
BUALBUAL.com - Wakil Bupati Rokan Hulu (Rohul) H Syafaruddin Poti SH MM dianugerahi gelar adat Kurnio Adat. Gelar tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus amanah dari pemangku adat dan masyarakat Rokan Hulu.
Penganugerahan gelar adat tersebut disampaikan melalui kanal resmi Pemerintah Kabupaten Rohul yang dirilis Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Pemkab Rohul.
Dalam dokumentasi yang dipublikasikan, Syafaruddin Poti tampak mengenakan pakaian adat Melayu lengkap berupa teluk belanga hitam, peci hitam serta songket khas Melayu.
Namun, gelar Kurnio Adat yang disandangnya tidak dimaknai sebatas simbol kehormatan. Di balik gelar tersebut terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga marwah adat, melestarikan budaya serta memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, pemangku adat dan masyarakat.
Syafaruddin Poti menegaskan, gelar yang diterimanya akan menjadi amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.
“Gelar Kurnio Adat ini bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah yang harus saya jaga dan pertanggungjawabkan. Insyaallah, amanah ini akan menjadi motivasi bagi saya untuk terus menjaga adat dan budaya serta memberikan yang terbaik bagi masyarakat Rokan Hulu,” ujarnya, Ahad (4/10/2026).
Sebagai Wakil Bupati Rohul, Syafaruddin diharapkan mampu membawa nilai-nilai adat dan budaya Melayu dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan daerah.
Terlebih, Rohul selama ini dikenal sebagai Negeri Seribu Suluk yang memiliki kekayaan tradisi, adat dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.
Penganugerahan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan lembaga adat dan seluruh elemen masyarakat.
Nilai-nilai adat diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari seremoni, tetapi tetap hidup dan menjadi pijakan dalam membangun daerah.
Dengan gelar Kurnio Adat tersebut, Syafaruddin Poti kini memikul tanggung jawab tambahan sebagai bagian dari masyarakat adat. Amanah itu diharapkan semakin mendekatkannya dengan masyarakat sekaligus memperkuat jembatan antara pemerintahan dan lembaga adat.
Pada akhirnya, gelar tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi menjadi pengingat bagi seorang pemimpin untuk terus menjaga marwah masyarakat, adat dan budaya Rokan Hulu.