Kamu Harus Tahu! Inilah Sejarah dan Lagenda Desa Tanah Merah Inhil
BUALBUAL.com - Diperkirakan sebelum tahun 1907 telah ditemukan daratan yang dapat dijadikan pemukiman atau tempat tinggal oleh perantau-perantau asal Johor (Malaka) yang menyusuri pantai Timur Sumatra dan akhirnya menemukan anak muara yang masuk ke Sungai Indragiri atau Sapat Dalam. Jauh sebelumnya hanya merupakan tempat persinggahan suku Nelayan (Laut) yang menurut kebiasaannya mereka hidup dan beranak pinak di daerah pesisir pantai menggunakan sampan kemudian singgah sambil menunggu air pasang surut.
Kelompok pelacak atau penemu tersebut diperkirakan tahun 1898 terlebih dahulu singgah dipantai-pantai dan mempersuntingkan gadis-gadis di Sungai Luar yang kemudian mereka menyelusuri alur sungai dan akhirnya menemukan Sungai Pinang atau Parit Hantu yang cocok dijadikan lahan pertanian. Berita penemuan lahan pertanian di Sungai Indragiri (Sapat Dalam) tersiar luas sampai ke Johor (Malaka), maka berdatanglah perantau-perantau lainnya untuk membuka perkebunan sebagai lahan pertanian pada tahun 1907 yang dipelopori oleh : Sake, Supu, Palla, Jumpai, dan Kasim.
Disamping perantau yang telah membuka parit sebagai lahan pertanian, maka berdatangan pula perantau-perantau SOA TAO CINA sekitar tahun 1917 seperti Tan Ki Mui, Seng Ki Cio, Seng Cong Peng, Ape Daki, Hai Ki Lang, Heng Lang atau yang lebih dikenal dengan APEK ARANG. Kemudian perantau Cina ini berhasil mendirikan Togo, Jermal dan Pembakaran Arang. sedangkan suku-suku yang lain berusaha dibidang perikanan yang pertama kali adalah Buluk, Kallabe, Latif, dan Kuraga. Mereka ini mula-mula membangun kelong atau belat sebagai sumber penghasilan dalam menunjang berbagai bidang usahanya.
Makin hari makin ramailah tempat ini dijadikan orang sebagai suatu tempat tinggal. pada waktu itu daerah ini belum mempunyai nama, hanya merupakan tempat tinggal beberapa orang (Penduduk) yang lebih dikenal dengan nama “BAGAN ARANG“, bekas dan sisa pembakaran yang menyatu dengan tanah kemudian menjadi warna merah, maka dikenallah dengan nama TANAH MERAH. Keberadaan TANAH MERAH berkaitan dengan nama “KUALA ENOK” menurut hasil beberapa keterangan dari beberapa orang tua dan sumber, menyatakan bahwa jauh sebelumnya daerah atau nama ini sudah ada di hulu sungai (Sungai Enok) yang telah mempunyai pemerintahan setingkat dengan kecamatan, nama tersebut “ENOK” sedang KUALA ENOK berada dimuara sungai, maka dinamakan “KUALA ENOK”. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1981 tentang Pembentukan Kecamatan Keritang, Kecamatan Batang Tuaka dan Kecamatan Tanah Merah di Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir dalam wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Riau tanggal 21 Mei 1981 pasal 3, bahwa Perwakilan Kecamatan Enok di Kuala Enok di Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir ditetapkan menjadi Kecamatan Tanah Merah sebagai pusat pemerintahan yang berkedudukan di KUALA.
DESA TANAH MERAHmemiliki ciri khas tersendiri dengan sebutan Kampung Laut adalah sebuah kampung yang masyarakatnya didominasi oleh Masyarakat Suku Nelayan yang mana pada masa itu dipimpin oleh Kepala Kampung dengan sebutan lain sebagai PENGHULU, dengan Penghulu Pertama bernama DATUK BELIMBING alias TUK GIMBENG, kemudian dilanjutkan atas ketokohannya dinobatkan sebagai Penghulu TUK IBRAHIM beliau adalah tokoh masyarakat Suku Nelayan (Laut) pada saat itu dipercaya untuk memimpin Kampung. Berjalan waktu dengan tutup usia dilanjutkan kepemimpinan oleh MUHAMMAD yang lebih dikenal dengan sebutan PENGHULU BOTAK.

Berita Lainnya
Besok, 500 Tim Gabungan Akan Turun Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Kota Tembilahan
Diduga Konsleting Listrik, Rumah Warga Bengkalis Ludes Dilalap Api
Masyarakat Pertanyakan Urgensi Uji Psikolog SIM di Duri Riau 'Dinilai Makin Memberatkan'
Sekdes Rantau Bais Buka Kegiatan Jalan Santai Di Hari Kartini
Api Sempat Padam, Karhutla Terjadi di Ketam Putih Bengkalis
Cawapres Tidak Hadir Pada Debat Pilpres Putaran Kedua 'KPU Perbolehkan'
Ketua Lembaga KPK Inhil: Pilkades Desa Pelanduk Kec Mandah Rentan Terjadi Kecurangan
Ketua PB Hippmih Pekanbaru Berikan Klarifikasi Terkait Muslub 11 Pimpinan Kecamatan
Masih Ingatkah Mak Lampir "Faridah": Ini Kehidupannya Sekarang
Ayo ke Aneka Jus dan Kopi Aceh Garuda Saja, Nobar Debat Capres Sambil Ngopi
Kisah Sayyida Al-Hurra: Ratu Bajak Laut Muslimah yang Membuat Eropa Gentar
Universitas Mana Di Indonesia Yang JK Kritik Bersifat Kesukuan