
BUALBUAL.com - Hidup masa kini kerap diukur dari pencapaian dan harta yang terlihat. Kita pun diseret dalam perlombaan tak henti untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Namun, di balik panggung yang gemerlap ini, banyak yang justru merasa hampa dan gelisah. Di sisi lain, hidup yang sederhana dan tenang malah sering dianggap membosankan. Nah, di sinilah kita mulai terjebak dalam pertarungan batin antara dua pilihan hidup.
Pilihan pertama itu adalah mengejar "hidup senang". Pola hidup ini fokus pada hal-hal yang terlihat dan bisa dinikmati seketika, seperti barang mewah, liburan seru, atau sanjungan dari orang lain. Kebahagiaannya datang dari luar diri. Rasa puasnya juga cuma sebentar, seperti efek gula yang cepat hilang. Akibatnya, kita akan terus merasa kurang dan terdorong untuk mencari kesenangan baru yang lebih besar lagi.
Nah, di situlah masalahnya. Upaya untuk terus mempertahankan gaya hidup mewah itu justru menjadi sumber kecemasan itu sendiri. Kita jadi mudah stres memikirkan biaya hidup, khawatir ketinggalan tren, atau cemas jika pencapaian kita kalah dari orang lain. Hidup yang terlihat "sempurna" di media sosial itu keropos di dalamnya. Kita bisa merasa sendiri di tengah keramaian, karena semuanya serba untuk dilihat orang.
Lalu, bagaimana dengan pilihan kedua, yaitu "hidup tenang"? Inilah pola hidup yang justru mengutamakan ketenteraman di dalam hati. Kuncinya ada pada rasa cukup dan syukur atas apa yang sudah dimiliki. Seperti yang diingatkan dalam Al-Qur'an, ketenangan sejati itu datang dengan mengingat Allah. Fondasinya adalah keyakinan bahwa rezeki sudah diatur, sehingga kita bisa lebih legawa. Dari sanalah, kebahagiaan yang sesungguhnya perlahan-lahan dibangun dari dalam.
Manfaat hidup tenang terasa langsung dalam keseharian. Beban pikiran yang kerap mengganggu menjadi lebih ringan karena kita tidak lagi terjebak dalam perlombaan mengejar penilaian orang lain. Tidur pun lebih nyenyak. Kehidupan rumah tangga dan ibadah lebih tenang dan khusyu'. Dari sanalah, kebahagiaan sejati bukan lagi sesuatu yang dikejar, melainkan sesuatu yang dirasakan dan dinikmati dalam setiap momen sederhana.
Lantas, mengapa jalan hidup tenang yang jelas memberi kedamaian ini sering kita abaikan? Budaya kita saat ini seperti pabrik besar yang terus-menerus memproduksi rasa kurang. Media sosial, iklan, dan obrolan sehari-hari tak henti memamerkan standar kesenangan baru yang harus dikejar. Kita pun takut ketinggalan. Padahal, ketenangan batin tak bisa dipamerkan dan tidak terlihat menarik di foto. Akibatnya, kita terus terjebak dalam siklus melelahkan: mengejar kesenangan demi terlihat 'baik-baik saja', padahal di dalam justru semakin jauh dari rasa tenang yang sesungguhnya.
Lalu, adakah jalan tengah agar kita tidak terjebak dalam pilihan hitam-putih? “Solusinya terletak pada keseimbangan dalam menata niat dan prioritas hidup. Agama tidak melarang kita menikmati kesenangan dunia, asal tidak melampaui batas dan melalaikan kewajiban. Kuncinya adalah menata niat dan prioritas. Harta dan pencapaian boleh dikejar, tapi diimbangi dengan sedekah dan rasa syukur. Dengan begitu, kesenangan dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan “sarana” untuk hidup lebih baik dan bermanfaat, sementara ketenangan “batin” tetap menjadi fondasi utamanya.
Jadi, di titik persimpangan ini, coba kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. “Sudahkah kita merasa benar-benar tenang, atau jangan-jangan kita hanya sibuk berpura-pura senang”? Ukurlah bukan dari banyaknya barang di rumah atau likes di media sosial, tapi dari rasa lega di hati saat bangun pagi. Kehidupan seperti apa yang sesungguhnya kita rindukan: yang terlihat sempurna untuk dilihat orang, atau yang terasa tenteram untuk dijalani sendiri? Renungkanlah baik-baik, karena jawaban jujur dari pertanyaan ini akan menentukan arah hidup kita selanjutnya.
Pada akhirnya, hidup adalah rangkaian pilihan. “Dilema antara senang dan tenang ini sebenarnya adalah ujian untuk memilih: “mau bahagia versi siapa”? Kita bisa terus larut dalam keriuhan yang melelahkan. Namun, ketenangan sejati justru hadir dari keberanian memilih kesederhanaan yang bermakna. Di dunia yang semakin gaduh, jiwa yang tenang adalah “kekayaan” paling berharga. Mari kita putuskan untuk berhenti sekadar ikut arus, dan mulai berani memilih keheningan yang membahagiakan.
Penulis : Syafril (Dosen UNISI/Mahasiswa Studi Islam UMSB)