Mantra Budaya Melayu, Puisi Lama Berkekuatan Ghaib
Pengertian Mantra dalam Budaya Melayu
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mantra adalah susunan kata yang memiliki unsur-unsur sebuah puisi (rima dan irama), biasanya mengandung kekuatan ghaib, dan biasanya juga diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk menangkal kekuatan ghaib yang lainnya. Dalam kajian sastra lama, mantra disebut juga dengan jampi, serapah, cuca, sembur, seru dan tangkal. Mantra termasuk dalam jenis sastra lisan seperti halnya pantun dan syair. Namun pada mantra terbilang lebih khusus karena mantra hanya diucapkan orang tertentu saja, dan dianggap memiliki kekuatan gaib untuk mendapatkan tujuan-tujuan tertentu. Dalam aplikasinya, mantra tergolong pada puisi bebas, karena tidak terikat dengan aturan rima dan sejenisnya. Bahkan adakalanya para pawang yang membacakan mantra sendiri tidak tahu arti dari mantra yang ia baca. Yang diketahui hanyalah kapan mantra itu harus dibaca.
Mantra Sebagai Budaya Melayu
Munculnya mantra sebagai salah satu tradisi budaya melayu salah satunya dilatar belakangi karena kehidupan masyarakat Melayu yang dekat dengan alam. Mantra dianggap memiliki kekuatan gaib yang menyatu dengan alam. Seiring perkembangan kehidupan manusia yang semakin canggih dan jauh dengan alam, tradisi lisan ini mulai ditinggalkan masyarakat. Masyarakat melayu melakukan pewarisan turun temurun mantra terhadap keluarga dan keturunannya sehingga pewarisan budaya itu terjadi. Kekayaan sastra yang dimiliki masyarakat Melayu diwariskan kepada generasi selanjutnya, baik berupa sastra tulisan maupun sastra lisan. Mantra menjadi salah satu warisan sastra lisan yang masih kita temukan sampai saat ini.
Sebelum Islam datang di tanah Melayu, mantra umumnya adalah kata-kata yang identik dengan mambang, hantu dan sejenisnya. Setelah Islam datang mewarnai melayu, sebagian mantra yang ada diubah dan digabungkan dengan ayat-ayat Al Quran. Sebab mantra memang sudah ada di masyarakat melayu, jauh hari sebelum Islam datang. Karena itulah tak heran jika mantera termasuk dalam salah satu sastra melayu yang paling tua.
Namun demikian, ada juga kalangan yang berpendapat, mantra hanyalah sebagian kecil dari keagungan khazanah budaya melayu yang ada, tak perlu menjadikannya sebagai sesuatu yang besar. Sebab pada hakikatnya melayu sendiri merupakan keagungan yang menjadi simbol kearifan, moralitas, intelektualitas, spiritualitas dan nilai-nilai kerohanian. Mantra juga bukan merupakan tradisi yang hanya dimiliki melayu saja. Masyarakat Sunda, Jawa, Madura juga memiliki tradisi tersebut. Menjadikan mantra identik dengan melayu menjadi yang tak begitu utama, karena justru akan mempertentangkan nilai-nilai melayu yang sudah ada.

Berita Lainnya
Syafrizal SE Ajak Lapisan Masyarakat Kabupaten Kampar untuk Diklat
Tampil Memukau, Batik Mandau DWP Bengkalis Juara 2 Lomba Peragaan Batik Daerah se-riau
HDCI Kepri-Batam Adakan Halal Bihalal Diawali Dengan Giat City Riding Untuk Sosialisasi Safety Riding
CSL Berikan Mobil Operasional Buat Perkumpulan Marga Tan
Harta Karun Daera Natuna Kepulauan Riau di Museum Sri Serindit Ranai
Ketua Mujiyat Indra Kurniawan Serahkan SK Kepengurusan PIPTBB
Peresmian Kantor Sekretariat FPII, Ini Pesan Tarmizi Selaku Pembina
231 Siswa PSHT Mesuji Ikuti Kenaikan Sabuk
Survey BPS: Warga Perdesaan Lebih Sering Jalan-Jalan Dibandingkan Warga di Perkotaan
Tampil Memukau, Batik Mandau DWP Bengkalis Juara 2 Lomba Peragaan Batik Daerah se-riau
Wisata Petik Melon Jadi Primadona Baru, Evergreen House Pekanbaru Diserbu Pengunjung
Pets Day Out 2025: Kucing Lucu, Anjing Cerdas, dan Reptil Eksotis Ramaikan Pekanbaru