• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Pemerintah
    • Pemda Indragiri Hilir
    • Pemda Indragiri Hulu
    • Pemda Bengkalis
    • Pemda Kampar
    • Seputar Lampung
    • Seputar Kepri
    • Pemda Provins Riau
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • Pemda Kuansing
    • Pemda Pelalawan
    • Pemda Siak
    • Pemda Dumai
    • Pemda Rokan Hilir
    • Pemko Pekanbaru
    • Pemda Rokan Hulu
    • Indragiri Hulu
    • Kuansing
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Seputar Jabodetabek
    • Seputar Jawab Barat
    • Seputar NTT
    • Seputar NTB
    • Kalimatan Timur
    • Kalimatan Selatan
    • Jambi
    • Pemda Kepulauan Meranti
    • Bintan
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
    • Indragiri Hilir
    • Dumai
  • Nasional
    • Seputar Aceh
    • Seputar Sumut
    • Seputar Kepri
  • Parlemen
    • DPRD Riau
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Kampar
    • DPRD Pelalawan
    • DPRD Kuansing
    • DPRD Inhu
    • DPRD Inhil
    • DPRD Dumai
    • DPRD Rohil
    • DPRD Rohul
    • DPRD Siak
    • DPRD Bengkalis
    • DPRD Meranti
    • DPR RI
    • DPRD Kepri
    • DPRD Tanjungpinang
    • Galery
  • Politik
  • Hukrim
    • Seputar Jawa Barat
  • Peristiwa
    • Seputar Sumbar
  • More
    • Olahraga
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • BUALBUAL VIDEO
    • Pariwisata
    • Lingkungan
    • Entertaiment
    • Agama
    • Sosial
    • Metropolis
    • Teknologi
    • Kulinier
    • Otomotif
    • Advetorial
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Ratusan Peserta Meriahkan Fun Run 8K di Polres Inhu, Semarak Hari Bhayangkara ke-80
21 Juni 2026
Tradisi Perdana di SDN 002 Selayar - Khatam Al Quran dan Halal Bihalal Digelar Bersama
02 April 2026
Tradisi Perdana di SDN 002 Selayar, Khatam Al-Qur’an dan Halal Bihalal Digelar Bersama
02 April 2026
Gerak Cepat Pemko Tanjungpinang, 75 Ton Air Bersih Disalurkan
30 Maret 2026
Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
01 Maret 2026

  • Home
  • Riau

Mereka Tak Ingin Anak-Anak Raijua Hidup dalam Kebodohan "Perjalanan Ke Pulau Karang"

