Mafirion Ungkap 16.000 Hektare Mangrove Inhil Rusak, Ini Peringatan Tegasnya!

Selasa, 27 Oktober 2026

BUALBUAL.com - Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mafirion Syamsuddin Rogo, mengajak seluruh pihak menjaga kelestarian hutan mangrove di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Menurutnya, keberadaan mangrove sangat penting untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menjaga keberlangsungan hidup masyarakat.

Hal itu disampaikan Mafirion saat menghadiri kegiatan penanaman 10.000 bibit mangrove yang digelar DPC PKB Inhil di Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra), Selasa (27/10/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung Ketua DPC PKB Inhil, Iwan Taruna, bersama jajaran pengurus dan anggota DPRD Inhil dari Fraksi PKB dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Penanaman mangrove ini juga merupakan tindak lanjut arahan Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin yang mengajak seluruh kader berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan.

Mafirion mengatakan, hutan mangrove memiliki peran strategis sebagai benteng alami kawasan pesisir. Selain menahan abrasi dan mengurangi dampak gelombang, mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut, seperti ikan, udang, dan kepiting.

“Hutan mangrove Inhil merupakan kekayaan alam yang harus kita jaga bersama. Kelestariannya sangat penting untuk melindungi pantai, menjaga ekosistem laut, dan memastikan masyarakat pesisir tetap memiliki lingkungan yang baik bagi kehidupan generasi mendatang,” ujar Mafirion.

Mafirion menyebutkan, luas hutan mangrove di Kabupaten Inhil mencapai sekitar 131.000 hektare dari total 231.000 hektare kawasan mangrove di Provinsi Riau.

Namun, menurutnya, sekitar 16.000 hektare tutupan mangrove di Inhil telah mengalami kerusakan dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut, kata dia, harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, baik pemerintah daerah, masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya.

Mafirion menegaskan, upaya penyelamatan mangrove tidak cukup hanya melalui kegiatan penanaman bibit. Perawatan, pemantauan, serta keterlibatan aktif masyarakat juga diperlukan agar rehabilitasi berjalan maksimal.

“Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya mangrove setelah abrasi semakin parah dan masyarakat kehilangan lahan serta sumber penghidupannya. Kita harus bertindak sejak sekarang agar alam tetap terjaga dan anak cucu kita masih dapat menikmati manfaatnya,” tegasnya.

Ia berharap penanaman 10.000 bibit mangrove tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong gerakan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Menurut Mafirion, menjaga hutan mangrove bukan hanya persoalan melindungi alam, melainkan juga menyangkut keselamatan kawasan pesisir, keberlangsungan ekonomi masyarakat, serta masa depan generasi mendatang.