
bualbual.com, Pemerhati budaya melayu di Daik Lingga, Lazuardi mengatakan mandi syafar lazimnya berlangsung disungai-sungai. Ia memiliki makna filosofi alam melayu yang tinggi. Sebagai sebuah kebudayaan juga tradisi dan nilai luhur yang mesti diambil bagi generasi penerus menjaga kelestarian alam. Empat elemen yakni air, api, angin dan udara kata Lazuardi juga dikenal dalam alam melayu. Air memiliki peran cukup besar. Tidak hanya sebagai kebutuhan sehari-hari, air bagi orang-orang muslim sebagai media mensucikan diri lewat wudhu. Tak jarang sebagai media pengobatan. Sedangkan tradisi Mandi Syafar yang selalu digelar pada Rabu Terakhir bulan ke dua Hijriah ini, dipercaya masyarakat sebagai tolak bala. Memohon agar dijauhkan dari segala mala petaka. Bagi umat Islam, bulan Syafar adalah bulan Naas. Banyak riwayat dan hadist yang mengisahkan agar selalu tawaqal dan berhati-hati pada bulan tersebut. Seperti pesan tetua dulu di Daik kepada anak cucunya. “Mandi syafar lazimnya dilaksanakan disungai. Seperti namanya syafar yang berarti jalan-jalan menjadi bumbu ritual ini. Intinya adalah tolak bala dan doa selamat agar terhindar dari bulan naas. Ada air untuk di mandi, ada juga yang diminum dari Sangku sebagai medianya. Para tetua percaya lebih dari 12.000 bala diturunkan pada Rabu terakhir bulan syafar ini. Untuk itu kita mencari keselamatan,” jelas pria yang akrab disapa Pukcu War ini. Sangku kata Pukcu adalah media mangkuk kecil berbahan logam. Bertuliskan kalimah-kalimah tauhid. Ia menjadi media saat kegiatan mandi Syafar berlangsung. Ada pula Wafak. Fungsinya lebih kurang sama namun berbeda media. Ada yang menggunakan daun macang (sejenis daun mangga) ada juga yang bertuliskan disebuah papan kayu.
Wakil Bupati Lingga Muhammad Nizar ikut dalam kegiatan Mandi Syafar di Lubuk Papan. (foto: hasbi)