Pertumbuhan Ekonomi dan Pengendalian Inflasi Kepri Terbaik ke-4 Secara Nasional
BUALBUAL.com - Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad memimpin rapat koordinasi (Rakor) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Provinsi Kepulauan Riau di ruang rapat Lt 2 Kantor Bupati Natuna, Rabu (16/80 dengan tema 'Upaya Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Pengendalian Inflasi, Pengentasan Kemiskinan, Serta Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Terhadap Terjadinya Bencana'.
Dalam rapat singkat ditengah padatnya kegiatan menjelang peringatan hari ulang tahun ke-78 Republik Indonesia kali ini, Ansar berterimakasih kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan FORKOPIMDA Kepri, termasuk Bank Indonesia (BI) Kepri yang andilnya sangat luar biasa.
Semua pihak dinilai telah bersama-sama menunjukkan kinerjanya dengan baik, kompak dan serius sehingga capaian-capaian dalam hal upaya pertumbuhan ekonomi serta program-program pengendalian inflasinya berjalan dengan baik, dan bahkan Kepri berada pada urutan terbaik ke-4 secara nasional serta terbaik se-Sumatera.
"Semua yang telah kita capai merupakan hasil kerja keras kita bersama, baik TNI, Polri, Instansi Vertikal, termasuk BI. Selanjutnya apa-apa yang telah kita bahas dalam rapat singkat ini, akan kita tindaklanjuti dengan rapat teknis nantinya. Kita harus tingkatkan apa-apa yang sudah kita jalankan dengan baik dan kita inventarisir hal-hal yang kita nilai jalannya masih tergolong lambat," kata Ansar dalam kesempatan ini.
Termasuk, Ansar juga menjadikan atensi atas persiapan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pilpres yang akan segera berlangsung di 2024.
"Persiapan Pemilu Legislatif dan Pilpres juga menjadi perhatian penting kita bersama. Kondusifitas keamanan dan ketentraman harus kita ciptakan dan terjaga di Kepri," ujarnya.
Ansar menekankan agar apa-apa yang menjadi penyebab inflasi di Kepri bisa dikontrol terus. Seperti ketersediaan cabai, telur dan sebagainya.
"Income perkapita dan pengendalian inflasi tentu harus berjalan seimbang. Percuma jika incem perkapita kita bagus tapi inflasi masih tinggi. Dan menurut saya, apa yang sudah dilakukan BI dengan memelopori masyarakat memasak menggunakan cabai kering itu sebuah tindakan yang luar biasa dalam upaya pengendalian inflasi di daerah," terang Ansar lagi. Termasuk Ansar juga memuji pihak BI yang dengan gencar mendukung program digitalisasi di daerah.
Dalam kesempatan ini seluruh peserta Rakor mendengarkan laporan yang disampaikan oleh kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri Darwis Sitorus terkait pertumbuhan ekonomi Kepri, dimana secara makro pertumbuhan ekonomi Kepri masih dalam koridor yang baik dalam pertumbuhannya, meski ada dalam beberapa hal menurun.
"Berdasarkan indikator makro, Kepri memberikan angka terbaik secara nasional berada dibawah DKI Jakarta. Bahkan di Sumatera tertinggi," kata Darwis.
Hal Senada juga disampaikan oleh Kepala BI Kepri Suryono. Bahkan Suryono mengklaim kinerja Pemprov Kepri bersama Forkopimda dan Bank Indonesia perwakilan Kepri sangat baik. Inflasi di Kepri pada bulan Juli ini terendah secara Nasional dan hal ini berlangsung selama 3 bulan berturut-turut yakni Mei, Juni dan Juli.
"Kepulauan Riau pertumbuhan ekonominya tinggi, tapi inflasinya rendah. Ini sangat luar biasa dan ini tidak ada teorinya. Mungkin ini karena teori shalawat busyro yang selalu dikumandangkan oleh Gubernur," ujar Suryono ditengah rapat.
Adapun dalam hal penekanan kasus stunting, Kepri juga tercatat sangat baik. Hal ini seperti yang disampaikan oleh kepala BKKBN Kepri Rohina saat rapat. Angka stunting di Kepri dilaporkan pada tahun 2022 sebanyak 4.334 dan setelah di validasi tercatat menjadi hanya tinggal 2.893. Hingga juni 2023 ini kasus penambahan stunting di Kepri hanya terjadi di Anambas 2 kasus, Batam 11 kasus, Bintan 4 kasus, Karimun 3 kasus.
Dan terakhir, terkait perkembangan kasus bencana di Kepri berdasarkan laporan Kepala BPBD Kepri M Hasbi, berdasarkan kajian resiko bencana dari tahun 2022 hingga 2026 ada 10 potensi bencana seperti banjir, covid, kebakaran hutan, cuaca ekstrim, tanah longsor, kebakaran hutan dan kebakaran lahan. Adapun ada 6 potensi besar terjadi di Kepri seperti banjir, cuaca ekstrim, kekeringan, longsor, kebakaran hutan dan lahan. Dan selama tahun 2023 ini tercatat sebanyak 275 kejadian.
"Yang perlu kita antisipasi saat ini elnino, yakni pemanasan suhu muka laut yang menyebabkan kekeringan, mengurangi curah hujan. namun khusus untuk Kepri, elnino ini belum begitu menghawatirkan," kata Hasbi.

Berita Lainnya
Bawa Mendali diajang Internasional, 2 Atlit MMA Tanjungpinang Belum Dapat Perhatian Pemerintah
Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Langkah Presiden Prabowo Putus Rantai Kemiskinan
Bupati HM Wardan Tinjau dan Salurkan Bantuan kepada Korban Kebakaran di Mandah
3 Orang PDP Positif Covid-19 di Kabupaten Bengkalis Dinyatakan Sembuh
SK Gubernur Riau: Yafiz Resmi Pimpin Panitia Seleksi Jabatan Eselon II
Santer Beredar, Kadiskes Pekanbaru Dikabarkan Mengundurkan Diri dari Jabatan
Bupati Bengkalis Buka Turnamen Futsal Kapolres CUP III
60 Napi Lapas Narkotika Tanjungpinang Ikuti Pelatihan Peternakan dan Pembuatan Pupuk Organik
Sambut HUT ke-80 Republik Indonesia, Persiapan Pemkab Bengkalis Kian Matang Haliyun Naim Haliyun Naim Sambut HUT ke-80 Republik Indonesia, Persiapan Pemkab Bengkalis Kian Matang facebook sharing button twitter sharing button whatsapp sharing button telegr
Langkah Cepat Gubri dan DPR-RI: Pemerataan Listrik Jadi Prioritas Utama di Riau
Polri dan PGRI Lampura Teken MoU Penanganan dan Pengamanan Profesi Guru
Pemkab Inhil Dukung Operasi Zebra, Kapolres Ajak Tingkatkan Budaya Tertib Lalin