
BUALBUAL.com - Puluhan mahasiswa ilmu komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Riau, pengurus Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Kota Pekanbaru, serta masyarakat umum menghadiri bedah buku Cara Gila Menjadi PR: Bertahan & Menang di Era Scroll 3 Detik karya RHR Dodi Sarjana di Aula Institut Kesehatan dan Teknologi Al-Insyirah Pekanbaru, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan tersebut digelar bersempena Musyawarah Cabang (Muscab) IV Perhumas Kota Pekanbaru. Bedah buku menghadirkan langsung penulisnya, RHR Dodi Sarjana, dengan pembahas Assoc. Prof. Eka Putra ST, MSc, PhD, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau. Diskusi dipandu oleh Satria Utama Batubara.
Ketua Perhumas Kota Pekanbaru terpilih, Ian Machyar, menyambut baik pelaksanaan bedah buku tersebut. Menurutnya, buku karya Dodi menghadirkan perspektif baru mengenai praktik kehumasan di tengah pesatnya perkembangan dunia digital.
Ia menilai gagasan yang disampaikan dalam buku tersebut dapat menjadi referensi bagi praktisi humas, mahasiswa komunikasi, hingga masyarakat umum yang ingin memahami dinamika kerja public relations saat ini.
Ian juga berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan di berbagai kampus di Riau agar semakin banyak mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai perkembangan profesi humas.
Dalam pemaparannya, Dodi Sarjana menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari pengalaman panjangnya mengamati dunia komunikasi dari berbagai sudut, mulai dari ruang redaksi, dunia media, hingga praktik kehumasan.
Menurutnya, pola komunikasi telah berubah drastis. Jika dahulu tugas humas dianggap selesai setelah mengirimkan siaran pers kepada media, kini sebuah isu dapat berkembang sangat cepat melalui media sosial, grup percakapan, hingga platform video pendek sebelum akhirnya menjadi perhatian media arus utama.
Karena itu, Dodi menegaskan seorang humas tidak cukup hanya memahami kehumasan. Seorang praktisi PR juga harus menguasai jurnalistik, storytelling, analisis data, perilaku publik, media sosial, manajemen krisis, hingga strategi bisnis.
Ia menegaskan istilah "gila" dalam judul bukunya bukan berarti bertindak ceroboh atau mengabaikan etika, melainkan keberanian untuk keluar dari pola lama yang sudah tidak lagi relevan.
Menurutnya, humas masa kini harus berani berpikir berbeda, memandang media sebagai bagian dari ekosistem informasi, menggabungkan cara berpikir jurnalistik dengan strategi komunikasi, memanfaatkan data tanpa kehilangan sisi kemanusiaan, bergerak cepat tanpa mengorbankan kebenaran, serta bertanggung jawab atas setiap informasi yang disampaikan.
Sementara itu, Assoc. Prof. Eka Putra menilai buku tersebut mampu menjembatani teori kehumasan dengan praktik di lapangan. Ia menyebut konsep-konsep seperti Narrative Hacking, PR Stunting, dan Empat Otak Humas Gila layak dijadikan bahan pembelajaran di ruang kuliah.
Menurut Eka, kekuatan utama buku itu terletak pada penekanannya bahwa narasi yang kuat harus dibangun di atas fakta yang kuat, sehingga komunikasi publik tetap berlandaskan etika dan kebenaran.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara penulis, pembahas, dan para peserta yang berlangsung antusias.