Mantap, Pengusaha Muda Anak Suku Sakai Aksen Menjalankan Proyek RIG dibawah Naungan Pertamina Hulu Rokan

Selasa, 08 September 2026

DURI,BUALBUAL.COM -- Pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia khusus nya di Riau. "Usman Bahri S.A.P".,sang anak Sakai yg berhasil menjadi putra daerah lokal pertama yang berhasil menjalankanProyek  Plug & Abandon PHR.

Setelah sempat vakum sejak Desember 2025, proyek Plug & Abandon di lingkungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali beroperasi. Kelanjutan proyek tersebut kini melibatkan PT Seikha Putri Sakai Riau (SPSR) melalui kerja sama operasi (KSO) dengan PT Prakarsa Pramandita (PRP)

Bertepatan di Yard PT SPSR di jalan rangau km6 duri lokasi syukuran, Usman Bahari S.A.P selaku Owner PT SPSR,mengucapkan rasa syukur yang tak henti- hentinya atas apa yg menjadi sejarah hari ini, bahwa anak Sakai bisa dan mampu menjadi pelopor perusahaan lokal yang bisa bekerja langsung dibawah naungan Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Dan ini membuktikan bahwa anak Sakai juga bisa memiliki RIG sendiri dan mengerjakan proyek perminyakan, tuturnya.

Dan ucapan terimakasih juga saya sampaikan untuk Pertamina Hulu Rokan yang memberikan kesempatan untuk kami anak Sakai, anak lokal untuk mengerjakan proyek ini, dan harapan kami kedepan kerjasama ini terus berkembang dan bisa diberikan kepercayaan untuk proyek- proyek besar Berikutnya.

PT Seikha Putri Sakai Riau (SPSR) mulai mengambil peran dalam kelanjutan proyek tersebut sejak 23 April 2026. Dalam kerja sama operasi itu, manajemen proyek berada di bawah SPSR, termasuk pembiayaan yang ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan lokal tersebut.

Direktur Operasional PT Seikha Putri Sakai Riau, Indra Verniza Dt Mangiang, Senin (7/9/2026), menjelaskan bahwa sebelumnya proyek tidak dapat dilanjutkan karena berbagai kendala. Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan operasional RIG terhenti dan para pekerja tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya.

"Sejak Desember 2025 sampai kemarin kegiatan RIG vakum, tidak beroperasi dan karyawan tidak bekerja. Namun sejak KSO antara PT Prakarsa Pramandita dengan PT. Seikha Putri Sakai Riau (SPSR), kami mulai mengambil langkah untuk melanjutkan proyek ini," ujar Indra.

Menurutnya, sejak pengelolaan berada di bawah SPSR, berbagai persoalan mulai ditangani secara bertahap. Tidak hanya menyangkut kemaslahatan karyawan, perusahaan juga melakukan pengadaan kembali sejumlah peralatan RIG yang sebelumnya sudah tidak tersedia.

"Alhamdulillah masalah kemaslahatan karyawan sudah bisa kami tanggulangi. Peralatan RIG yang sebelumnya banyak hilang akhirnya bisa kami adakan kembali," katanya.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah melalui proses pemeriksaan dan persiapan, pihak PHR menyatakan rig yang digunakan telah memenuhi kelayakan untuk kembali beroperasi.

"Seminggu lalu dari PHR sudah dinyatakan layak untuk mulai beroperasi kembali. SPK juga sudah turun dan kami sudah mempersiapkan RIG beserta kru atau manpower. Semuanya sudah siap untuk bekerja kembali," jelasnya.

Dengan demikian, proyek yang sebelumnya vakum sejak Desember 2025 tersebut mulai kembali beroperasi pada Senin, 7 September 2026.Menjadi Sejarah Perusahaan Lokal / Tempatan , dimulainya kembali proyek Plug & Abandon tersebut bukan sekedar kembalinya aktivitas pekerjaan. Momentum ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan lokal mampu membuktikan bahwa putra daerah yang berasal dari Putra Suku Sakai mampu mengambil peran dalam industri Minyak dan Gas.

Sebagai perusahaan lokal yang dimiliki Putra daerah yang berasal dari suku Sakai, SPSR berkomitmen membuka kesempatan bagi masyarakat tempatan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan, khususnya mereka yang memiliki kemampuan dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.

"Yang pertama, kami ingin menjadikan PT. Seikha Putri Sakai Riau (SPSR) ini sebagai wadah bagi orang lokal untuk mencari lapangan pekerjaan dan membantu masyarakat lokal. Mana yang memenuhi kriteria dan reqruitment, tentu akan kami tampung selama memenuhi persyaratan," tegas Indra.

Ia mengatakan, keberadaan perusahaan lokal yang memiliki RIG serta mampu terlibat langsung dalam bisnis perminyakan menjadi sebuah kebanggaan.

"Cita-cita kami adalah menjadi perusahaan RIG lokal yang pertama yang bisa menjadikan ini sebagai tonggak sejarah, bahwa ada anak Sakai yang mempunyai RIG dan punya bisnis perminyakan, Apalagi ini berada di tanah daerahnya sendiri," ungkapnya.

Manajemen PT Seikha Putri Sakai Riau (SPSR) Juga menyampaikan Apresiasi atas dukungan manajemen PHR terhadap keberadaan dan perkembangan perusahaan lokal.

Dukungan tersebut dinilai sangat penting bagi perusahaan daerah untuk dapat terus eksis, berkembang, sekaligus memperoleh pengalaman dalam menangani pekerjaan di sektor industri perminyakan.

Dalam kegiatan Syukuran  yang digelar di yard PT. Seikha Putri Sakai Riau (SPSR) dan PT. Prakarsa Pramandita, Jalan Rangau Kilometer 6, Duri, Senin (07/09/26) pihak PHR turut memberikan Apresiasi terhadap kesungguhan dan komitmen PT. Seikha Putri Sakai Riau (SPSR) dalam melanjutkan proyek tersebut, 

Apresiasi itu disampaikan oleh Vice President (VP)  Petamina Hulu Rokan, saat memberikan kata sambutan.