Redaksi

Minggu, 19 Januari 2020 08:11:34 WIB Dibaca : 1376 Kali
Cetak


Di pulau karang Raijua, Roni Pau Djema, Jefrison Haryanto Fernando, Yulius Boni Geti dan anak-anak muda lainnya mendirikan taman bacaan masyarakat. Mereka tak ingin anak-anak di pulau terpencil itu hidup dalam kebodohan. Oleh Hary B Koriun TAK sempat istirahat lama, Yulius datang ke penginapan, mengajak jalan. Hari sudah menjelang sore, sekitar pukul 14.30 Wita. Perjalanan memang harus dilakukan hari ini karena besok pagi sudah harus berangkat kembali ke Sabu. Saya membonceng di motor Nando yang bertukar motor dengan Yulius. Motor Yulius masih terlihat baru. Baru berumur sekitar 6 bulan. Makanya dianggap layak untuk kami berdua menembus “medan perang” –istilah Nando. Mereka mengajak  saya ke Sumur Maja. Jaraknya sekitar 10 menit dari penginapan. Orang menganggapnya sebagai sumur keramat, karena sekering apa pun musim kemarau, sumur ini tetap berair. Ini berbeda dengan sumur-sumur lainnya milik warga. Sebelum sampai, saya membayangkan sumur ini –yang sempat diceritakan juga oleh Dr Sastri Sunarti--  terawat dengan baik karena menjadi salah satu daya tarik wisata yang “dijual” di luar Raijua. Tetapi, semua jauh dari espektasi saya. Setelah memarkirkan kendaraan, tak terlihat ada tanda-tanda kalau daerah ini adalah tempat yang dibangun untuk tujuan wisata. Kecuali plang nama bertuliskan “Sumur Maja”,  tak terlihat tanda-tanda lainnya. “Beginilah kondisinya. Padahal dulu Dinas Pariwisata mengeluarkan uang banyak untuk melakukan revitalisasi lokasi ini,” sungut Nando, lelaki yang pernah ditempatkan di sebagai pegawai di Dinas Pariwisata Sabu Raijua itu. Menuju lokasi sumur yang jaraknya hanya sekitar 50 meter, terlihat ternak babi, sapi, atau kambing berkeliaran di sana. Padahal ada beberapa bangunan dangau dengan atap daun lontar yang dibuat di sekitar sumur. Tujuan dibangun dangau itu jelas, untuk tempat berteduh para wisatawan ketika datang ke sini. Namun kini kondisinya sangat buruk. Selain banyak kotoran ternak di sana-sini, bangunan itu juga sudah tak terurus. Sebagaian atapnya sudah terburai. Saya mendekat ke dekat sumur. Kondisinya juga begitu. Tumbuhan perdu tumbuh di sekitar sumur. Sekali lagi, terlihat tak terawat. Di dalam sumur, terlihat masih ada air.  Meski tidak banyak. “Dulu, bahkan di puncak musim kemarau, sekitar Agustus hingga Oktober, sumur ini tetap berair. Tapi sekarang, baru bulan Mei, airnya tinggal sedikit. Saya tidak tahu apa penyebabnya,” ujar Yulius. Seperti halnya Nando, Yulius juga menggerutu karena pemerintah hanya bisa membangun dengan biaya tinggi untuk bangunan yang tak seberapa ini. Namun tak dianggarkan bagaimana merawatnya agar tetap tujuan wisata yang layak. “Abang bayangkan sendiri, berapa dana yang dikeluarkan untuk membangun dangau ini, juga pagar ini. Tapi kemudian dibiarkan tanpa perawatan,” kata Yulius. Sayang memang. Saya mendengar tentang Sumur Maja ini dari Dr Sastri Sunarti ketika kami masih di Jakarta. Dan tak terbayangkan kalau kondisinya seperti ini. Padahal, konon, mitos dan cerita yang berkembang, sumur ini punya hubungan dengan tokoh bernama Maja, yang kelak ketika dia merantau ke Jawa, menjadi panglima perang hebat dalam sejarah Majapahit, yakni Patih Gajah Mada. Masyarakat Sabu Raijua percaya bahwa Gajah Mada lahir di tanah ini dengan nama Maja. Ketika dia merantau hingga ke tanah Jawa, dia mengubah namanya menjadi Maja. Konon juga, nama Majapahit itu juga nama pilihannya, yang sebagian berasal dari nama aslinya. “Cerita itu, kita antara percaya atau tidak saja. Keyakinan masyarakat di sini memang