
Bualbual.com - Pekanbaru, Sabtu (08/11/2025)
Bismillah,
Dua minggu lepas, hamba cetoleh pasal meja dan kursi, Hari ini hamba nak tunaikan trilogi kekuasaan dengan benda yang ujungnya runcing macam jarum. Ya, pena.
Kecil bentuknya, tapi besar pengaruhnya. Pena tak bersuara, tapi suaranya menggema di balik setiap tanda tangan, keputusan, dan catatan. Dalam budaya Melayu, pena bukan sekadar alat tulis. Ia lambang ilmu, tanggung jawab, dan kejujuran.
Kata orang tua-tua: “Pena orang berilmu lebih tajam daripada pedang orang berkuasa.” Sebab pedang hanya memutus tubuh, tapi pena bisa memutus nasib banyak orang, baik atau buruk.
Setiap murid, guru, dosen, guru, pengawas, apatah lagi pejabat pastilah butuh pena untuk menulis keputusan, menulis surat, menulis laporan atau pun menulis sejarah. Tapi jarang kita sadar: setiap goresan pena itu juga menulis amal dan niat kita sendiri.
Pena itu seperti saksi diam di balik jabatan. Kalau niatnya tulus, tinta jadi berkat. Kalau niatnya serakah, tinta jadi noda.
Pernah hamba mendengar seorang atasan menegur bawahannya. Katanya, “Kalau menulis surat jabatan, jangan cuma pakai pena. Gunakan juga akal dan marwah.” Sebab pena boleh salah garis, tapi marwah jangan salah arah.” Lama hamba renungkan kata-kata itu.
Ternyata benar — pena yang menulis tanpa adab bisa merusak lebih cepat daripada lidah yang berbicara tanpa pikir. Sebab tulisan tinggal, suara hilang. Maka, wahai pemegang amanah di setiap jabatan, jaga pena Tuan/Puan.
Biarlah tinta kita kering, asal jujur. Biarlah tulisan kita sederhana, asal tak menipu. Karena pada akhirnya, setiap pena akan berhenti menulis. Tapi catatannya akan tetap dibaca, baik di dunia maupun di akhirat.
Jika kursi dan meja suatu hari berganti, biarlah pena yang kita tinggalkan menjadi saksi —bahwa kita pernah duduk dengan adab, bekerja dengan marwah, dan menulis dengan amanah.
Itulah pena di balik jabatan — kecil di tangan, besar dipertanggungjawabkan. ***
Penulis : L.N. Firdaus