
BUALBUAL.com - Di balik pelukan hangat yang terekam di depan sebuah rumah kayu tua, tersimpan kisah kepedulian dan harapan. Kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh pasangan suami istri konten kreator asal Kecamatan Mandah, Fahro Rozi dan Ario Permatasari, yang terus membuktikan bahwa media sosial bisa menjadi jalan nyata untuk menolong sesama.
Setelah sebelumnya berhasil melaksanakan bedah rumah pertama milik Cik Mahare di Parit Melihat, Desa Igal, kini Fahro Rozi dan Ario Permatasari kembali melanjutkan aksi kemanusiaan mereka. Perhatian keduanya tertuju kepada Cik Mada, seorang janda kurang mampu yang tinggal di Parit Jeluang, Desa Igal, Kabupaten Indragiri Hilir.
Seperti terlihat pada kondisi di lapangan, rumah yang ditempati Cik Beda atau Mada sudah jauh dari kata layak. Dinding papan yang lapuk, lantai yang rusak dan menyatu dengan tanah, serta bangunan yang nyaris roboh menjadi saksi kehidupan berat yang harus dijalani sang janda setiap hari. Rumah itu bukan lagi tempat berlindung yang aman, melainkan bangunan rapuh yang menyimpan kekhawatiran setiap kali hujan turun atau angin kencang datang.
Dalam suasana penuh haru, Ario Permatasari tampak memeluk Cik Mada di depan rumah kayu tua tersebut. Pelukan itu bukan sekadar ungkapan empati, tetapi juga simbol hadirnya harapan baru bagi seorang janda yang selama ini bertahan dalam keterbatasan.
Melihat kondisi tersebut, Fahro Rozi dan Ario Permatasari mengaku hati mereka tergerak untuk kembali mengajak masyarakat berbagi. Keduanya membuka sedekah dari para penggemar dan masyarakat luas guna mewujudkan pembangunan rumah layak huni bagi Cik Mada.
“Setelah membantu Cik Mahare, kami sadar masih banyak saudara kita yang hidup dalam kondisi lebih sulit. Rumah Cik Mada sudah sangat tidak layak. Kami berharap ada orang-orang baik yang tergerak hatinya untuk ikut bersedekah,” ujar Fahro Rozi. 15/12/25
Program sedekah ini dibuka secara terbuka dan transparan, dengan harapan dapat menghimpun dukungan dari berbagai pihak. Bagi Fahro Rozi dan Ario Permatasari, aksi ini bukan semata kegiatan sosial, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk menghadirkan manfaat nyata dari konten yang mereka hasilkan.
Aksi kemanusiaan ini juga menjadi pengingat bahwa media sosial tidak hanya soal popularitas dan jumlah penonton, tetapi bisa menjadi ruang empati, solidaritas, dan kepedulian. Dari sebuah pelukan sederhana di depan rumah rapuh, tumbuh harapan agar Cik Mada kelak dapat memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan bermartabat.
Dengan dukungan dan sedekah dari para dermawan, Fahro Rozi dan Ario Permatasari berharap pembangunan rumah Cik Mada dapat segera terwujud, mengubah duka menjadi harapan, serta menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi seorang janda yang selama ini bertahan dalam kesunyian.