begitu. Termasuk salah satu peninggalannya adalah Jubah Maja, letaknya di atas bukit,” kata Nando. Tentang Jubah Maja itu, cerita Nando, sangat berhubungan dengan mistis. Jubah itu hanya dikeluarkan dan diperlihatkan ke kalayak ramai dalam setahun sekali saat upacara adat. Untuk membawanya dari tempat dia disimpan, harus ada upacara penyembelihan hewan, yakni babi. Kasarnya, darah babi itu menjadi persembahan tahunan. Ketika saya mengatakan ingin melihat jubah itu, Nando bilang tidak bisa. Panjang prosesnya. Harus ada upacara-upacara panjang, termasuk menyembelih babi itu. Itu pun kalau diperbolehkan oleh tetua adat. Dulu, kata Nando, menurut cerita masyarakat, untuk bisa melihat Jubah Maja itu, harus dipersembahkan darah seorang gadis. Ada kekuatan mistis yang membuat jubah itu bisa memilih sendiri gadis mana yang dipesembahkan. Itu terjadi ratusan tahun dulu yang tingkat kebenarannya juga harus diteliti kembali. Belakangan, darah gadis itu pada prosesnya bisa “ditawar” oleh para pemangku adat untuk diganti dengan darah hewan. Yakni darah babi tersebut. Begitulah cerita dari mulut ke mulut yang memanjang sejak dulu hingga kini. Jubah Maja ini kini disimpan di Desa Ballu. Selain Jubah Maja, juga ada Baju Maja. Baju Maja ini adalah baju yang tingkat kekeramatannya tak setinggi Jubah Maja. Baju Maja dipakai oleh Deo Rai Nadega setiap kali ritual Daba Ae dan Dai Wei. Dipakai dua hari saja dalam setahun. Deo Rai  Nadega yang terletak di Desa Bolua, saat ini dipegang oleh Nyale Dea dari Udu Nadega. Di Pulau/Kecamatan Raijua memiliki dua orang Deo Rai, yakni Deo Rai Nadega dan Deo Rai Nadaibu. Deo Rai Nadega dengan pusat pemerintahan adatnya bernama Kampung Adat dan Megalitik Nadega, dengan rumah jabatan bernama Heo Bona, di Bolua. Sedangkan Deo Rai Nadaibu punya pusat pemerintahan dengan nama Kampung Adat dan Megalitik Nadaibu, dengan nama rumah jabatan Heo Katti. Saat ini yang menjadi Kepala Adat Nadaibu atau Deo Rai Nadaibu adalah Pau Dea dari Udu Nadaibu. “Di Sabu dan Raijua, segala sesuatu yang dilakukan manusia sudah ada aturan adatnya. Dengan mengikuti tatanan adat, kehidupan masyarakat  di sini hingga kini tetap terjaga dengan baik,” kata Nando saat kami berjalan keluar dari Kompleks Sumur Maja. Meninggalkan Kompleks Sumur Maja, kami bertiga kemudian menuju ke arah barat, ke arah wilayah perbukitan. Mulanya kami melewati jalan aspal, tetapi tak sampai 1 km, kembali ke jalan bebatuan. Di kanan-kiri terlihat tanah berbatu karang yang di sela-selanya ada tanaman sorgum yang mulai menguning. Hanya sorgum yang bisa tumbuh di tanah tandus seperti ini karena tanaman ini terbiasa hidup di Afrika dengan kebutuhan air yang minimalis. Semakin ke atas, pemandangan terlihat semakin indah. Kita bisa melihat laut yang biru, juga padang savana yang tandus dengan berbagai jenis ternak di sana yang berusaha memakan rumput yang mulai mengering. Keindahan yang terlihat oleh mata kadang tak memperlihatkan aslinya. Kamuflase. Ada beban yang tak terlihat. Ada penderitaan yang tak terlihat. Semua tertutup oleh pemandangan indah yang menyelimuti. Itu mungkin. Mungkin saja tidak. Motor yang dikendarai Nando mulai masuk ke jalan cor semen dua beriring. Maksudnya, di jalan tersebut ada dua cor semen untuk dua ban mobil. Tentu motor harus memilih salah satu. Kami sudah memasuki Desa Ledeke. Dari tepi Pelabuhan Raijua tadi, jaraknya sekitar 3-4 km. Semakin ke bawah jalanan semakin sulit, tetapi Nando –juga Yulius yang sudah berada di depan--  berusaha mengendarainya dengan baik meski sering oleng ke kanan-kiri. Saya yang duduk di belakang harus