L.N. Firdaus, Penulis Otobiografi “Dalam Dekap Cahaya: Story of My Life”
Kursi Menimbang Marwah
Bismillah,
Dalam budaya Melayu, “kursi” itu bukan sekadar tempat duduk. Ia simbol amanah, kuasa, dan harga diri. Kursi itu bisa menaikkan derajat seseorang tapi juga bisa menjatuhkannya.
Ada orang duduk di kursi kecil, tapi karena adab dan ilmunya tinggi, orang segan melihat. Ada pula yang kursinya tinggi, tapi karena budi dan akalnya pendek, orang malas menyapa. Kata pepatah: “Tinggi kursi tak menjamin tinggi marwah, yang menjunjung marwah ialah adab dan ilmu.”
Pernah pula hamba tengok pejabat yang duduk di kursi empuk, tapi wajahnya tetap tunduk. Ia tak bersuara tinggi. Tak menatap dengan congkak. Tapi setiap katanya menyejukkan.
Kursinya kuat karena marwahnya kokoh. Namun ada pula yang begitu duduk, langsung lupa di mana tanah dipijak. Kursinya baru dan hangat, tapi suaranya sudah tinggi. Marwahnya hilang entah ke mana. Yang tinggal hanya bayang-bayang jabatan. Orang Melayu menyindir perkara begini dengan halus: “Baru duduk di kursi, sudah tak nampak lantai.”
Padahal sejatinya, kursi itu ujian, bukan kemuliaan. Ia bisa menegakkan marwah kalau diduduki dengan adab. Namun juga bisa menelanjangi aib kalau diduduki dengan pongah.
Maka, wahai Tuan/Puan, kalau suatu hari kita diamanahkan duduk di kursi apa pun, tak perduli kursi besar atau kecil, ingatlah dua perkara:
Pertama, kursi itu pinjaman. Bukan Hak Milik. Kedua, marwah itu warisan. Jangan gadaikan untuk gengsi sesaat.
Biarlah kursi itu berubah, berpindah, dan berganti. Asal marwah tetap tegak berdiri.
Karena dalam pandangan orang Melayu, lebih baik berdiri dengan marwah daripada duduk tanpa adab.
Dan kursi paling indah bukan yang di ruang kerja, tapi kursi di hati orang lain — tempat kita dikenang dengan hormat, bukan sekadar diingat karena jabatan.***

Berita Lainnya
Pena di balik Jabatan
Panen Lebih Cepat, Herry Rasakan Manfaat Pupuk FABA untuk Pepaya California
Apakah Oknum DPRD Dapat Mengelola Program MBG/ PGN?
Kondisi Memburuk, Tahanan Rutan I Medan Dirujuk Emergency hingga Dinyatakan Meninggal
Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Mengurai Kisruh Pinjaman Inhil: Kolaborasi Lebih Penting daripada Polemik
Integritas KPK di Penangkapan Gubernur Riau, Abdul Wahid
Tata Pasar Diperketat, DPRD Inhil Apresiasi DKUPP Dongkrak Retribusi hingga 215 Persen
Monyet Menggugat Manusia! Opini yang Mengajak Kita Berkaca Sebelum Terlambat
Senang vs Tenang : Dilema Hidup Manusia Modern
Celoteh Bang Bual : Dulu Teriak Petani Sejahtera, Kini Petani Kelapa Merana
Dulu Kaya dari Kelapa, Kini Petani Menjerit: Siapa yang Menikmati ''Telur Emas'' Inhil?