''Siapa yang Menilai?'' Fahro Rozi Pertanyakan Flyer Perbandingan Kerja Dirinya dengan Pemerintah

Rabu, 16 September 2026

BUALBUAL.com - Konten kreator Fahro Rozi dan Ario Permatasari angkat bicara terkait sejumlah flyer (Gsmbar) di media sosial yang belakangan menampilkan dirinya bersama sang istri, Ario Permatasari, dalam berbagai kegiatan sosial dan membandingkannya dengan kerja pemerintah.

Fahro mengatakan, keberadaan flyer yang menampilkan dirinya bukan menjadi persoalan. Namun, ia keberatan apabila kegiatan sosial yang selama ini dilakukan bersama Ario kemudian dijadikan bahan perbandingan dengan pemerintah tanpa mencantumkan siapa pihak yang memberikan penilaian tersebut.

Menurut Fahro, kegiatan sosial yang mereka jalankan selama ini murni berasal dari dukungan para donatur dan pengikut yang mempercayakan sedekah untuk disalurkan kepada masyarakat.

“Untuk diluruskan, kegiatan sosial yang selama ini kami kerjakan itu murni dari donatur yang mendukung kegiatan kami untuk masyarakat,” ujar Fahro Rozi saat di konfirmasi Bualbual.com.

Ia menjelaskan, bersama Ario Permatasari, mereka telah membangun 12 rumah bagi warga janda dan masyarakat kurang mampu. Saat ini, keduanya juga tengah melakukan kegiatan pembangunan jalan bagi masyarakat melalui aksi sedekah dari para pengikut dan donatur.

Fahro menilai, perbandingan antara kegiatan mereka dengan pemerintah harus disikapi secara hati-hati. Sebab, narasi yang dibangun melalui flyer dapat menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

“Keberatan saya bukan tanpa alasan. Narasi yang dibangun seperti pisau bermata dua. Yang ditampilkan di flyer hanya kata perbandingan. Yang jadi pertanyaan saya, siapa orang yang menilai tersebut?” katanya.

Ia pun memberikan contoh sederhana mengenai mekanisme penilaian.

“Kalau kita ikut audisi nyanyi, tentu ada tim penilaian atau juri. Jadi kalau yang menilai itu masyarakat, ya buat atas nama masyarakat. Kalau akademisi yang menilai, silakan cantumkan akademisinya. Kalau tokoh-tokoh masyarakat yang menilai, sebutkan siapa tokohnya,” ujar Fahro.

Menurutnya, dirinya tidak pernah membatasi siapa pun untuk memberikan penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan.

“Saya tidak membatasi teman-teman semua untuk menilai. Silakan, itu hak masing-masing. Namun saya meminta, kalau menilai, siapa sumbernya?” tegasnya.

Fahro menekankan, persoalannya bukan pada perbandingan atau kritik, melainkan bagaimana opini tersebut dibangun dan disampaikan kepada publik.

“Jangan membangun opini seolah-olah itu menjadi penilaian umum tanpa ada sumber yang jelas. Intinya bukan kami takut dibandingkan. Silakan saja membandingkan, tapi harus jelas siapa yang menilai dan apa dasar penilaiannya,” katanya.

Ia juga berharap kegiatan sosial yang selama ini mereka lakukan tidak dijadikan bahan untuk mengadu domba pihak tertentu.

“Kami tidak ingin kegiatan kami diadu domba oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Fahro menegaskan, dirinya bersama Ario selama ini bekerja berdasarkan kepercayaan dan amanah dari para donatur. Keduanya juga tidak mengatasnamakan kelompok atau kepentingan tertentu dalam menjalankan kegiatan sosial.

“Kami bekerja selama ini yang kami pegang adalah kepercayaan dan amanah. Kami tidak bekerja untuk kelompok-kelompok tertentu. Yang kami tahu, apa yang bisa kami kerjakan untuk warga, kami lakukan,” pungkasnya.