ekstra kuat berpegangan. Sampai kemudian tibalah kami di jalan tanah setapak berbatu yang semestinya tak bisa dilewati oleh motor. “Apakah saya perlu turun?” tanya saya ke Nando. “Tak perlu, Bang. Aman,” jawabnya. Kata “aman” itu tak serta-merta membuat saya merasa aman dan nyaman di sadel belakang. Sebab, beberapa kali saya nyaris jatuh dan harus berpegang pada pinggang Nando yang sedikit subur. “Ini ekstrim,” kata saya kemudian. “Raijua memang ekstrim, Bang,” jawabnya lagi sambil tertawa. “Ini belum seberapa dibanding bagaimana penduduk di sini berjuang mempertahankan hidup mereka,” ujar Nando lagi. Untungnya jalan setapak berbatu itu tak lebih panjang lagi. Kami kemudian berbelok ke kiri, sampai pada halaman sebuah rumah semen bagus bercat oren. Di sebelahnya masih ada beberapa ammu ae nga ru koko (rumah adat asli Sabu Raijua). Di sebelah barat pekarangan itu, ternyata sebuah jurang yang di dalamnya tumbuh banyak pohon. Dari kejauhan, Samudera Indonesia terlihat membiru. Inilah markas Taman Bacaan GPS (Generasi Peduli Sesama) “milik” Nando. Salah satu tempat yang menjadi tujuan saya ke Raijua. Sebuah bukti perjuangan Nando dan masyarakat Ledeke untuk ikut mengeluarkan anak-anak dan masyarakat dari buta aksara dan pengetahuan. *** “SAYA sudah bertekat, anak-anak di Ledeke, juga Raijua secara umum,  harus pandai membaca dan menulis, punya pengetahuan luas, dan kelak harus sekolah tinggi. Agar tidak bodoh seperti saya...” Namanya Roni Pau Djema. Ketika saya datang bersama Nando dan Yulius, dia sudah berdiri  di teras rumahnya yang asri itu. Setelah bersalaman dan saya memperkenalkan diri, dia bercerita ihwal dirinya bersedia rumahnya menjadi “markas” GPS. Sebelumnya Nando bercerita bahwa dia tak perlu merayu Roni. Nando mengenal Roni, mereka bercerita tentang dunia pendidikan di Raijua, lalu Nando mengutarakan keinginannya untuk mendirikan semacam taman bacaan dan taman bermain bagi anak-anak di Raijua, terutama di Desa Ledeke. “Bang Roni langsung setuju dan bersedia rumahnya jadi bace camp,” ujar Nando sebelumnya. Roni lahir di Ledeke, 25 Mei 1977. Asli Raijua. Saat saya bertanya tentang jenjang pendidikan yang dilaluinya, dia tersentak, meski terlihat hanya sekilas. Lalu, katanya, “Saya tak tamat SD...” Saya berusaha menurunkan intonasi bicara. Dia kelihatan sedih. Namun kemudian dia bercerita panjang. Baginya, menjadi sebuah kehormatan ketika rumahnya bisa menjadi tempat bagi cita-cita mulia untuk kemajuan pendidikan di Raijua. Dia menyediakan teras rumahnya yang luas ini untuk kegiatan apa pun yang dilakukan oleh Nando dkk. Sambil sesekali menggunakan bahasa Sabu yang terpaksa saya minta Nando menerjemahkan, Roni menyesal karena dulu tak mau melanjutkan sekolah sehingga dia tak sepintar teman-teman seangkatannya. Dia lebih suka bermain ke sana-sini. Namun, dalam hidupnya, dia tak kenal istilah patah arang. Suami dari Novi ini seorang pekerja keras dan ulet. Saat ini dia punya usaha jual-beli rumput laut masyarakat Raijua. Omsetnya sudah lumayan. Namun, di tengah kondisi ekonominya yang membaik ini, Roni merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dia tetap merasa menyesal mengapa dulu tidak sekolah tinggi. Maka, ketika setahun lalu, 2018, Nando datang dan meminta izin agar rumahnya boleh dijadikan tempat untuk Komunitas Baca GPS, Roni tak banyak berpikir. Dia langsung mengiyakan. Maka, dirancanglah sebuah jadwal pertemuan untuk anak-anak tersebut di setiap hari Rabu. Nando kemudian menghubungi beberapa temannya di Kupang, Jakarta, Bali, dan sebagainya agar mau membantu mengirimkan buku-buku untuk mereka. Kemudian