BPN Bintan Diduga Lalai, Masa Hutan Mangrove Dibuatkan Sertifikat
BUALBUAL.com - Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Bintan (Walibin), H Mursodo angkat bicara dan mengatakan bahwa terkait aktivitas penimbunan yang berada di RT 001/RW 024 yang bersebelahan dengan Perumahan Tekojo, Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.
"Seharusnya yang dipertanyakan itu bukan permasalahan penimbunan yang dilakukan tetapi seharusnya adalah yang mengeluarkan sertifikat atas lahan tersebut yaitu Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) Kabupaten Bintan yang notabene adalah selaku badan yang memberikan kewenangan atas status lahannya dan opsi pembuat sertifikat itu apa alasannya mengeluarkan sertifikat tersebut, yang nyata-nyata lahan tersebut merupakan ekosistem hutan bakau ( Mangrove )," kata H. Mursodo pada awak media saat dikonfirmasi di Kedai Kopi Santuy Kijang, Kamis (04/02/2021).
"Oleh sebab itu lah, penimbunan tetap berjalan karena sertifikat sudah dikeluarkan, dan itu merupakan dasar atas aktifitas penimbunan yang dilakukan," tambahnya.
Jadi, menurut H. Mursodo seharusnya yang harus diklarifikasi itu bukan dari pihak penimbun melainkan ke Agraria atau Badan Pertahanan Nasional (BPN) Kabupaten Bintan yang harus dipertanyakan, sehingga semua permasalahan dapat diselesaikan dan tentu yang diharapkan dalam penimbunan tersebut semua bisa clear.
Menurut data yang didapat bahwa kondisi penimbunan di lapangan ini telah berjalan dari tahun 2014 sampai sekarang, bayangkan saja berapa tahun lamanya.
"Kalau tidak di clearkan mau sampai kapan lagi. Dan apabila tidak diselesaikan, otomatis tahun-tahun berikutnya akan timbul lagi hal seperti ini," ungkapnya.
Mursodo juga mengatakan, cobalah hal ini dikoordinasikan atau diklarifikasi kembali, dari pihak BPN saja sudah meninjau ke lokasi pada tahun 2019. Nah di tahun itu juga terjadi balik nama dalam kepemilikan yang lama dan kepemilikan yang baru di tahun 2019. Jadi pada pada intinya, jika izin penimbunan tersebut batal otomatis penimbunan tidak akan berjalan.
"Dan kita ketahui bersama bahwa sertifikat itu terbit pada tahun 1984 dan sertifikat tersebut diperbaharui di tahun 2014 dan terakhir diperbaharui kembali pada tahun 2019, jadi secara hukumnya sertifikat tanah tersebut tidak ada permasalahannya, dan menurut saya itu wajar saja jikalau pemilik lahan ingin memanfaatkan lahan tersebut," jelasnya.
"Jika permasalahan ini tetap dilanjutkan maka dirinya juga akan mengambil sikap dan dirinya menginginkan akan kejelasan atau klarifikasi dari pihak BPN Bintan," tegas Mursodo.

Berita Lainnya
Kasus Kematian E.S. Belum Jelas, IPSS Minta Polisi Percepat Penyelidikan
Sempat Viral di Medsos, Pelaku Pencuri Deodoran di Indomaret Pekanbaru Masih Dibawah Umur
Mahasiswa Dobrak Pagar dan Bakar Ban di Depan Kantor Bupati Bengkalis
Sempat Dicegat Massa, Polisi Tetap Hancurkan Mesin PETI di Sungai Kuantan
Sopir Ayam Potong Tewas Ditembak Orang yang Tidak Dikenal
Gempa Magnitudo 4,3 Guncang Kuansing, Riau
Polres Inhil Ringkus Seorang Pemuda di Jalan SKB Tembilahan Karena Terbukti Miliki Narkoba Jenis Shabu
Duka Besar Pacu Jalur Kuansing! Pemacu Toduang Hitam Dubalang Sakti Meninggal Dunia
Bocah 9 Tahun Warga Seberang Tembilahan Hilang saat Bermain Layangan, Diduga Jatuh ke Sungai
Jatuh Bangun, Paskibraka di Mandah Inhil Kibarkan Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih
Nekat! Seorang Pria di Pekanbaru Terekam CCTV Larikan Tabung Oksigen dari Klinik Kesehatan
Jembatan Gantung penghubung Jalan Desa Roboh