Mak Tin dan Makna Sebuah Terobosan di Negeri Seribu Parit

Senin, 23 Maret 2026

BUALBUAL.com - Sejarah tidak selalu datang dengan gemuruh. Kadang ia hadir pelan, namun mengubah arah. Itulah yang terjadi di Indragiri Hilir ketika Yuliantini yang akrab disapa Mak Tin resmi menjadi perempuan pertama yang menduduki kursi Wakil Bupati.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar pergantian kekuasaan yang biasa. Namun jika ditarik lebih dalam, kehadiran Mak Tin adalah sebuah penanda zaman: bahwa ruang politik di daerah pesisir seperti Inhil mulai membuka diri terhadap kepemimpinan perempuan.

Selama ini, politik lokal kerap didominasi oleh figur-figur laki-laki. Bukan karena perempuan tidak mampu, melainkan karena akses dan kesempatan yang belum sepenuhnya setara. Dalam konteks ini, terpilihnya Mak Tin bukan hanya kemenangan personal, tetapi juga kemenangan simbolik bagi perempuan Inhil.

Namun, simbol saja tentu tidak cukup.
Mak Tin datang dengan rekam jejak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dua dekade berada di DPRD Indragiri Hilir menunjukkan bahwa ia bukan sosok yang lahir dari panggung instan. Ia tumbuh dari proses panjang, memahami ritme politik, dan bergulat langsung dengan persoalan masyarakat.

Pengalaman sebagai “orang dalam” legislatif menjadi modal penting. Ia tahu bagaimana anggaran disusun, bagaimana kebijakan dirumuskan, dan yang terpenting bagaimana aspirasi rakyat sering kali terjebak dalam birokrasi yang berliku.
Di titik ini, publik tentu berharap lebih.

Apakah pengalaman panjang itu akan benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak? Ataukah ia akan terjebak dalam rutinitas kekuasaan yang kerap menjauh dari rakyat?
Pertanyaan ini penting, karena sejarah tidak berhenti pada pencapaian, melainkan diuji oleh keberlanjutan.

Di sisi lain, latar belakang Mak Tin sebagai kader perempuan Partai Golkar juga membuka harapan baru, terutama dalam isu-isu yang selama ini kerap terpinggirkan: pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, hingga penguatan peran keluarga dalam pembangunan daerah.

Jika mampu memaksimalkan peran tersebut, Mak Tin tidak hanya akan dikenang sebagai perempuan pertama yang menjabat, tetapi sebagai pemimpin yang benar-benar membawa perubahan.
Akhirnya, kehadiran Mak Tin adalah cermin dari dinamika masyarakat Inhil hari ini—masyarakat yang mulai bergerak menuju kesetaraan, meski perlahan.

Dan seperti semua sejarah, yang paling menentukan bukanlah siapa yang pertama, tetapi apa yang dilakukan setelahnya.