
BUALBUAL.com - Di balik tugas berat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ada pengorbanan besar yang harus dijalani para petugas. Salah satunya dialami Angga Saprianto (37), anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi yang hampir tidak bisa menyaksikan kelahiran anak pertamanya karena harus menjalankan tugas di lapangan.
Selama hampir 10 tahun mengabdi sebagai petugas pemadam karhutla, Angga kini dipercaya sebagai Koordinator Operasional yang membawahi lebih dari seribu personel. Tugasnya tidak hanya mengamankan kawasan konsesi perusahaan, tetapi juga membantu penanganan karhutla di wilayah sekitar hingga radius lima kilometer, bahkan diperbantukan ke provinsi lain saat dibutuhkan.
Pengalaman paling membekas baginya terjadi ketika sang istri, Dwi Rahayu (37), tengah hamil tua dan menunggu persalinan anak pertama. Di saat keluarga bersiap menyambut kelahiran buah hati, Angga justru mendapat penugasan ke luar Provinsi Riau.
Selama hampir satu bulan berada di lokasi tugas, kepulangannya beberapa kali tertunda karena pergantian personel belum memungkinkan. Sementara itu, Dwi harus menjalani hari-hari menjelang persalinan tanpa didampingi sang suami.
"Sabar ya, Nak, kita tunggu ayah pulang dulu," kenang Dwi, mengingat kata-kata yang kerap ia ucapkan kepada bayi dalam kandungannya.
Di sisi lain, Angga mengaku berada dalam situasi yang sulit. Sebagai koordinator operasional, ia harus memastikan proses pemadaman berjalan dengan baik. Namun, sebagai suami, ia juga ingin mendampingi istrinya di momen paling berharga dalam hidup mereka.
Harapan itu akhirnya terwujud setelah sekitar satu bulan bertugas. Saat hendak meninggalkan lokasi operasi, Angga bertemu dengan pimpinannya yang langsung memintanya pulang.
"Pulanglah, sekarang juga," ujar sang pimpinan kala itu.
Setelah beberapa kali gagal pulang tepat waktu, Angga akhirnya tiba di rumah dan berkesempatan menyambut kelahiran anak pertamanya bersama sang istri.
Bagi Angga, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa di balik tugas menjaga hutan dari ancaman kebakaran, ada keluarga yang juga menunggu kepulangannya.
"Sering kali kami dianggap hanya memadamkan api di hutan. Padahal, yang kami jaga bukan sekadar pohon dan tanah. Kami menjaga rumah, masa depan, dan kelangsungan hidup banyak keluarga, termasuk keluarga kami sendiri," ujar Angga.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa di balik perjuangan para petugas pemadam karhutla, tersimpan pengorbanan besar yang sering kali tidak terlihat, demi menjaga lingkungan sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran.