
Rajalesa, Raja Rimba, Raja Muara
BUALBUAL.com - Dalam kampanye pelestarian mangrove dan hutan, lahirlah tiga karakter maskot yang mewakili semangat menjaga alam: Rajalesa sang Rajawali, Raja Muara sang Buaya, dan Raja Rimba sang Harimau. Setelah melalui proses pemilihan, Rajawali ditetapkan sebagai simbol utama RAJALESA, penjaga hutan, rakyat, dan harapan.
Ketua Bangun Desa Payung Negeri (BDPN) Inhil, Zainal Arifin, Memaparkan Rajawali dipilih karena memiliki pandangan luas, keberanian, dan kesetiaan pada wilayahnya. Karakter ini dianggap mencerminkan nilai luhur kepemimpinan-visioner, fokus, dan mampu menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.
"Rajawali adalah simbol yang tidak hanya kuat, tetapi juga bijaksana. Ia melambangkan harapan untuk menjaga hutan dan ekosistem, sekaligus menjadi pelindung bagi masyarakat,” ujar Ketua BDPN, penggagas kampanye Save Mangrove.
Kenapa Bukan Harimau?

Raja Rimba, sang Harimau, sempat menjadi kandidat kuat. Namun, harimau dianggap terlalu individualis, cenderung menjaga wilayahnya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan bersama. Karakter ini kurang cocok untuk mewakili semangat kolaborasi yang dibutuhkan dalam pelestarian hutan dan mangrove.
Kenapa Bukan Buaya?
.jpg)
Sementara itu, Raja Muara, sang Buaya, juga diusulkan sebagai simbol. Meski tangguh dan mampu bertahan di berbagai kondisi, buaya dinilai memiliki sifat licik dan tidak transparan. Karakter ini dianggap tidak mencerminkan nilai keterbukaan dan kepercayaan yang ingin dibangun dalam kampanye lingkungan ini.
Rajalesa, Pilihan Ideal untuk Masa Depan Hutan

Dibandingkan dua kandidat lainnya, Rajawali justru dinilai lebih visioner, pemberani, dan setia. Ia mampu terbang tinggi melihat gambaran besar, sekaligus menjaga wilayahnya dengan ketegasan.
Maskot Rajalesa kini menjadi wajah kampanye “Save Mangrove” di berbagai kegiatan lingkungan. Harapannya, kehadiran Rajalesa bisa menginspirasi masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian hutan mangrove, benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi dan perubahan iklim.
“Kami ingin Rajalesa bukan hanya maskot, tapi simbol semangat kita bersama. Melestarikan mangrove berarti melestarikan masa depan,” Tegas Ketua BDPN.
Peluncuran resmi kampanye ini akan digelar pada Hari Mangrove Sedunia 2025, dengan melibatkan komunitas lokal, sekolah, dan pegiat lingkungan.