Ngeri! Limbah PETI Kini Serbu Danau Kebun Nopi, Wisata Andalan Kuansing di Ujung Tanduk

Sabtu, 10 Oktober 2026

BUALBUAL.com - Dampak aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kini tidak lagi hanya mengeruhkan aliran Sungai Kuantan. Limbah lumpur dan sedimentasi dari kawasan hulu telah mencapai Danau Kebun Nopi di Kecamatan Kuantan Mudik, mengancam salah satu destinasi wisata andalan daerah tersebut.

Ironisnya, kondisi itu terlihat di tengah ramainya perayaan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kuantan Singingi. Ribuan masyarakat memadati kawasan Danau Kebun Nopi untuk menyaksikan ajang Pacu Jalur Mini, namun air danau tampak keruh kecokelatan akibat tingginya kandungan lumpur.

Sejumlah warga mengaku kualitas air danau terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menilai pencemaran berasal dari maraknya aktivitas PETI di kawasan hulu, terutama di sekitar Desa Pebaun, yang aliran limbahnya bermuara ke bendungan Danau Kebun Nopi.

"Air danau ini makin hari makin keruh karena di hulu, seperti di Pebaun, dompeng terus beroperasi tanpa henti. Dampaknya terasa sampai ke sini. Padahal kalau airnya bersih, tempat ini sangat berpotensi untuk wisata dan olahraga air," ujar Arman (42).

Selain persoalan pencemaran, warga juga menyoroti banyaknya fasilitas penunjang wisata di sekitar danau yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Sejumlah bangunan yang dibangun untuk mendukung kegiatan olahraga air kini tampak kosong dan kurang terawat.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat menggandeng investor maupun pelaku UMKM untuk menghidupkan kawasan tersebut, misalnya dengan mengubah bangunan yang ada menjadi kafe, restoran, atau pusat kuliner yang menghadap langsung ke danau.

"Sayang sekali bangunan-bangunan megah di sekitar bendungan ini dibiarkan kosong. Kalau dikerjasamakan dengan warga atau investor lokal menjadi kafe atau restoran, kawasan ini bisa hidup setiap hari, bukan hanya saat ada pacu jalur," kata Hendra (38), seorang pedagang.

Secara geografis, Danau Kebun Nopi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata olahraga air. Perairannya yang tenang dinilai layak menjadi lokasi berbagai event, mulai dari kejuaraan dayung, jetski, flyboarding, hingga festival olahraga air berskala nasional maupun internasional.

Pengamat pariwisata Bambang Suherman menilai Danau Kebun Nopi merupakan aset langka di Sumatra. Namun, menurutnya, pengembangan kawasan tersebut akan sulit terwujud jika persoalan lingkungan tidak segera diselesaikan.

"Danau Kebun Nopi memiliki daya dukung yang ideal untuk sport tourism. Tetapi syarat utama wisata air adalah kebersihan dan keamanan perairannya. Wisatawan maupun atlet tentu enggan beraktivitas di danau yang keruh, dangkal akibat sedimentasi, apalagi jika terindikasi tercemar bahan kimia," ujarnya.

Masifnya aktivitas PETI disebut mempercepat pendangkalan dan pencemaran perairan. Selain sedimentasi, penggunaan merkuri dalam proses pemisahan emas juga dikhawatirkan mengancam ekosistem serta kesehatan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai.

Warga bahkan mengaku masih kerap melihat aktivitas PETI berlangsung tidak jauh dari kawasan Danau Kebun Nopi. Kondisi itu memunculkan pertanyaan masyarakat terkait efektivitas penegakan hukum terhadap para pelaku tambang ilegal.

"Masyarakat heran, dompeng masih bekerja hampir setiap hari, bahkan dekat kawasan danau. Ini aset wisata paling berharga yang dimiliki Kuansing. Kalau dibiarkan rusak, apa lagi yang akan diwariskan kepada anak cucu?" ujar Rusli (50).

Meski pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum telah beberapa kali melakukan penertiban, aktivitas PETI disebut kembali muncul setelah operasi berakhir.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum mengambil langkah yang lebih tegas, konsisten, dan berkelanjutan. Selain penindakan, mereka juga mendorong adanya edukasi lingkungan serta penyediaan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat agar kerusakan lingkungan dapat dihentikan dan potensi wisata Danau Kebun Nopi tetap terjaga.