
BUALBUAL.com - Menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional bukan sekadar tentang kemampuan baris-berbaris. Di baliknya terdapat keberanian untuk bermimpi, ketekunan menjalani proses, serta tanggung jawab membawa nama daerah ke panggung nasional.
Hal itu dirasakan Rizqy Aditya Siregar, pelajar asal Kabupaten Siak, yang telah menuntaskan tugasnya sebagai Paskibraka Nasional 2026.
Putra pasangan Muhammad Isnaini Siregar dan Dina Afnita tersebut kembali ke Riau setelah menyelesaikan seluruh rangkaian tugasnya di tingkat nasional. Kepulangannya disambut Pemerintah Provinsi Riau sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan yang telah mengharumkan nama daerah.
“Ya, suatu kebanggaan besar bagi saya kembali di sini dan disambut oleh Pemerintah Provinsi Riau. Tentunya kami merasa sangat bangga karena ini suatu amanah besar bagi kami,” ujar Rizqy di VIP Lancang Kuning Pekanbaru, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Rizqy, amanah tersebut bukan hanya tentang dirinya sebagai pelajar yang mewakili Kabupaten Siak. Setiap tahapan seleksi hingga pelaksanaan tugas di tingkat nasional membawa tanggung jawab untuk mengharumkan nama daerah.
“Karena kami bukan hanya membawa diri sendiri. Namun, kami membawa nama daerah, sekolah, keluarga, dan tentunya masyarakat Provinsi Riau,” katanya.
Jauh sebelum berdiri bersama putra-putri terbaik Indonesia, Rizqy hanyalah seorang pelajar asal Siak yang mencoba mengikuti seleksi Paskibraka. Ia mengaku tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa langkah awal tersebut akan membawanya hingga tingkat nasional.
“Ketika pertama kali mendaftar Paskibraka, saya hanya seorang pelajar asal Siak yang tak pernah membayangkan bakal lolos seleksi nasional. Tapi selalu saya tanamkan bahwa harus bisa berhasil,” tuturnya.
Keinginan untuk berhasil menjadi motivasi Rizqy dalam menjalani setiap tahapan seleksi. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan pelajar terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
“Dalam pikiran, ingin membuktikan bahwa saya harus mampu tegak sejajar dengan putra-putri terbaik dari seluruh penjuru Nusantara di Istana Merdeka,” jelasnya.
Namun, perjalanan menuju tingkat nasional tidaklah mudah. Rizqy harus melewati berbagai tahapan seleksi, latihan fisik, pembentukan mental, serta penanaman kedisiplinan yang menjadi bagian dari kesehariannya.
“Perjuangannya jujur aja nggak mudah. Latihan fisik yang menguras tenaga hingga ditempa kedisiplinan mental itu makanan sehari-hari,” ungkapnya.
Rasa lelah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut. Namun, ketika tenaga mulai terkuras, Rizqy kembali mengingat tanggung jawab yang dibawanya, yakni menjaga nama baik Riau.
“Namun, kalau sudah mulai capek saya ingat lagi ada nama baik Riau di pundak ini. Makanya, setelah selesai penampilan kemarin lega banget rasanya,” terangnya.
Bagi Rizqy, keberhasilan menuntaskan tugas sebagai Paskibraka Nasional bukan hanya pencapaian pribadi. Di balik seragam dan tugas yang dijalankan, terdapat dukungan keluarga, sekolah, pemerintah daerah, serta masyarakat yang turut menjadi bagian dari perjuangannya.
Kedua orang tuanya, Muhammad Isnaini Siregar dan Dina Afnita, juga menjadi sosok penting yang selalu memberikan dukungan sejak awal perjalanan. Dukungan keluarga menjadi kekuatan bagi Rizqy ketika tahapan seleksi dan latihan mulai terasa berat.
Kini, setelah seluruh rangkaian tugas berhasil dilewati, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi Rizqy untuk melanjutkan perjalanan sebagai generasi muda. Ia berharap pengalaman selama menjadi Paskibraka dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, tangguh, serta memiliki rasa cinta terhadap daerah dan bangsa.
Rizqy juga berpesan kepada pelajar dan generasi muda agar tidak takut menetapkan cita-cita yang tinggi. Menurutnya, mimpi besar harus disertai keberanian untuk menjalani proses, termasuk ketika proses tersebut membutuhkan pengorbanan dan ketekunan.
“Kepada kawan-kawan atau generasi ke depannya, ingatlah bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Jangan pernah ragu untuk bermimpi besar,” pesannya.
Ia meyakini bahwa setiap kesulitan dalam perjalanan bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk menjatuhkan. Sebaliknya, proses yang berat dapat menjadi ruang untuk membentuk karakter dan menumbuhkan semangat generasi muda.
“Proses yang berat nggak diciptakan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh dan berjiwa nasionalis. Mari terus berkarya, saya yakin kalian pasti bisa juga harumkan nama daerah, baik itu secara nasional maupun di kancah internasional,” pungkasnya.
(MC Riau/bib)