
BUALBUAL.com - Ketua Komisi III, Mu'amar AR, menyoroti keluhan masyarakat terkait rendahnya tegangan listrik yang dinilai masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama di desa-desa yang berada di ujung jaringan distribusi PLN.
Menurut Mu'amar AR, program perluasan jaringan listrik hingga menjangkau dusun-dusun patut diapresiasi. Namun, ia menilai kualitas layanan bagi pelanggan yang sudah terpasang juga perlu menjadi prioritas agar masyarakat dapat menikmati listrik sesuai standar pelayanan.
"Program listrik sampai ke dusun tentu kita dukung. Namun, jangan sampai pelanggan yang sudah ada justru terus mengeluhkan tegangan listrik yang rendah. Persoalan kekurangan daya di daerah harus diselesaikan terlebih dahulu agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat listrik yang layak," ujarnya.
Ia mengatakan, warga di beberapa wilayah, seperti Kotabaru, mengaku mengalami tegangan listrik yang turun hingga sekitar **140–150 volt**, terutama pada waktu beban puncak menjelang Magrib. Kondisi tersebut, menurut keluhan masyarakat yang diterimanya, menyebabkan sejumlah peralatan elektronik tidak berfungsi secara optimal, seperti AC yang tidak dingin, kulkas yang kurang maksimal, hingga dikhawatirkan berpotensi mempercepat kerusakan peralatan rumah tangga.
Mu'amar AR mengingatkan bahwa standar tegangan listrik PLN untuk pelanggan rumah tangga tegangan rendah satu fasa adalah **220 volt**. Berdasarkan standar toleransi pelayanan yang berlaku, tegangan berada dalam kisaran sekitar **198 hingga 231 volt**.
Karena itu, ia berharap PLN segera melakukan evaluasi terhadap kualitas pasokan listrik di wilayah-wilayah yang kerap mengalami penurunan tegangan, khususnya pada jam-jam beban puncak.
"Harapan masyarakat sederhana, bukan hanya jaringan yang sampai ke desa, tetapi juga listrik yang benar-benar berkualitas dan dapat digunakan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," tutupnya.