Tak Pernah Kering Sejak 1928, Sumur Bersejarah Masjid Raya Senapelan Tetap Mengalir
BUALBUAL.com - Sumur tua di lingkungan Masjid Raya Senapelan, Pekanbaru, Riau, bukan sekadar sumber air biasa. Sumber mata air ini menjadi saksi sejarah yang mengalirkan jejak peradaban Islam di kota tersebut sejak hampir satu abad silam. Di balik dinding pelindungnya yang kini kokoh, tersimpan berbagai kisah.
Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan Pekanbaru, H Juli Usman, menuturkan bahwa sumur tersebut dibangun oleh seorang tokoh bernama Haji Sulaiman India sekitar tahun 1928. Sosoknya dikenal sebagai dermawan yang turut berkontribusi dalam pengembangan sarana di kawasan Senapelan pada masa itu.
“Sumur tua ini berdasarkan sejarahnya sudah dibangun oleh Haji Sulaiman India sekitar tahun 1928. Sampai sekarang masih kita gunakan airnya,” ujar H Juli Usman, saat berbincang dengan Tim Media Center Riau di Pekanbaru, Kamis (26/02/2026).
Ia menjelaskan bahwa sumur tersebut bukan hanya peninggalan sejarah tetapi juga masih berfungsi aktif hingga kini. Secara fisik, sumur ini memiliki kedalaman sekitar lima hingga enam meter. Letaknya yang berada di dataran relatif tinggi justru menambah kekaguman masyarakat.
Sebab, meskipun berada di kawasan tinggi, airnya tak pernah kering sejak pertama kali digali hampir seabad lalu. Keberadaan air yang terus mengalir stabil sepanjang tahun menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat.
Bahkan saat musim kemarau melanda Pekanbaru, sumur tua ini tetap menyimpan debit air yang cukup untuk kebutuhan jemaah masjid. Menurut H Juli Usman, orang-orang tua dahulu meyakini bahwa air dari sumur tersebut memiliki khasiat tertentu.
“Alhamdulillah, dari sejak dulu tidak pernah kering walaupun berada di dataran tinggi. Orang-orang tua kita dulu percaya kalau air dari sumur ini berkhasiat menyembuhkan penyakit, makanya banyak jemaah yang mengambil airnya,” jelasnya.
Kepercayaan terhadap khasiat air sumur menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Banyak jemaah yang datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga membawa pulang air secukupnya untuk diminum atau digunakan sebagai ikhtiar penyembuhan.
Seiring perkembangan zaman, pengurus masjid melakukan penataan ulang area sumur. Kini sumur tersebut berada di dalam ruangan khusus dan dilengkapi kerangkeng pelindung untuk menjaga keamanan serta kebersihannya.
Langkah ini diambil agar kelestarian sumur tetap terjaga sebagai bagian dari warisan sejarah. Mata airnya yang jernih dan bersih tetap dipertahankan kualitasnya, sehingga layak digunakan oleh jemaah.
Pengelolaan sumur juga mengikuti standar kebersihan yang lebih modern. Pengurus telah menyediakan sistem filter penyaringan agar air yang keluar dari keran di bagian luar sumur dapat langsung diminum.
“Jadi bagi jemaah atau warga yang mau ambil silakan mengambil secukupnya, kami sudah menyediakan filter penyaringan. Sehingga, keran di bagian luar dekat sumur itu dapat untuk air minum,” ucap H Juli Usman.
Dengan begitu, keberadaan sumur ini melengkapi perjalanan panjang Masjid Raya Senapelan sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Pekanbaru. Masjid dan sumurnya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam perjalanan spiritual masyarakat.
Hampir satu abad berlalu sejak pertama kali digali oleh Haji Sulaiman India, sumur tua itu tetap setia mengalirkan airnya. Menjadi bukti bahwa warisan masa lalu, jika dirawat dengan baik, akan terus memberi manfaat lintas generasi.
Kini, di tengah modernisasi kota dan perubahan zaman, sumur tua Masjid Raya Senapelan berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirasakan langsung manfaatnya. Sehingga, setiap tetes air yang mengalir tanda saksi bisu perjalanan iman dan peradaban di Kota Pekanbaru.

Berita Lainnya
Misteri Kematian Dokter PPDS di Siak Belum Terpecahkan, Polisi Tunggu Hasil Autopsi
Kecelakaan Helikopter TNI, Empat Tewas dan Lima Lainnya Luka-luka
Belum Sempat Jalankan Pekerjaan, Pemilik Excavator Tewas Terjepit di Pulau Kecil Inhil
Diduga Depresi Berpisah dengan Istri dan Anak, Pria 35 Tahun di Riau Gantung Diri
Diduga Ditabrak Truk RAPP, Bocah 7 Tahun Meninggal Dunia di Tempat
Karhutla Kembali Marak di Riau, Terbanyak di Inhu 182 Titik dan di Inhil 15 Titik
UPDATE TERBARU! Korban Diduga Diserang Monyet di Inhil Bertambah Jadi 17 Orang
KPK Kembali Periksa 5 Saksi Terkait Kasus Eks Bupati Bintan
Tak Punya SIKM, 200 Kendaraan Dipaksa Putar Balik Saat Hendak Masuk Depok
Nyaris Makan Korban! Atap Pasar Guntung Roboh Usai Warga Tinggalkan Area
Tabrakan Maut antara Dua Fuso dan Minibus Terjadi di Jalintim Pangkalan Kerinci
Harga Kelapa Anjlok, Pemuda Sungai Buluh Geruduk Kantor Bupati Inhil: Petani Sudah Tak Sanggup Bertahan!