datanglah buku-buku tersebut. Banyak buku bacaan anak-anak, juga buku-buku lainnya seperti novel, buku puisi, pengetahuan umum, dan sebagainya. “Saya senang melihat anak-anak membaca dan belajar di sini,” kata Roni. Berjalan beberapa bulan, jumlah anak-anak yang datang dan berkumpul semakin banyak. Mereka ada yang sudah bisa membaca dan ada yang belum. Yang sudah bisa membaca, mereka membaca buku-buku teks. Sedang yang belum, mereka melihat-lihat gambar dalam buku yang ada. Mereka tidak hanya anak-anak  Desa Ledeke, tetapi juga dari beberapa desa lainnya, termasuk desa tetangga, Bolua. Melihat kondisi itu, lalu muncul inisiatif mereka agar anak-anak ini diberi pelajaran tambahan. Bagi yang belum mebisa membaca diajadi membaca, yang sudah bisa membaca diajari bahasa Inggris dan beberapa pelajaran lain seperti matematika dan yang lainnya. Selain itu mereka juga diajak mendengar cerita-cerita lisan, menyanyi, dan sebagainya. “Dulu ada Mas Eko Nugroho yang mengajar bahasa Inggris. Setelah dia pergi, kami sangat kehilangan,” kenang Roni. Eko Nugroho adalah seorang relawan dari Program Indonesia Mengajar yang ditempatkan di Raijua selama setahun. Kata Roni, Eko dengan tulus mengajari anak-anak ini apa saja, terutama bahasa Inggris yang menjadi keahlian pemuda asal Boyolali, Jawa Tengah, itu. Kelas bahasa Inggris menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Sejak kelas itu ada, jumlah anak-anak yang datang di setiap Rabu kadang mencapai 40 anak. “Mas Eko sangat tekun dan sayang kepada anak-anak itu. Dia datang ke sini setelah mengajar di SDN Ledeke. Kadang dia sering pulang jalan kaki ke Ledeunu, tempat kosnya. Jaraknya 3 km lebih. Setelah dia pergi karena programnya sudah selesai, kami semua merasa kehilangan,” ujar Roni lagi. Kata Nando, memang tak mudah mencari relawan seperti Eko Nugroho. Selain punya metode yang baik dan menarik dalam mengajar anak-anak, dia juga tulus, sabar, dan penuh kasih sayang. Dia dekat dengan anak-anak dan mereka dengan mudah bisa memahami apa yang diajarkan. Eko juga yang mengajar beberapa anak  yang mestinya sudah bisa membaca, tetapi belum bisa, padahal sudah ada yang kelas 5 SD. Setelah sekian lama mencari relawan, Nando dan Roni akhirnya menemukan guru bahasa Inggris baru. Dia seorang guru di sebuah SMP di Raijua yang rencananya, seperti juga Eko, akan datang seminggu sekali membantu belajar bahasa Inggris anak-anak di GPS. Guru itu asli Raijua, sehingga bisa untuk program jangka panjang. Selain itu, Nando dan Roni juga berusaha mendekati perkumpulan pemuda-pemudi gereja di Ledeke untuk membantu mengajar dan mengisi materi di GPS. Hal itu sudah terlaksana dan anak-anak kembali antusias belajar. “Nanti kalau Nando pindah ke Sabu lagi, pemuda-pemudi gereja itulah yang akan mengelola GPS agar anak-anak di sini tetap punya ruang belajar di luar sekolah,” kata Roni. Sebagai pamong praja, abdi negara, atau ASN, Nando memang mungkin tak selamanya tinggal di Raijua. Dan GPS ini harus tetap ada di Raijua. Maka, selain Roni yang memang lebih sibuk berbisnis, harus ada orang-orang muda yang masih memiliki semangat untuk meneruskan apa yang dibuat Nando dan Roni ini. Roni juga berharap banyak lembaga yang bersedia mengirimkan buku-buku bacaan. Juga buku-buku dan alat-alat tulis untuk anak-anak di Ledeke ini. Maklumlah, buku-buku dan peralatan tersebut terbilang susah didapat di Raijua. Matahari semakin condong ke barat dan perjalanan harus dilanjutkan. Saya kembali berada di sadel belakang, di boncengan motor yang dikendarai Nando. Perjalanan menuju ke jantung Raijua...(bersambung) /




