Sempat Takut Jadi Beban Orang Tua, Rindi Yani Kini Raih Gelar Sarjana di UIN Suska

Sabtu, 26 September 2026

BUALBUAL.com - Tanah Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, seakan tidak pernah kehabisan cerita tentang perjuangan masyarakatnya dalam mengejar pendidikan.

Dari daerah tersebut, sejumlah kisah tentang anak-anak yang tumbuh dari keluarga sederhana dan kemudian mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi terus bermunculan.

Sebelumnya, perjalanan hidup mantan Gubernur Riau HM Rusli Zainal juga dikenal berasal dari latar belakang keluarga sederhana. Begitu pula Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Kini, cerita serupa kembali datang dari Mandah.

Kali ini, kisah tersebut datang dari keluarga Mhd. Thamrin yang akrab disapa Meren bersama istrinya.

Meren dikenal sebagai buruh harian di pasar Kelurahan Khairiah Mandah. sedangkan istrinya merupakan ibu rumah tangga. Dengan kehidupan yang sederhana dan penghasilan yang tidak selalu tetap, keduanya tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memberikan kesempatan pendidikan terbaik bagi anak mereka.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil.

Putri mereka, Rindi Yani, berhasil menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.

Di balik toga yang dikenakan Rindi Yani, tersimpan perjalanan panjang yang penuh keterbatasan, kekhawatiran, doa, bantuan banyak pihak dan keberanian untuk terus melangkah.

Tak Punya HP Saat Mendaftar Kuliah

Perjalanan Rindi Yani menuju bangku kuliah dimulai dalam kondisi yang sederhana.

Saat hendak mendaftar kuliah pada 2022, Rindi Yani bahkan tidak memiliki telepon genggam. HP yang sebelumnya dimilikinya rusak setelah terkena hujan ketika mengikuti kegiatan pramuka (hiking). 

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti aktif dalam kegiatan kepramukaan.

Ketika mendaftar melalui jalur SNMPTN, Rindi Yani mencatat akun emailnya di selembar kertas agar dapat login menggunakan HP milik temannya.

Awalnya, ia memilih program studi lain. Setelah mempertimbangkan minat dan kemampuannya, Rindi Yani akhirnya memutuskan memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.

Persoalan berikutnya adalah biaya.

Sejak kelas 4 SD hingga bersekolah di MAN, Rindi Yani terbiasa menyisihkan uang jajannya sedikit demi sedikit. Tabungan itu akhirnya terkumpul sekitar Rp3 juta.

Saat menabung, ia bahkan belum mengetahui uang tersebut kelak akan digunakan untuk apa.

Ternyata, tabungan kecil itu menjadi bekal ketika Rindi Yani berangkat ke Pekanbaru sambil menunggu informasi mengenai kelulusan beasiswa KIP-K.

Sempat Takut Menjadi Beban Orang Tua, Persoalan biaya bukan satu-satunya yang membuat Rindi Yani merasa khawatir.

Ia juga takut menyampaikan keinginannya untuk kuliah kepada kedua orang tuanya karena memahami kondisi ekonomi keluarga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tidak selalu mudah. Karena itu, muncul kekhawatiran dalam dirinya.

Bagaimana mungkin ia bisa kuliah sementara kondisi ekonomi keluarga terbatas?

Saking takutnya, Rindi Yani bahkan sempat berdoa agar dirinya tidak lulus.

Bukan karena tidak ingin belajar, tetapi karena ia takut menjadi beban bagi Meren dan istrinya.

Namun, takdir berkata lain. Ketika pengumuman kelulusan tiba, nama Rindi Yani justru dinyatakan lulus.

Ia pun memberanikan diri menyampaikan kabar tersebut kepada kedua orang tuanya.

Kekhawatiran yang selama ini menghantui pikirannya kemudian muncul dalam pembicaraan keluarga.

Suatu hari, Meren pulang bekerja setelah sebelumnya berbincang dengan seorang temannya. Dari pembicaraan itu, muncul kekhawatiran mengenai besarnya biaya kuliah.

Sesampainya di rumah, Meren berkata kepada putrinya,

“Kuliah cari uang Rp30 juta per bulan, mau cari di mana?”

Kalimat tersebut menggambarkan kekhawatiran seorang ayah yang bekerja sebagai buruh harian dan harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, Rindi Yani mencoba meyakinkan ayahnya. Ia mengatakan akan mendaftar beasiswa KIP-K.

“Kalau lulus, saya lanjut. Kalau tidak, saya berhenti.”

Kesempatan itu akhirnya datang. Rindi Yani mendapatkan beasiswa KIP-K dan dapat melanjutkan pendidikan di UIN Suska Riau.

KIP untuk Kebutuhan Harian, Kos Dibantu Orang Baik. Perjalanan kuliah Rindi Yani kemudian dijalani dengan dukungan berbagai pihak.

Beasiswa KIP-K yang diterimanya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan hariannya selama menjalani pendidikan.

