
BUALBUAL.com - Anjloknya harga kelapa di tingkat petani kembali menjadi sorotan. Berdasarkan analisis data produksi dan pergerakan harga, petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, diperkirakan mengalami potensi kehilangan pendapatan hingga sekitar Rp12 miliar per hari akibat terus merosotnya harga jual kelapa.
Data yang dihimpun menunjukkan produksi kelapa Inhil mencapai sekitar 6.952.945 butir per hari atau hampir 7 juta butir. Dengan asumsi satu butir setara satu kilogram, produksi yang sangat besar tersebut belum diimbangi dengan daya serap industri pengolahan di daerah.
Harga kelapa yang sebelumnya sempat menyentuh sekitar Rp7.000 per kilogram, terus mengalami penurunan menjadi sekitar Rp4.500–Rp4.700, kemudian turun lagi ke kisaran Rp2.700–Rp2.900, hingga pada akhir Juli 2026 berada di angka sekitar Rp1.800 per kilogram.
Jika dibandingkan dengan harga acuan sebesar Rp3.500 per kilogram, maka terjadi selisih sekitar Rp1.700 per kilogram. Dengan volume produksi harian yang mencapai hampir 7 juta kilogram, potensi kehilangan pendapatan petani diperkirakan mencapai sekitar Rp11,82 miliar per hari, atau lebih dari Rp354 miliar per bulan.
Bahkan apabila pemerintah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp5.000 per kilogram, maka selisih harga dengan kondisi saat ini mencapai Rp3.200 per kilogram. Dalam kondisi tersebut, potensi kehilangan pendapatan petani diperkirakan mencapai sekitar Rp22,25 miliar per hari.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab anjloknya harga kelapa, antara lain tingginya produksi, terbatasnya industri pengolahan di daerah, tata niaga yang masih panjang, panen raya yang berlangsung bersamaan, serta biaya produksi yang tetap tinggi.
Di sisi lain, harga berbagai produk olahan kelapa di pasaran masih tergolong tinggi. Santan segar curah dipasarkan sekitar Rp18.000–Rp22.000 per kilogram, santan premium Rp25.000–Rp30.000, santan beku Rp30.000–Rp38.000, hingga santan bubuk yang mencapai Rp70.000–Rp100.000 per kilogram. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya nilai tambah yang belum dinikmati petani di tingkat hulu.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sejumlah usulan mengemuka, di antaranya penetapan HAP kelapa minimal Rp5.000 per kilogram, memperkuat hilirisasi industri kelapa, membangun lebih banyak pabrik pengolahan di Inhil, memperpendek rantai tata niaga, serta meningkatkan dukungan permodalan dan sarana produksi bagi petani.
Secara keseluruhan, kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kurangnya produksi kelapa, melainkan masih rendahnya kapasitas industri pengolahan dan nilai tambah di daerah. Akibatnya, petani sebagai produsen utama justru menjadi pihak yang paling terdampak ketika harga kelapa terus mengalami penurunan.
Tim Asumsi Analisis "Si Anak Parit" (Analisis berbasis data produksi kelapa, pergerakan harga, dan simulasi potensi kehilangan pendapatan petani menggunakan data BPS Kabupaten Indragiri Hilir, Dinas Pertanian, serta asumsi perhitungan yang disusun oleh Tim Si Anak Parit. Hasil analisis merupakan estimasi dan bukan data resmi pemerintah).