Berita Lainnya

Bawaslu Diturunkan 105 APK, PAN Terbanyak Melanggar

Aksi kocak Seorang Pemuda Laporkan Banjir Depok ini Bikin Tepuk Jidat

Partai PAN dan Golkar Resmi Mendukung HM Wardan di Pilkada Inhil 2018

Babinsa dan Personil Koramil 12/Batang Tuaka Bersama masyarakat Laksanakan Pengecekan dan Pendinginan Karhutla

Usai Coblos, Istri JK Kebingungan dan Salah Masukkan Kertas Suara Pemilu 2019

Liverpool Menang 3-2 atas Leicester City

Dimediasi Pemda Inhil, Petani Desa Tanjung Simpang Lakukan Pertemuan dengan Pihak PT THIP

Kapolres Inhil AKBP Cristian Rony Putra Resmikan Kantor Polsek Pulau Burung

Buktikan, Patuhi Imbauan Pemerintah dan Maklumat Kapolri, Nando dan Novella Ikhlas Tunda Resepsi Pernikahan

DPW PPP Riau Mengakui Arah Dukungan Pilgubri Ke Cu Fidau

Gubri Andi Rahman, Buka Acara "GEBU MINANG" dan Bocorkan Kondisi Ekonomi Di Riau

Begini Kronologis Penangkapan Perampokan Satu Keluarga di Desa Bente Kec Mandah

Terkini +INDEKS

Momentum HAN Ke-42, Bupati Inhu Bawa Keceriaan dan Harapan bagi Anak

29 Juli 2026
Misteri Mayat Mengapung di Dermaga PT SAGM Tempuling, ABK Kapal Asal Medan Ditemukan Tak Bernyawa
29 Juli 2026
Lulus Sudah Lama Tapi Ijazah Belum Diambil, Ribuan Alumni SMA/SMK Riau Diminta Segera Datang
29 Juli 2026
Sempat Dicegat Massa, Polisi Tetap Hancurkan Mesin PETI di Sungai Kuantan
29 Juli 2026
Harimau Sumatera Teror Warga Inhil, BBKSDA Pasang Kamera Trap dan Pantau dengan Drone
29 Juli 2026
Riau Jadi Pintu Masuk Narkoba Internasional, Polisi Musnahkan Barang Haram Senilai Rp69,7 Miliar
29 Juli 2026
Jalan Kuala Cinaku Menuju Inhil Rusak Akibat Aktivitas Truk Batu Bara, DPRD Riau Minta Pemprov Bertindak
29 Juli 2026
Terbongkar! Modus ''Nikah Batin'' Berkedok Pengobatan, Dukun 75 Tahun Ditangkap Polisi
29 Juli 2026
Awalnya Hanya Asap, Berakhir Petaka! Kronologi Kebakaran Hebat di Jalan Veteran Tembilahan
29 Juli 2026
Bendahara Satpol PP Bengkalis Ditahan! Dugaan Korupsi Rp1,4 Miliar Akhirnya Terbongkar
29 Juli 2026

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Dulu Kaya dari Kelapa, Kini Petani Menjerit: Siapa yang Menikmati ''Telur Emas'' Inhil?
  • 2 Mengejutkan! Uang Saku Pelajar Kini Terancam Habis di Judi Online, Ini Penyebab Utamanya
  • 3 PAN Inhil Panaskan Mesin Politik! Sahidin Targetkan Perubahan Besar untuk Masyarakat
  • 4 Ketum MKA LAMR Beri Restu Penuh! Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 Dipastikan Jadi Helat Budaya Terbesar
  • 5 Haris Kampay Tak Berhenti Berinovasi, Kini Bidik Proyek Kelistrikan untuk Tambah PAD Riau
  • 6 Menyamar Jadi Petugas PLN, Dua Pencuri Kabel di Kandis Diburu Warga dan Polisi, Berakhir Dibekuk!
  • 7 Heboh di Bengkalis! 7 Kg Sabu Dikubur di Tanah dan Kebun Sawit, 3 Pengedar Dibekuk Polda Riau
  • 8 Deretan Nama Besar Hadir! Pernikahan Andrigo dan Titin Diprediksi Jadi Pesta Terwow di Inhil
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Bualbual.com ©2020 | All Rights Reserved By Delapan Media