Riau Punya 440 Ribu Hektare Kebun Kelapa! Pemprov Genjot Hilirisasi, Ekonomi Pesisir Jadi Target

Rabu, 04 November 2026

BUALBUAL.com, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memfokuskan strategi penguatan ekonomi daerah melalui optimalisasi hilirisasi komoditas kelapa. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor perkebunan kelapa.

Hal tersebut disampaikan Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Helmi D, dalam kegiatan The 3rd Bedelau yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau di Pekanbaru, Rabu (4/11/2026).

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum tersebut, Riau memiliki peran penting sebagai salah satu sentra utama perkebunan kelapa nasional dengan kontribusi produksi mencapai 14,45 persen.

Total luas areal perkebunan kelapa di Riau tercatat mencapai 440,08 ribu hektare dengan total produksi sebesar 411,28 ribu ton.

“Artinya, ketika kita berbicara tentang hilirisasi kelapa, kita juga sedang berbicara tentang ekonomi pesisir masyarakat yang selama ini bekerja dan menggantungkan penghidupannya pada komoditas kelapa,” ujar Helmi.

### Hilirisasi Kelapa Harus Berikan Nilai Tambah bagi Petani

Helmi menjelaskan, orientasi pengembangan komoditas kelapa saat ini tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah produk yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

Sejumlah industri pengolahan lokal telah menghasilkan berbagai produk turunan kelapa, mulai dari minyak kelapa hingga santan.

Meski demikian, kapasitas produksi dan rantai pasok industri tersebut masih membutuhkan penguatan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.

Di balik potensi besar tersebut, Helmi mengakui sektor perkebunan kelapa di Riau masih menghadapi sejumlah persoalan klasik.

Pada sektor hulu, dominasi tanaman tua dan rusak menjadi salah satu hambatan utama yang berdampak terhadap penurunan produktivitas perkebunan.

Sementara itu, tantangan di sektor hilir meliputi fluktuasi harga, keterbatasan akses pasar, hingga persoalan pembiayaan bagi pelaku usaha dan petani.

“Kita harus memastikan kebun tetap produktif, tata udara berjalan dengan baik, pelindung terlindungi, dan pasar yang bersih,” tegas Helmi.

### Pemprov Riau Dorong Sinergi Lintas Sektor

Lebih lanjut, Helmi berharap berbagai rekomendasi dari hasil kajian dalam kegiatan The 3rd Bedelau dapat menjadi acuan strategis bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan komoditas kelapa di Riau.

Pemprov Riau optimistis sinergi lintas sektor mampu menghasilkan solusi konkret untuk mengatasi berbagai persoalan, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Dengan demikian, hilirisasi kelapa tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir di Provinsi Riau.