
BUALBUAL.com - PSPS Pekanbaru berhasil melakukan comeback dan mengalahkan Sumsel United dengan skor 2-1 dalam pertandingan di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Sabtu (26/9/2026).
Namun, kemenangan tersebut diwarnai protes terhadap kepemimpinan wasit. Pelatih PSPS Pekanbaru, Akhyar Ilyas, menyoroti sejumlah keputusan wasit, termasuk dugaan ucapan kasar yang dilontarkan kepada pemainnya.
Dalam konferensi pers seusai pertandingan, Akhyar mengawali pernyataannya dengan mengungkapkan rasa syukur atas kemenangan PSPS. Ia menyebut timnya sempat melakukan kesalahan sehingga kebobolan gol pada babak pertama.
“Alhamdulillah atas hasil pertandingan hari ini. Kami diberi kemenangan 2-1. Pertandingan hari ini cukup menarik. Di awal pertandingan kita sempat kecolongan gol yang begitu mudah,” kata Akhyar.
Menurut Akhyar, PSPS melakukan sejumlah perbaikan pada babak kedua. Para pemain diminta lebih sabar dalam membangun serangan serta menghindari kesalahan-kesalahan kecil.
Perubahan tersebut membuahkan hasil. PSPS mampu mencetak dua gol sekaligus membalikkan keadaan menjadi 2-1. Akhyar juga mengapresiasi kerja keras para pemainnya dan tetap menghormati penampilan Sumsel United.
Meski demikian, Akhyar kemudian menyoroti kepemimpinan wasit. Ia mengaku melihat sejumlah keputusan yang menurutnya keliru, terutama terkait dugaan ucapan kasar kepada pemain PSPS.
“Sebenarnya saya tidak ingin membicarakan soal kinerja wasit. Saya melihat ada beberapa kesalahan keputusan wasit. Yang paling menyakitkan buat saya adalah ketika dia mengatakan hal kotor terhadap pemain saya,” ujarnya.
Akhyar menyebut wasit Ginanjar diduga melontarkan kata kasar kepada salah seorang pemain PSPS. Ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari PSSI.
“Jika ada yang mengatakan hal seperti itu, saya pikir ini butuh perhatian khusus dari PSSI,” katanya.
Akhyar juga mempertanyakan tindakan wasit yang menurutnya langsung memanggil wasit tengah untuk memberikan kartu kuning kepadanya ketika menyampaikan protes.
“Kita sudah cukup respect dengan kerja wasit dan saya berharap wasit juga respect dengan kerja partai dan pemain di lapangan,” ujarnya.
Pemain bertahan PSPS, Ihsan Siregar, turut menceritakan kejadian tersebut. Ia mengaku sempat menyampaikan protes kepada wasit dan terkejut dengan respons yang diterimanya.
“Tadi saya agak protes sedikit, tapi wasitnya langsung mau mengancam kartu kuning dan mengatakan ‘anjing’, katanya. Ya, saya kaget,” ujar Ihsan.
Terlepas dari persoalan tersebut, Akhyar menegaskan kemenangan atas Sumsel United tetap menjadi bahan evaluasi bagi tim. Ia mengatakan PSPS tidak boleh cepat puas meski berhasil meraih hasil positif dalam dua pertandingan beruntun.
“Tidak ada kata cukup. Setiap hari kita melakukan evaluasi. Di setiap pertandingan pasti ada kesalahan, dan dari kesalahan itu kita selalu belajar, baik dalam posisi kalah ataupun menang,” katanya.
Akhyar berharap hasil positif tersebut dapat berlanjut pada pertandingan berikutnya. Ia meminta para pemain tetap fokus dan tidak jemawa dengan hasil yang telah diraih.
Dukungan suporter juga menjadi perhatian Akhyar. Menurutnya, kehadiran pendukung memberikan energi tambahan bagi PSPS, terutama saat tim berusaha mengejar ketertinggalan pada babak kedua.
Ia mengapresiasi para suporter yang hadir dan memberikan dukungan sepanjang pertandingan.
Terkait regulasi pemain muda serta dibukanya kembali kesempatan bagi suporter untuk hadir di stadion, Akhyar menilai kebijakan tersebut dapat membuat kompetisi sepak bola semakin menarik.
“Kehadiran suporter ini membuat sepak bola lebih menarik. Kita punya kesempatan lebih untuk mendukung tim kesayangan di mana pun, tentunya dengan aturan yang bisa kita jalankan dengan baik,” tuturnya.
Kemenangan atas Sumsel United membuat PSPS Pekanbaru membawa pulang tiga poin dari Jakabaring. Di sisi lain, pertandingan tersebut juga menyisakan catatan dari Akhyar terkait kepemimpinan wasit yang diharapkannya dapat menjadi perhatian penyelenggara kompetisi.