
BUALBUAL.com - Alhamdulillah, dalam hitungan hari kita akan kembali menyambut bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Setelah sebelas bulan berlalu dalam kesibukan dunia, Allah masih memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang selalu dirindukan oleh setiap hati yang beriman. Tidak semua orang mendapatkan nikmat ini. Banyak saudara kita yang tahun lalu masih bersama, kini telah lebih dahulu menghadap-Nya. Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar tiba, mari kita sambut ia dengan hati yang bersih dan penuh kegembiraan, sebagaimana seorang tuan rumah menyambut tamu agung yang dinanti.
Ramadhan disebut sebagai tamu agung bukan tanpa alasan. Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185. Ramadhan juga menjadi bulan penuh ampunan, ketika pintu-pintu rahmat dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qadr ayat 3.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa memiliki kedudukan istimewa, menjadi rahasia antara hamba dan Penciptanya.
Jika tamu yang datang begitu mulia, sudah sepatutnya kita mempersiapkan sambutan terbaik. Membersihkan hati dari dendam, iri, dan dosa adalah langkah awal agar Ramadhan singgah dengan penuh keberkahan. Perbanyak sedekah, tilawah, dan shalat malam sebagai hidangan amal yang kita siapkan. Sambutlah Ramadhan dengan wajah berseri, bukan keluhan karena lapar dan dahaga. Bagi orang beriman, Ramadhan bukan beban, melainkan hadiah terindah.
Namun, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan semangat. Ia juga harus dibekali dengan ilmu. Masih banyak di antara kita yang berpuasa sekadar mengikuti kebiasaan, tanpa memahami fiqh dan adabnya. Padahal, menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, terlebih ilmu tentang ibadah yang akan dijalani selama sebulan penuh. Jangan sampai ketidaktahuan justru mengurangi nilai ibadah kita. Sebelum Ramadhan tiba, luangkan waktu untuk membaca kembali panduan puasa, mengikuti kajian, atau bertanya kepada yang lebih paham.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menyambut Ramadhan dengan kabar gembira. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi” (HR. Ahmad). Para sahabat menyambutnya dengan suka cita. Jika hati terasa berat, lawanlah dengan keyakinan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan dan pahala yang besar.
Agar Ramadhan 2026 menjadi lebih bermakna, kita perlu menetapkan target yang jelas. Misalnya, istiqamah melaksanakan shalat tarawih dan tahajud, menargetkan satu juz Al-Qur’an setiap hari, atau bersedekah secara rutin meski dalam jumlah kecil. Tetapkan pula satu kebiasaan buruk yang benar-benar ingin ditinggalkan setelah Ramadhan. Bulan suci ini adalah momentum terbaik untuk berubah.
Semua itu tentu tidak akan terwujud tanpa doa. Kita sering membaca doa, “Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan.” Perbanyak pula istighfar, doa memohon surga, dan perlindungan dari api neraka. Waktu sahur, menjelang berbuka, dan sepertiga malam terakhir adalah saat-saat mustajab untuk berdoa.
Akhirnya, marilah kita menyambut Ramadhan 2026 dengan persiapan terbaik. Jalani setiap detiknya dengan kesungguhan, seolah ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar, dan menjadikan kita hamba-hamba yang meraih derajat takwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Penulis Oleh: Syafril (Mahasiswa SI – UM Sumbar)