Keluarga Cemas, Wanita Asal Siak Tiba-tiba Kritis di Kamboja Setelah Pamit Kerja ke Malaysia
BUALBUAL.com - Seorang perempuan muda berinisial SS (22), warga Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, diduga menjadi korban penipuan kerja ke luar negeri. Saat ini korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis di Phnom Penh, Kamboja, setelah sebelumnya berpamitan kepada keluarga untuk bekerja di Malaysia.
Peristiwa ini bermula pada 12 Desember 2025, ketika SS memutuskan merantau ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Berdasarkan keterangan keluarga, korban awalnya merasa tenang karena dijanjikan akan ditemani oleh seorang rekan berinisial BS.
Namun pada Januari 2026, keluarga mulai cemas setelah SS mengabarkan melalui komunikasi singkat bahwa dirinya tidak berada di Malaysia, melainkan di Phnom Penh, Kamboja. Hingga kini keluarga tidak mengetahui secara pasti bagaimana korban bisa berada di negara tersebut.
Kondisi kesehatan SS kemudian dilaporkan memburuk hingga ia mengalami kelumpuhan dan tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Saat ini korban menjalani perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Khmer Soviet Friendship, Phnom Penh.
Kepala BP3MI Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI Phnom Penh untuk memastikan kondisi korban tetap terpantau dan mendapatkan penanganan medis yang diperlukan.
“Kami terus berkoordinasi dengan KBRI Phnom Penh untuk memastikan kondisi Sdri. SS termonitor dan mendapatkan penanganan medis yang diperlukan,” ujar Fanny, Kamis (5/3/2026).
Berdasarkan informasi terbaru, selama menjalani perawatan di ICU, SS didampingi oleh kekasihnya yang berinisial BS. Pihak KBRI juga telah menjenguk korban dan bertemu langsung dengan keluarga di rumah sakit.
Selain itu, tim BP3MI Riau juga telah melakukan kunjungan ke rumah keluarga korban di Kabupaten Siak untuk menyampaikan perkembangan kondisi korban serta menjelaskan langkah-langkah yang tengah ditempuh pemerintah melalui KP2MI/BP3MI dan perwakilan RI di luar negeri.
Fanny menegaskan pemerintah tidak tinggal diam dalam menangani persoalan pekerja migran nonprosedural. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja ilegal ke luar negeri.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk tidak berangkat bekerja ke luar negeri secara ilegal. Gunakan jalur resmi agar hak dan perlindungan bisa dijamin oleh negara,” tegasnya.
Di tengah kondisi kritis korban, persoalan biaya pengobatan juga menjadi beban bagi keluarga. Sebagian biaya perawatan telah dibayarkan, namun masih terdapat sisa tagihan sekitar 1.000 dolar Amerika Serikat yang belum terselesaikan.
Sebelumnya, SS juga sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Cho Ray, Vietnam, namun keluar dari rumah sakit tersebut pada 5 Februari 2026 atas permintaan sendiri.***

Berita Lainnya
Asep Bentar: Sudah Seharusnya Wakil Rakyat Maupun Pemerintahan Lebih Memperhatikan Rakyatnya
Satu Unit Rumah Warga di Blambangan Umpu Hangus Dilalap Si Jago Merah
Zuhardi Siap Jual Ginjal untuk Mengetuk Hati Pemangku Negeri
Anggota DPR-RI Berikan Indentitas Pribadi Untuk Jaminan Penangguhan Tahanan Kades Seberida
Misteri Bau Menyengat di Dumai Terungkap, Pertamina Pastikan Bukan dari Operasional Kilang
Dua Orang Tewas di Tempat, Tabrakan Maut di Duri Bengkalis
Begini Penjelasan Lurah Tagaraja, Terkait Keluhan Warga yang Tidak Terdata Bantuan Pemerintah
Sadis! Rusa Penangkaran di Bawah Jembatan TASL Siak Dijagal Pencuri, Dua Ekor Mati
Diduga Sebabkan Anaknya Meninggal Dunia, Orang Tua Dyo Kecewa Dengan dr Tira
BNNP Riau Amankan Pengirim 6.594 Butir Ekstasi Lewat Jasa Ekspedisi
Pasca Meninggalnya Bocah 6 Tahun, Ketua IWO Riau Minta Pihak Terkait Periksa Standar Operasional Keselamatan di Wisata Kampar Inhil
Cek Fakta Informasi Video Perampokan Kapal di Guntung