Reteh Ku Sayang, Reteh Ku Malang: Infrastruktur Rusak, Musibah Kebakaranpun Datang

Minggu, 12 April 2026

BUALBUAL.com - Reteh Ku Sayang, Reteh Ku Malang: Jalan Rusak, Akses Jauh, Rumah Terbakar

Bang Bual kadang termenung kalau bicara tentang Reteh.

Di satu sisi, ini kampung yang penuh kenangan, penuh harapan.

Tapi di sisi lain, terlalu sering ia jadi cerita tentang kesabaran yang dipaksa.

Reteh ku sayang… tapi Reteh ku malang.

Dan harus diakui, cobaan masyarakat Kecamatan Reteh memang tidak ringan bahkan terasa berat dan datang bertubi-tubi.

Cobaan itu dimulai dari hal paling dasar: jalan.

Bukan rahasia lagi, kondisi jalan di Reteh sudah lama memprihatinkan. Rusak, sulit dilalui, dan jadi penghambat hampir semua aktivitas masyarakat.

Mau berobat, susah.

Mau bawa hasil kebun, lambat.

Mau sekadar beraktivitas, serba terbatas.

“Kalau jalan bagus, hidup kami tak sesulit ini, Bang,” kata seorang warga.

Belum lagi soal akses yang jauh dari pusat kabupaten. Banyak wilayah harus ditempuh lewat jalur laut dengan waktu yang panjang. 

Artinya, setiap urusan selalu butuh perjuangan ekstra, baik ekonomi, pelayanan, apalagi kalau sudah menyangkut keadaan darurat.

Di titik ini saja, sebenarnya masyarakat sudah cukup diuji.

Namun kenyataannya, cobaan itu tidak berhenti di situ.

Dalam kondisi yang serba terbatas, masyarakat Reteh tetap bertahan. Mereka kuat, mereka sabar, mereka saling bantu. Tapi sekuat-kuatnya manusia, tetap ada batasnya.

Dan ketika daya tahan itu sedang diuji, datang lagi musibah yang lebih besar.

Kebakaran hebat di Pulau Kijang menghanguskan ratusan rumah. Api menjalar cepat, melahap pemukiman, meninggalkan warga dalam kepanikan dan kehilangan. Dalam hitungan jam, banyak yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan rasa aman.

Seolah belum cukup dengan kesulitan yang ada, musibah ini datang menambah beban yang sudah berat.

Dan di saat genting itu, kenyataan kembali terasa:

akses yang sulit membuat segalanya jadi lebih berat.

Bantuan penanganan tidak bisa datang cepat. Penanganan tidak bisa maksimal. Semua seperti tertahan oleh persoalan lama yang belum selesai.

“Kalau akses mudah, mungkin tak separah ini,” ujar warga dengan nada pasrah.

Bang Bual melihat, ini bukan sekadar musibah. Ini adalah rangkaian cobaan panjang yang saling berkaitan dimulai dari infrastruktur yang rapuh, lalu diperparah oleh bencana yang datang tanpa ampun.

Yang lebih menyayat, Reteh sebenarnya bukan daerah yang kekurangan orang hebat. Dari tanah ini lahir banyak putra-putri terbaik yang kini menjadi pemangku kebijakan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga di pemerintahan pusat.

Tapi pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab tetap sama:

kenapa kampung halamannya masih harus berjuang seberat ini?

“Orang besar banyak dari sini, Bang. Tapi kampung kami masih tertinggal,” kata warga lagi.

Reteh ku sayang… tapi Reteh ku malang.

Sayang karena masyarakatnya kuat, karena tanahnya penuh potensi.

Malang karena cobaan yang datang seolah tak ada jeda, perhatian sering terlambat, dan pembangunan belum benar-benar menjawab kebutuhan dasar.

Bang Bual tak ingin ini hanya jadi cerita sedih yang berlalu. Harus ada perubahan. Harus ada keberanian untuk membenahi dari akar: infrastruktur, akses, dan kesiapsiagaan.

Karena kalau tidak, maka setiap musibah yang datang ke Reteh bukan lagi sekadar ujian. tapi akibat dari sesuatu yang terlalu lama dibiarkan.

Dan masyarakat Reteh…

sudah terlalu sering diuji, dan terlalu lama menanggung beban yang berat sendirian.