jagung, dan pisang, meski dengan tempo mengunyah yang jauh lebih lambat dari biasanya.

Rentetan anomali perilaku ini merupakan petunjuk yang menuntut penyelidikan ilmiah komprehensif. "Amat disayangkan jika tidak ada evaluasi lanjutan setelah kematian Jovi dan Diego," sesalnya.

Fitriani menegaskan, menentukan hubungan antara jenis pakan dan penyakit memerlukan pembedahan lebih jauh. Identifikasi mikroorganisme penyebab infeksi, kualitas kebersihan, teknik penyimpanan, hingga kemungkinan jejak kontaminasi pada pakan wajib dievaluasi secara medis.

"Hal ini penting karena pelepah sawit sendiri tidak otomatis dapat dianggap sebagai bahan yang menyebabkan kematian gajah. Faktor lain, termasuk infeksi, kondisi kesehatan individu, kualitas pakan, parasit, bakteri atau gangguan metabolisme, juga dapat berperan," tandasnya.