
BUALBUAL.com - Anjloknya harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir membuat banyak petani terpukul. Hasil panen yang dulu menjadi penopang kebutuhan keluarga kini tak lagi mampu memberi keuntungan seperti sebelumnya. Di tengah situasi itu, sebagian petani mulai mencari cara agar tetap bisa bertahan.
Salah satu langkah berbeda dilakukan Koko Wijanarko, anak muda asal Desa Baung Rejo Jaya, Kecamatan Pelangiran. Ia memanfaatkan lahan kosong di sela-sela kebun kelapa untuk ditanami jagung manis dan kacang tanah dengan sistem tumpang sari.
Menurut Koko, kebun kelapa sebenarnya masih memiliki potensi tambahan jika dikelola lebih maksimal. Ruang kosong di antara pohon kelapa bisa dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura yang masa panennya lebih cepat.
“Yang penting lahannya tetap produktif. Sambil menunggu kelapa tua, ada pemasukan tambahan dari jagung atau sayuran,” kata Koko Wijanarko Kepada BUALBUAL.com 12/05/26
Saat ini, Koko menggarap sekitar dua hektare lahan. Selain jagung manis, sebagian area juga mulai ditanami kacang tanah. Ia menilai pola tanam campuran menjadi salah satu solusi yang cukup membantu petani di tengah harga kelapa yang belum stabil.
Jagung manis, misalnya, sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar 70 hingga 80 hari. Sedangkan beberapa jenis sayuran bahkan hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk dipanen.
Di tengah kebun kelapa yang biasanya hanya ditumbuhi rumput liar, kini tampak deretan jagung hijau tumbuh subur. Pemandangan itu menjadi simbol bagaimana petani mencoba bertahan dengan cara baru.
Bagi Koko, kondisi sulit justru menjadi dorongan untuk lebih kreatif memanfaatkan lahan. Ia berharap semakin banyak petani, terutama generasi muda, mulai berani mencoba pola tanam tumpang sari agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu komoditas.
Di tengah harga kelapa yang terjun bebas, langkah kecil seperti ini menjadi harapan bahwa petani masih punya ruang untuk bertahan dan bangkit.