
BUALBUAL.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, terus mendapat penanganan dari tim gabungan. Selain menambah personel, pemerintah juga mengerahkan alat berat untuk membantu mengendalikan penyebaran api.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, Edy Afrizal, mengatakan alat berat digunakan untuk membuat parit gajah di sekitar kawasan yang terbakar.
“Untuk memblokir api,” kata Edy, Ahad (23/8/2026).
Saat ini, sebanyak enam unit alat berat telah dikerahkan ke lokasi karhutla. Dalam waktu dekat, pemerintah berencana menambah 15 unit alat berat lagi untuk mempercepat pembuatan parit gajah di kawasan terdampak.
“Tujuannya untuk mempercepat pembuatan parit gajah di sekitar kawasan yang terbakar,” ujar Edy.
Selain berfungsi sebagai sekat untuk menghambat pergerakan api, parit gajah nantinya dapat menjadi sumber air yang membantu proses pemadaman. Hal ini penting karena salah satu kendala utama petugas di lapangan adalah minimnya sumber air.
Kondisi tersebut diperparah oleh musim kemarau yang menyebabkan lahan gambut menjadi sangat kering. Api tidak hanya membakar permukaan lahan, tetapi juga dapat merambat hingga ke bawah permukaan gambut.
“Inilah salah satu fungsi alat berat membuat parit gajah itu untuk memblokir api,” ungkap Edy.
Untuk memaksimalkan penanganan karhutla di Kerumutan, personel gabungan juga terus diperkuat. Sebanyak 15 personel dari BPBD dan Damkar Riau telah berada di lokasi.
Manggala Agni turut mengirimkan personel dari Daops Rengat dan Daops Siak. Selain itu, terdapat 30 personel dari Polda Riau dan 20 personel dari TNI.
Seluruh personel tambahan tersebut bergabung dengan tim darat yang sebelumnya telah berjibaku melakukan pemadaman di kawasan Kerumutan.
Tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya.
Edy menjelaskan, proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Angin kencang membuat api mudah menyebar dan menyulitkan petugas mengendalikan kobaran.
Kondisi vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan yang masih cukup rapat juga menjadi tantangan. Di sisi lain, sumber air sulit ditemukan dan lokasi kebakaran cukup jauh dari akses kendaraan.
“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” jelas Edy.
Bahkan, kendaraan roda empat tidak dapat mencapai titik kebakaran. Petugas harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menjangkau lokasi.
Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui jalur darat. Operasi udara juga diperkuat dengan mengerahkan empat helikopter water bombing untuk menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran.
Namun, Edy mengakui operasi water bombing belum dapat memadamkan seluruh area yang terbakar. Helikopter lebih efektif digunakan untuk menekan dan memblokir bagian kepala api agar tidak semakin meluas.
“Water bombing memang bisa kita gunakan untuk memblokir kepala api. Tetapi untuk memadamkan seluruh api cukup sulit karena dipengaruhi angin dan kondisi lahan,” paparnya.
Kondisi gambut yang kering juga menjadi persoalan tersendiri. Api yang terlihat padam dari udara belum tentu benar-benar mati karena bara masih dapat bertahan di bawah permukaan gambut.
“Sekarang kondisi lahan gambut sangat kering. Ketika kita lakukan water bombing dan dari atas terlihat api sudah padam, sebenarnya di dalam gambut masih bisa terdapat bara api yang menyala,” ungkapnya.
Dengan tambahan alat berat, personel gabungan, serta dukungan helikopter water bombing, tim gabungan terus berupaya mengendalikan dan menekan meluasnya karhutla di Kerumutan.