Koalisi INHIL HEBAT! Menghilang, Bupati Herman Sendirian Hadapi Badai RAPBD 2026
BUALBUAL.com - Pembahasan RAPBD Kabupaten Indragiri Hilir Tahun Anggaran 2026 bukan sekadar rutinitas anggaran. Ia menjelma panggung terbuka yang memperlihatkan wajah asli politik daerah. Di forum inilah publik bisa melihat Bupati Inhil H. Herman berdiri dalam posisi paling rentan—babak belur oleh kritik DPRD, sementara barisan koalisi yang dulu mengusungnya justru nyaris tak bersuara.
Sebagai penulis yang mengikuti dinamika ini, sulit untuk menepis kesan bahwa pemerintah daerah kehilangan kendali narasi. RAPBD 2026 dipresentasikan seperti dokumen teknis semata, padahal ia seharusnya menjadi peta jalan keberpihakan. Ketika belanja rutin kembali mendominasi dan program-program strategis tak mampu dijelaskan manfaat nyatanya, DPRD menemukan celah besar untuk menyerang.
Namun yang paling menyentak bukanlah kerasnya kritik dewan. Yang paling mengganggu nalar publik adalah sikap Koalisi Inhil Hebat. Koalisi yang saat Pilkada tampil penuh percaya diri, kini justru terkesan menghilang saat kepala daerahnya diuji. Tidak ada sikap politik yang tegas. Tidak ada upaya serius membangun pertahanan argumentatif. Bahkan, sebagian justru ikut menambah luka.
Di titik ini, saya melihat ada persoalan lebih besar dari sekadar RAPBD. Ada krisis komitmen. Koalisi di Inhil tampaknya dibangun dengan semangat menang, bukan semangat memerintah. Ketika kemenangan telah diraih dan kekuasaan berjalan, masing-masing kembali pada kepentingan sendiri-sendiri.
Kepala daerah pun dibiarkan sendirian menghadapi badai. Tentu, Bupati Herman tidak sepenuhnya bisa berlindung di balik absennya koalisi. Kepemimpinan adalah tentang keberanian membaca situasi. Ketika dukungan politik melemah, seharusnya ada langkah korektif: memperkuat komunikasi, merapikan prioritas anggaran, dan menghadirkan kebijakan yang mudah dipahami serta dirasakan rakyat. Tanpa itu, pembahasan RAPBD akan terus menjadi ajang saling curiga, bukan kolaborasi.
RAPBD 2026 seharusnya menjadi momentum konsolidasi, bukan ajang saling menjatuhkan.
Sayangnya, yang terlihat justru sebaliknya. Pemerintah sibuk bertahan, DPRD sibuk menekan, sementara rakyat hanya bisa menonton dari kejauhan, berharap anggaran ini benar-benar membawa perubahan.
Sebagai penutup kata, jika Koalisi Inhil Hebat hanya hadir saat baliho dicetak dan suara dihitung, lalu menghilang saat tanggung jawab anggaran dibahas, maka publik patut curiga: koalisi ini bukan alat perubahan, melainkan sekadar kendaraan kekuasaan.
Dan jika Bupati terus dibiarkan “babak belur” tanpa perlindungan politik yang sehat, jangan heran bila RAPBD ke depan bukan lagi soal membangun Indragiri Hilir, melainkan soal siapa yang paling kuat bertahan di tengah tarik-menarik kepentingan.
Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras berdebat di ruang sidang. Sejarah hanya mencatat satu hal: apakah kekuasaan digunakan untuk kepentingan rakyat, atau dihabiskan untuk mengurus koalisi yang rapuh dan saling meninggalkan. ***
Oleh: H. Kartika Roni

Berita Lainnya
Muscam Golkar Mandah Sukses Digelar, HM Wardan Minta Jajaran Pengurus Kompak
Ferryandi Ingin Sepakbola Inhil Seperti Zaman Alm Indra Muchlis
Ahmad Tamimi 'NIAT BERPOLITIK' Posisi Strategis Sebagai Penentu Kebijakan
Sungkem dengan Tuan Guru Babussalam, Sebagai Zuriat Iyeth Bustami Mohon Doa Restu
Sempat di Terjang Badai, Puluhan Ribu Warga Perawang Tetap Antusias Sambut Kehadiran Cagubri Abdul Wahid dan UAS
Paslon Nomor Urut 1 Siap Dukung Kegiatan Pemuda Kreatif di Kabupaten Bengkalis
Dinamika Musda Golkar Purwakarta Menghangat, Kosgoro 1957 Pilih Wait and See
Jelang Pemilu 2024, Edy Indra Kesuma Hengkang dari PPP Gabung ke NasDem
Partai PDIP Dukung Dua Kader Golkar Di Riau
Tim P4TEN Sosialisasi dengan Menyebarkan 53 Ribu Buku Doa ke Masyarakat Door to Door
BK DPRD Tubaba Akan Menindaklanjuti Setelah Ada Surat Laporan Fraksi Hanura dan Nasdem
Persatuan Ojek Inhil Deklarasi Dukungan untuk Gus Muhaimin Sebagai Presiden 2024