Ketika Surat dan Perjuangan Petani Kelapa Tak Dijawab, Surat Anak Kecil Soal MBG Langsung Direspons Presiden

Sabtu, 23 Mei 2026

BUALBUAL.com - Di Indragiri Hilir, kelapa bukan sekadar komoditas. Ia adalah napas kehidupan ribuan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari kebun kelapa itulah masyarakat membangun rumah, membiayai sekolah anak, hingga bertahan menghadapi kerasnya hidup di pesisir Riau.

Namun hari ini, banyak petani kelapa di Inhil mulai kehilangan harapan.

Harga kelapa yang terus tidak menentu membuat kehidupan mereka semakin terhimpit. Pendapatan dari hasil kebun tak lagi sebanding dengan kebutuhan rumah tangga yang terus naik. Harga sembako melonjak, biaya pendidikan semakin mahal, sementara hasil penjualan kelapa justru sering jatuh di bawah harapan.

Di tengah kondisi itu, para petani sebenarnya sudah lama mengetuk pintu pemerintah pusat.

Bupati Indragiri Hilir pernah mengirim surat perjuangan meminta pemerintah menetapkan standarisasi harga kelapa agar petani tidak terus menjadi korban permainan pasar. Di tingkat provinsi, anggota DPRD Riau Andi Darma Taufik juga lantang meminta Presiden Prabowo Subianto membangun pabrik hilirisasi kelapa di Inhil agar hasil kebun masyarakat memiliki nilai jual lebih baik.

Bagi petani, perjuangan itu menjadi secercah harapan di tengah hidup yang semakin sulit.

Namun hingga kini, belum ada jawaban yang benar-benar mereka rasakan.

Tidak ada kepastian. Tidak ada solusi nyata.

Di saat suara petani kelapa di ujung pesisir Riau terasa seperti tenggelam, publik justru menyaksikan kisah lain yang cepat mendapat perhatian pemerintah pusat.

Seorang anak sekolah dasar asal Sidoarjo, Jawa Timur, Alkhalifi Muhammad Marfen, menulis surat sederhana kepada Presiden Prabowo Subianto tentang rasa syukurnya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam waktu singkat, surat itu mendapat respons. Sang anak bahkan diundang bertemu langsung dengan Presiden.

Kisah tersebut memang menghangatkan hati banyak orang.

Namun bagi petani kelapa di Inhil, cerita itu justru menyisakan pertanyaan yang sulit mereka sembunyikan.

Mengapa surat seorang anak tentang program MBG bisa begitu cepat sampai ke hati pemimpin negeri, sementara jeritan ribuan petani kelapa yang sudah bertahun-tahun memperjuangkan nasibnya belum juga mendapat perhatian?

“Kami sudah lama mengeluh soal harga kelapa. Pemerintah daerah sudah bersurat, wakil rakyat juga sudah menyampaikan aspirasi. Tapi sampai hari ini kami belum merasa didengar,” ujar M. Ilyas, petani kelapa asal Inhil.

Nada suaranya tidak penuh amarah. Yang terdengar justru kekecewaan panjang yang dipendam terlalu lama.

Menurutnya, petani tidak iri terhadap perhatian yang diberikan kepada anak-anak penerima program MBG. Mereka justru bersyukur generasi muda mendapat perhatian negara.

Tetapi di balik rasa syukur itu, tersimpan luka yang sulit diabaikan.

“Kami senang anak-anak diperhatikan. Tapi kami juga berharap pemerintah mau melihat kehidupan petani yang setiap hari berjuang dari hasil kelapa,” katanya.

Bagi masyarakat Inhil, persoalan kelapa bukan sekadar soal harga pasar. Ini tentang kehidupan ribuan keluarga.

Tentang orang tua yang terpaksa berutang demi biaya sekolah anak.

Tentang petani yang tetap turun ke kebun meski hasil penjualan tak lagi cukup memenuhi kebutuhan dapur.

Tentang keluarga-keluarga di pesisir yang bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Kami bukan meminta kemewahan,” lanjut Ilyas. “Kami hanya ingin pemerintah benar-benar mendengar perjuangan petani kelapa.”

Di ujung pesisir Riau itu, harapan para petani sebenarnya sangat sederhana: suara mereka sampai ke telinga negara.

Sebab bagi mereka, kelapa bukan hanya pohon yang tumbuh di tanah gambut.

Kelapa adalah hidup mereka sendiri.