BUALBUAL RAKYAT: Stempel Saja Saya Miskin 'Pandemi Covid-19'
BUALBUAL.com - Memberi stempel suatu sifat yang buruk kepada orang lain adalah perbuatan yang buruk pula. Stempel dapat dianalogikan sebagai "mencap" atau menjustifikasi seseorang itu dengan perbuatan buruk tersebut. Padahal, bisa jadi bahwa ia tidak seperti yang distempelkan atau dicap. Bisa jadi orang hanya melihat kulitnya saja.
Masalahnya, apakah "miskin" adalah perbuatan buruk? Sehingga "menstempel" rumah orang miskin adalah kejahatan? Miskin bukanlah keburukan atau kejahatan. Sahabat nabi banyak yang miskin, bahkan Nabi Muhammad juga memilih hidup miskin. Fatimah, putri tercintanya, hidup miskin bahkan ada pakaiannya yang dijahit sampai 20 tambalan. Aisyah pernah diminta oleh Nabi memilih diri Nabi atau bercerai dengan Nabi dengan imbalan emas sebesar gunung Uhud ketika Aisyah mengeluh dengan keadaannya. Tentu saja Aisyah memilih hidup miskin bersama Rasulullah.
Prof. Akbarizan
Nabi Muhammad seringkali berdoa "Ya Allah hidupkan saya dalam keadaan miskin, wafatkan dalam keadaan miskin, dan kumpulkan saya bersama orang orang miskin pada hari kiamat." Doa ini memgambarkan bahwa Nabi bangga menjadi orang miskin, meskipun hakikatnya Nabi bisa kaya, dan bisa sangat kaya. Nabi bisa hidup mewah, dan glamour. Dari hak harta rampasan perang saja, Nabi bisa memiliki harta yang tak terhingga.
Perbuatan buruk adalah "pemalas" sehingga membuatnya miskin. "Bodoh" tak mau belajar memperbaiki hidup juga buruk. "Mengemis" untuk mengharapkan belas kasih orang adalah lebih buruk. Banyak perbuatan buruk lain yang menyebabkan seseorang jadi miskin. Bila seseorang tidak pemalas, tidak pula tak mau belajar, tidak pula mengemis maka tidak ada yang harus malu atas kondisi miskinnya. Ia telah bekerja keras, belajar dan tidak mengemis, namun ia miskin. Itu adalah kehendak Allah yang ada hikmah besar di belakang itu. Bisa jadi Allah mempersiapkan surga untuknya, kebahagiaan "hakiki", dan anak anak yang sukses dunia akhirat untuknya kemudian.
Stempel saja saya sebagai orang miskin. Saya tak malu dan tak marah sedikitpun. Tapi jangan stempel saya pemalas, dan tak mau belajar memperbaiki hidup. Jangan stempel saya pengemis dan peminta. Saya miskin, tapi saya bahagia. Saya miskin namun memiliki anak anak yang pintar. Meskipun saya miskin, anak anak saya shaleh shalehah. Stempel saja saya miskin.
Saya malu bila saya distempel sebagai orangkaya, karena kekayaan itu bukan milik saya, itu milik Allah. Harta itu hanya titipan Allah yang akan saya pertanggungjawabkan nanti. Apalagi saya distempel orangkaya "bakhil, kedekut, atau sampilik kariang". Jangan stempel saya kaya, STEMPEL SAJA SAYA MISKIN.
| Penulis | : | Prof. Akbarizan |

Berita Lainnya
PPWI Inhil Desak Pemda Inspeksi Seluruh Dapur MBG, Pastikan Pengelolaan Limbah Sesuai Standar
Bupati Inhil Turun Langsung! KNPI Satukan Kekuatan Pemuda Lewat Kopi Morning
Pemuda Pancasila Inhu Bagikan Ratusan Takjil kepada Pengendara di Pematang Reba
DRAMA PEMILIHAN BERAKHIR! PB HMI Tetapkan Givo Vrabora sebagai Ketua Badko Sumbagteng, Dinamika Resmi Usai
Pemuda Gerbang Selatan dan Golkar Riau Salurkan Total Rp60 Juta untuk Korban Kebakaran
Bupati Bengkalis Resmikan MAKO MPC PP Komando Inti Mahatidana Kabupaten Bengkalis
Warga Kelurahan Nagrikaler Gelar Jumat Bersih
Menjadi Terang Bagi Sesama, Srikandi PLN NP UP Tenayan Rayakan Hari Kartini Lewat Aksi Pemberdayaan dan Pendidikan
Sambu Group Raih Dua Penghargaan di Ajang Riau Downstream 2025
Muhammad Rahul Mencuat dengan Dukungan Penuh, Dinilai Jadi Figur Kuat Karang Taruna Riau
Penyaluran CSR PT. BDL Disorot, Warga Gaung Tak Rasakan Manfaat
Kepala Desa Mahato, Rohul Salurkan BLT-DD Tahap I