Mengangkat Syiar, Menjunjung Marwah: Penguatan Dakwah dan Keagamaan Berbasis Adat Melayu Riau di Kabupaten Indragiri Hilir

Jumat, 05 Desember 2025

Datuk Dr. Junaidi (Penyelaras Bidang Dakwah Keagamaan LAMR Inhil)

BUALBUAL.com - Dalam tamadun Melayu, terpatri satu pegangan hidup yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Falsafah luhur ini menjadi suluh bagi masyarakat Melayu dalam menata kehidupan, menjaga martabat, dan memelihara warisan keagamaan.

Sejalan dengan itu, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Indragiri HilirWarisanang penting menghadirkan program kerja yang selaras dengan tuntutan agama serta memperkukuh marwah dan budaya Melayu. Program-program ini dirancang sebagai wahana memperteguh identitas, membina akhlak, dan menyinarkan dakwah secara beradab serta penuh hikmah.

1. Safari Dakwah “Adat Bersendi Syarak”

Safari dakwah ini menjadi wasilah menembus kampung-kampung dan pelosok negeri, menghadirkan ulama adat, ninik mamak, serta para dai untuk menyampaikan pesan tauhid, akhlak mulia, dan kemaslahatan umat.
Kegiatan ini menzahirkan bahwa dakwah Melayu adalah dakwah yang beradab—lembut dalam tutur, kuat dalam isi, serta menanamkan kembali tata kehidupan Melayu-Islam yang memuliakan keluarga, menjaga kehormatan, dan menyinari masyarakat dengan nilai-nilai ketauhidan.

2. Majelis Ilmu dan Zikir Melayu

Balai Adat dijadikan medan pencerahan rohani melalui majelis ilmu dan zikir yang tersusun rapi. Di sinilah nilai adat dan syariat ditautkan kembali ke pangkalnya: memurnikan hati, meneguhkan iman, serta menghidupkan amalan yang diwariskan para leluhur berlandaskan Kitabullah dan Sunnah.
Zikir Melayu yang halus, tertib, dan menenangkan menjadi keistimewaan tersendiri, menggambarkan karakter masyarakat Melayu yang santun dan berjiwa tawadhu’.

3. Pembinaan dan Sertifikasi Khatib/Muballigh Melayu

LAMR Inhil memberikan perhatian khusus kepada peningkatan kualitas para khatib dan muballigh sebagai penjaga marwah mimbar dan pewaris amanah dakwah.
Melalui pelatihan fikih, adab bermimbar, retorika Islam, serta pemahaman mendalam mengenai adat dan khazanah kemelayuan, para dai dibekalkan dengan kemampuan yang komprehensif. Sertifikasi resmi LAMR menjadi tanda pengesahan bahwa dakwah yang disampaikan adalah dakwah yang teratur, terarah, serta berakar pada nilai Melayu-Islam.

4. Mendorong Penguatan Rumah Tahfiz dan Pendidikan Qur’an

LAMR Inhil berikhtiar mendorong penguatan Rumah Tahfiz dan lembaga pendidikan Al-Qur’an sebagai pusat melahirkan generasi Qur’ani yang beradab, berilmu, dan berakhlak mulia.
Melalui pendataan yang teratur, pembinaan guru dan santri, bantuan mushaf, serta dukungan moral dan kelembagaan, Rumah Tahfiz didorong menjadi benteng keilmuan yang memelihara wahyu dan membentuk peribadi Muslim yang memuliakan agama serta menjaga marwah keluarga dan masyarakat Melayu.

5. Dakwah Digital Syiar Melayu

Di era digital, teknologi menjadi wahana baru menyampaikan syiar. LAMR Inhil mengembangkan konten dakwah berupa video, tulisan, tazkirah pendek, dan zikir harian yang disampaikan dengan bahasa Melayu yang teratur, indah, dan beradab.
Usaha ini bertujuan memastikan dakwah LAMR tetap relevan bagi generasi kini, sekaligus memancarkan citra bahwa masyarakat Melayu mampu berdakwah dengan cara yang halus tetapi berkesan, santun tetapi tegas pada prinsip.

6. Bantuan Umat dan Gerakan Sedekah Melayu

Sejak dahulu, masyarakat Melayu menjunjung tinggi nilai ihsan dan semangat berkongsi rezeki. Berdasarkan itu, LAMR Inhil menggerakkan bantuan untuk fakir, yatim, muallaf, dan keluarga yang memerlukan.
Gerakan sedekah ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi satu usaha menghidupkan kembali budaya keberkahan, memperkuat hubungan sosial, serta menanamkan kesedaran bahawa kesejahteraan negeri bergantung pada kepedulian sesama anak watan.

7. Perayaan Hari Besar Islam Berbasis Adat

Perayaan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, doa selamat negeri, serta majelis adat lainnya dijalankan dengan memadukan tatacara syariat dan keluhuran adat.
Ulama adat memimpin doa, ninik mamak memuliakan acara, dan masyarakat bersama-sama merayakannya dengan penuh hormat. Inilah jati diri Melayu: agama ditegakkan, adat dimuliakan, marwah dijunjung setinggi-tingginya.

 

Penulis : Datuk Dr. Junaidi 
(Penyelaras Bidang Dakwah Keagamaan LAMR Inhil)