Sementara kebutuhan tempat tinggal atau kos mendapat bantuan dari Ibu Septina Primawati dan Bapak Rusli Zainal.

Dukungan juga datang dari keluarga Ibu Hj. Rahimah yang turut membantu Rindi Yani selama menjalani masa pendidikan.

Sebelum bantuan biaya kos dari Ibu Septina Primawati tersedia, Ibu Asmarida juga turut menyampaikan dan mengupayakan bantuan untuk Rindi Yani agar kebutuhan tempat tinggalnya tetap dapat terpenuhi.

Bantuan dari sejumlah pihak tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Rindi Yani menyelesaikan pendidikan.

Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, kehadiran orang-orang yang bersedia membantu membuat langkahnya untuk tetap kuliah menjadi lebih ringan.

Rindi Yani menyadari bahwa perjuangannya hingga menjadi sarjana bukan hanya hasil dari dirinya sendiri.

Ada perjuangan kedua orang tua, ada bantuan orang-orang baik, ada doa masyarakat, serta ada dukungan yang datang pada saat ia membutuhkannya.

Dari Keringat Buruh Harian hingga Mengenakan Toga, Hari demi hari dijalani Rindi Yani.

Ada keterbatasan yang harus dilewati, ada rasa khawatir, ada perjuangan untuk bertahan, serta ada doa yang terus dipanjatkan.

Sementara itu, Meren dan istrinya tetap bekerja dan berusaha semampu mereka.

Meren menjalani pekerjaan sebagai buruh harian, sedangkan istrinya menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama halal dan bisa menjadi jalan untuk mempertahankan kehidupan keluarga.

Rindi Yani pun tidak pernah melupakan perjuangan kedua orang tuanya.

Ia menyampaikan rasa terima kasih karena Ortu Meren dan istrinya telah memberikan kebebasan kepadanya untuk mencari ilmu.

Secara khusus, ia juga mengenang perjuangan sang ibu. Bagi Rindi Yani, ibunya merupakan motivator utama. Seorang perempuan yang banyak mengajarkannya tentang kehidupan, kesabaran dan keberanian menghadapi berbagai keadaan.

Kini, setelah bertahun-tahun melewati berbagai keterbatasan, Rindi Yani akhirnya sampai pada titik yang dahulu mungkin terasa begitu jauh: mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana.

Namun, gelar itu bukan hanya tentang dirinya. Di baliknya ada keringat Meren yang bekerja sebagai buruh harian.

Ada perjuangan sang ibu sebagai ibu rumah tangga. Ada uang jajan yang dikumpulkan sejak sekolah dasar.

Ada selembar kertas tempat mencatat akun email karena tidak memiliki HP.

Ada rasa takut yang pernah membuatnya berdoa agar tidak lulus kuliah.

Ada beasiswa KIP-K yang membantu kebutuhan hariannya.

Ada bantuan biaya kos dari Ibu Septina Primawati dan Bapak Rusli Zainal serta dukungan keluarga Ibu Hj. Rahimah.

Ada pula Ibu Asmarida yang turut mengupayakan bantuan sebelum kebutuhan kos Rindi Yani dibantu Ibu Septina.

Dan ada banyak doa serta dukungan dari masyarakat Mandah. Terima Kasih untuk Masyarakat Mandah

Rindi Yani juga menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Mandah yang selama perjalanan kuliahnya turut memberikan dukungan, baik berupa doa, materi, nasihat maupun tenaga.

Ia menyadari bahwa semua kebaikan tersebut tidak mungkin dibalas satu per satu.

Karena itu, keberhasilan menjadi seorang sarjana ia anggap sebagai amanah.

Ada tanggung jawab yang kini ia rasakan untuk dapat memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat Mandah yang telah ikut menguatkan langkahnya.

Kisah Meren, istrinya, dan Rindi Yani menjadi gambaran bahwa mimpi pendidikan tidak selalu tumbuh dari keluarga yang berkecukupan.

Kadang, mimpi tumbuh dari rumah sederhana. Dari orang tua yang bekerja sebagai buruh harian.

Dari seorang ibu rumah tangga yang terus mendampingi keluarga. Dari uang jajan yang disisihkan sedikit demi sedikit.

Dari rasa takut menjadi beban orang tua. Dari doa yang dipanjatkan dalam keadaan serba terbatas.

Dan dari orang-orang baik yang hadir ketika sebuah keluarga membutuhkan pertolongan.

Hari ini, ketika Rindi Yani telah menyandang gelar sarjana, mungkin Meren dan istrinya tidak membutuhkan panggung besar untuk menceritakan perjuangan mereka.

Cukup melihat anaknya berdiri mengenakan toga.

Sebab di balik senyum seorang sarjana, ada keringat kedua orang tua yang tidak pernah berhenti berjuang.

Dari kehidupan sederhana, lahirlah sebuah pencapaian. Dari keringat buruh harian, tumbuh sebuah harapan. Dan hari ini, harapan itu telah mengenakan toga.

Catatan: Rindi Yani meminta agar foto wajahnya tidak diekspos.